Kabar5News – Presiden Prabowo pada Minggu, 18 Januari 2026 bertolak ke Inggris dan Swiss untuk menghadiri pertemuan strategis, yang merupakan bagian dari upaya penguatan kerjasama bilateral di berbagai bidang.
Sejarah diplomasi Indonesia dengan Inggris mencatat satu momen krusial pada pertengahan dekade 70-an. Tepatnya pada Maret 1974, ketika Ratu Elizabeth II melakukan kunjungan kenegaraan pertamanya ke Indonesia. Kunjungan itu tidak sekadar seremoni kerajaan biasa, melainkan sebuah simbol dari mencairnya hubungan antara Jakarta dan London yang sempat membeku di era sebelumnya.
Di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto, Indonesia sedang giat-giatnya membangun citra baru di mata internasional. Setelah bertahun-tahun menjalani masa “Konfrontasi” dengan Malaysia yang didukung Inggris pada era Presiden Soekarno.
Kedatangan Ratu Elizabeth II tersebut didampingi oleh Pangeran Philip, disambut dengan kemegahan luar biasa. Presiden Soeharto dan Ibu Tien menyambut langsung sang penguasa Britania Raya tersebut dengan upacara kenegaraan di Istana Merdeka.
Kunjungan ini berlangsung selama kurang lebih satu minggu. Tidak hanya melaksanakan di protokoler ibu kota Jakarta, Ratu Elizabeth II juga menjelajahi kekayaan budaya Indonesia yakni di Yogyakarta dan Bali.
Di Yogyakarta, Ratu elizabeth II mengunjungi Keraton Yogyakarta dan disambut oleh Sultan Hamengkubuwono IX. Di sini, sang Ratu terpukau oleh keanggunan tari-tarian tradisional dan kemegahan Candi Borobudur yang saat itu sedang dalam proses restorasi besar-besaran.
Kemudian berlanjut ke Bali, Ratu Elizabeth II mengakhiri perjalanannya dengan menikmati eksotisme Pulau Dewata, menegaskan posisi Indonesia sebagai destinasi wisata dunia yang ramah bagi tamu mancanegara.
Secara politis, kehadiran Ratu Elizabeth II menandai berakhirnya isolasi diplomatik Indonesia dari blok Barat. Bagi Inggris, ini adalah upaya untuk mengamankan kepentingan ekonomi dan investasi di wilayah yang kaya sumber daya alam. Bagi Presiden Soeharto, ini adalah bukti bahwa Indonesia telah “kembali” ke pergaulan internasional dan meninggalkan kebijakan konfrontatif masa lalu.
Hubungan yang tadinya renggang akibat sengketa wilayah dan ideologi, perlahan digantikan dengan kerjasama teknik, pendidikan, dan perdagangan yang berlangsung hingga puluhan tahun berikutnya.












