Kisah dalam artikel ini adalah kisah nyata, berdasarkan pengalaman pribadi penulis
Kabar5News – Waktu sudah menunjukkan hampir pukul 22.00 WIB. Ruangan auditorium Kampus C Universitas Jayabaya terasa makin dingin.
Disana masih ramai puluhan mahasiswa, lengkap dengan jaket almamaternya.
Mereka adalah para pimpinan organisasi mahasiswa tingkat fakultas dan akademi-akademi Universitas Jayabaya yang jadi peserta kongres mahasiswa Universitas Jayabaya.
Beranjak malam, sebagian lampu di ruangan tersebut sudah dipadamkan, sebagai tanda aktivitas segera harus disudahi.
Namun kegiatan belum selesai. Kongres masih berlangsung, meski kini sedang diskors 30 menit untuk sekadar merenggangkan otot dan otak.
Sebagian dari peserta kongres ada yang duduk bergerombol di sudut ruangan sambil membicarakan isu yang tengah dibahas dalam kongres.
Sebagian lainnya ada yang duduk di luar ruangan, dengan sebatang rokok terselip di antara jari telunjuk dan jari tengah dan secangkir kopi hitam di dekatnya.
Ada pula yang tetap berada di dalam auditorium, duduk menyendiri sambil merebahkan kepalanya di meja dan memejamkan mata.
Wajah lelah lekat pada aktivis mahasiswa tersebut. Maklum, mereka sudah empat hari mengikuti kongres mahasiswa.
Sebenarnya kongres dijadwalkan berlangsung selama tiga hari dua malam, di sebuah resort di kawasan Puncak, Bogor.
Daerah dingin sengaja dipilih untuk mengimbangi panasnya kongres yang penuh dengan perdebatan dalam setiap pembahasan isu seputar kemahasiswaan dan kampus.
Perdebatan itu sangat melelahkan, karena bisa berlangsung sepanjang hari, hingga larut malam, bahkan sampai mendekati subuh.

Dan kali ini kongres terpaksa diperpanjang satu hari di dalam kampus, karena agenda utama belum tuntas, yakni memilih Presiden dan Wakil Presiden Mahasiswa yang baru, serta memilih anggota presidium Lembaga Legislatif Mahasiswa (Legima).
Tak ada waktu lagi. Malam ini semua pimpinan organisasi mahasiswa tingkat universitas itu harus terpilih.
Proses lobi-lobi sebenarnya sudah terjadi sejak hari pertama kongres dilaksanakan. Bahkan beberapa nama calon presiden dan wakil presiden, sudah muncul jauh-jauh hari sebelum kongres.
Sejak itu pula proses politik berjalan. Masing-masing calon yang memiliki ambisi untuk menduduki posisi tersebut, mulai menggalang dukungan ke sejumlah fakultas dan akademi.
Mirip safari politik pasangan capres dan cawapres yang hendak bertarung di pemilihan presiden.
Sementara untuk anggota presidium Legima, prosesnya berbeda. Mereka dalah orang-orang yang diusulkan dari fakultas masing-masing, sebagai perwakilan di tingkat universitas.
Dan malam itu, dari desas-desus yang berkembang, saya adalah salah satu orang yang akan dicalonkan menjadi anggota presidium Legima.
“Sidang paripurna kongres mahasiswa Universitas dan Akademi-akademi mahasiswa kembali dibuka,” ujar pimpinan sidang sambil mengetukkan palu sidang sebanyak tiga kali.
Tanpa banyak basa basi, pimpinan sidang langsung masuk ke agenda utama yakni memilih presiden, wakil presiden mahasiswa serta anggota presidium Legima.
Proses pemilihan presiden dan wakil presiden mahasiswa dilakukan lewat proses voting, karena ada beberapa nama calon yang muncul
Setelah voting dilakukan, pemenangnya adalah Raden Catur dan Andianto. Dua orang itu dinilai sebagai sosok yang representatif dan bisa mewakili semua fakultas dan akademi di Jayabaya.
“Presiden dan wakil presiden Universitas Jayabaya yang baru, saudara Raden Catur dan wakilnya, Andianto, semua setuju?” tanya pimpinan sidang.
“Setujuuuuuu…” jawab peserta kongres.

Pimpinan sidang melanjutkan agenda berikutnya, yakni memilih anggota presidium Legima.
Berbeda dengan presiden dan wakil presiden, memilih anggota presidium Legima sedikit lebih rumit.
Pasalnya, sejak awal belum ada kepastian, siapa yang akan maju sebagai anggota presidium, mewakili fakultas dan akademinya.
Tak seperti presiden dan wakil presiden mahasiswa, menjadi anggota presidium Legima nampaknya bukan jabatan yang ‘seksi’.
Posisi sebagai anggota presidium Legima kurang banyak diincar. Bahkan sejumlah mahasiswa yang diusulkan fakultasnya, menyatakan menolak.
Padahal posisi tersebut sangat penting, sebagai pengawas kinerja eksekutif mahasiswa dan juga sebagai perumus usulan peraturan di tingkah kemahasiswaan.
Alhasil, proses pemilihan anggota presidium malam itu berlangsung alot. Proses lobi-lobi kembali dilakukan, padahal waktu sudah semakin larut.
Saya yang ketika itu menjabat sebagai Ketua Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM) Fakultas Hukum Universitas Jayabaya, turut dicalonkan.
Banyak melobi saya untuk menerima posisi itu. Tak hanya teman-teman dari fakultas hukum, peserta kongres dari fakultas lain juga melakukan hal yang sama.
“Ayo dong Rio, biar fakultas hukum ada perwakilannya di Legima,” tutur teman sefakultas saya.
“Kita sama-sama bangun kampus lewat Legima,” sambung kawan lain dari fakultas yang berbeda.

