Kabar5News – Setiap awal tahun dalam kalender lunar, masyarakat Tionghoa di seluruh dunia merayakan Tahun Baru Imlek sebagai momen pergantian tahun yang penuh harapan dan doa.
Di Indonesia, perayaan Imlek identik dengan lampion merah, barongsai, angpao, serta tradisi berkumpul bersama keluarga. Namun di balik kemeriahannya saat ini, Imlek memiliki perjalanan sejarah panjang yang mencerminkan dinamika sosial, budaya, dan politik di Indonesia.
Asal-Usul Perayaan Imlek
Imlek berasal dari tradisi kuno di China yang telah berlangsung lebih dari 3.000 tahun. Tahun Baru Imlek didasarkan pada kalender lunar atau kalender bulan, yang menentukan awal tahun baru berdasarkan siklus bulan.
Dalam tradisi Tionghoa, Imlek bukan sekadar pergantian tahun, tetapi juga simbol pembaruan, harapan, dan keharmonisan.
Perayaan biasanya diawali dengan membersihkan rumah sebagai simbol membuang kesialan, dilanjutkan dengan makan malam keluarga, pemberian angpao, serta doa untuk keberuntungan di tahun yang baru. Perayaan ini ditutup dengan Cap Go Meh pada hari ke-15 sebagai penutup rangkaian Tahun Baru Imlek.
Seiring migrasi masyarakat Tionghoa ke berbagai wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia sejak abad ke-15, tradisi Imlek ikut dibawa dan menjadi bagian dari kehidupan budaya masyarakat setempat.
Perjalanan Imlek di Indonesia
Di Indonesia, Imlek telah dirayakan selama ratusan tahun oleh komunitas Tionghoa yang tersebar di berbagai daerah, seperti Batavia (Jakarta), Semarang, dan Surabaya. Pada masa awal, perayaan ini berlangsung terbuka dan menjadi bagian dari keragaman budaya di Nusantara.
Namun, situasi berubah pada masa pemerintahan Presiden Soeharto. Pada periode Orde Baru, berbagai ekspresi budaya Tionghoa, termasuk perayaan Imlek, dibatasi di ruang publik. Perayaan hanya boleh dilakukan secara tertutup di lingkungan keluarga atau tempat ibadah.
Perubahan besar terjadi setelah reformasi. Presiden Abdurrahman Wahid, yang dikenal sebagai Gus Dur, mencabut larangan terhadap ekspresi budaya Tionghoa pada tahun 2000. Kebijakan ini membuka ruang bagi masyarakat Tionghoa untuk merayakan Imlek secara terbuka.
Selanjutnya, pada masa Presiden Megawati Soekarnoputri, Imlek resmi ditetapkan sebagai hari libur nasional mulai tahun 2003. Keputusan ini menjadi tonggak penting dalam pengakuan Imlek sebagai bagian dari identitas budaya Indonesia.
Makna dan Relevansi di Era Modern
Saat ini, Imlek tidak hanya dirayakan oleh masyarakat Tionghoa, tetapi juga menjadi bagian dari perayaan budaya nasional di Indonesia. Perayaan barongsai, festival lampion, dan berbagai kegiatan budaya sering digelar di ruang publik dan menjadi daya tarik wisata.
Bagi generasi muda, Imlek menjadi momen untuk mempererat hubungan keluarga, menghormati tradisi, serta merefleksikan harapan baru. Tradisi seperti makan malam bersama keluarga dan berbagi angpao tetap dipertahankan sebagai simbol kebersamaan dan keberuntungan.
Media sosial juga turut memperluas makna perayaan Imlek. Ucapan selamat, foto keluarga, dan konten budaya dibagikan secara luas, memperkuat nilai kebersamaan dalam masyarakat yang semakin modern.
Tradisi yang Terus Dilestarikan
Beberapa tradisi yang masih dilakukan hingga kini antara lain:
- Â Berkumpul bersama