Saat itu, jujur saya tidak terpikir untuk menjadi anggota presidium Legima. Jabatan sebagai Ketua BPM di tingkat fakultas bagi saya sudah cukup.
Lagi pula, semua program kerja saya di BPM belum terlaksana. Jika juga menjabat sebagai presidium Legima, saya khawatir program kerja saya akan terbengkalai.
“Gak bisa, gue kan ketua BPM di Fakultas Hukum, masa jadi presidium Legima juga,” kata saya berusaha berkilah.
“Gak apa-apa, rangkap jabatan dibolehkan kok, nanti biar Rozy yang backup lu di BPM,” ujar teman saya dan di-iya-kan dengan beberapa teman lainnya.
Lobi-lobi makin kencang. Semua mendorong saya untuk mengambil posisi itu. Sementara saya masih berat menerimanya.
“Gue masih mau membangun fakultas gue dulu,” demikian hati kecil saya berkata.
Desakan dan dukungan seakan tak terbendung. Namun hati saya tetap bergeming. Dalam kondisi yang krusial itu, saya teringat dengan seseorang.
Satu nama yang muncul dalam benak saya kala itu adalah Taufan Hunneman. Dia adalah senior saya di Fakultas Hukum Universitas Jayabaya. Secara akademik, dia tiga tahun lebih tua dari saya.
Sosoknya merupakan gambaran aktivis mahasiswa sejati yang telah makan asam garam dalam dunia gerakan selama bertahun-tahun.
Namanya juga tercatat sebagai salah satu pentolan mahasiswa dalam peristiwa Reformasi 1998. Tak ada yang tak mengenalnya.
Semua aktivis mahasiswa di Jakarta, bahkan di Indonesia, pasti mengenal Taufan Hunneman.
Saya beruntung bisa mengenal Taufan sejak semester dua. Sosoknya menyenangkan dan suka bercanda. Kalau nongkrong dengan dia, pasti kita dibuat tertawa.
Namun, di sisi lain, Taufan adalah sosok yang cerdas. Maklum, ia banyak membaca buku dan sudah kenyang berorganisasi.
Pengetahuannya luas. Sebut saja filsafat, politik, ekonomi, sastra, apapun bisa ia jabarkan dengan cermat dan jitu.
Taufan pula yang mendorong saya untuk banyak membaca buku dan aktif berorganisasi.
Menurutnya, membaca buku akan menumbuhkan sikap kritis, sementara berorganisasi adalah wadah untuk mengimplementasikan sikap kritis tersebut, sekaligus mengasah jiwa kepemimpinan.
Bisa dibilang, kedekatan saya dengannya bukan hanya sekadar teman, tapi juga guru, mentor, sekaligus sahabat.
Karena itulah cuma nama Taufan Hunneman yang muncul dalam pikiran saya, di tengah desakkan dan lobi-lobi untuk menjadi anggota presidium Legima.
“Gua mau nelepon seseorang dulu,” ujar saya pada teman-teman yang mengerubungi saya.
“Siapa?” tanya salah satu teman.
“Taufan Hunneman,” tegas saya.
Mendengar nama itu, mereka terkesima sekaligus terkejut. Mereka tak menyangka saya akan menelepon Taufan hanya untuk minta ‘restu’ menjadi anggota Legima.
Bahkan, salah satu teman menawarkan ponselnya untuk menelepon Taufan. Saya raih ponsel tersebut dan langsung menyambungkannya ke nomor Taufan.

“Fan ini gue Rio,” kata saya begitu telepon diangkat.
“Iya, kenapa yo,” ujar Taufan di ujung telepon.
“Fan, gue diminta untuk jadi anggota Legima,” balas saya.
“Oh bagus itu, ambil dong,” sahut Taufan dengan nada bersemangat.
“Tapi gue kan baru jadi Ketua BPM,” ujar saya
“Gak apa-apa, kontribusi lu akan lebih besar untuk Jayabaya kalo lu jadi presidium Legima, lu juga akan lebih berkembang disana,” tegasnya.
‘Wejangan’ dari Taufan saya terima dengan perasaan lega. Saya seperti mendapatkan suntikan energi baru darinya.
Alasan yang ia kemukakan kenapa saya harus menjadi anggota Legima, sangat masuk akan sekaligus masuk di hati.
Setelah berbincang beberapa waktu dengan Taufan, ponsel saya matikan dan saya kembalikan pada teman yang meminjamkan.
Saya tertunduk sejenak. Sementara teman-teman saya terdiam. Mereka menerka-nerka, apa hasil pembicaraan saya dengan Taufan.
Apa jawaban dari saya, apakah akan menerima jadi anggota Legima atau tetap menolaknya.
“Oke, gue mau jadi anggota Legima,” ujar saya singkat, disambut senyum yang merekah di wajah teman-teman saya.
Mereka senang sekaligus lega karena akhirnya saya yang mengambil posisi sebagai anggota presidium Legima, bukan orang lain.
Tak lama berselang kongres ditutup dengan pengukuhan presiden dan wakil presiden mahasiswa yang baru, serta 9 anggota presidium Legima.
=====
Artikel ini ditulis oleh Rio Rizalino. Ia merupakan alumni Fakultas Hukum Universitas Jayabaya angkatan 1999. Setelah lulus kuliah Rio tidak bekerja di bidang hukum, melainkan mengeluti profesi jurnalis selama lebih dari 20 tahun. Dan kini ia bekerja di salah satu BUMN.











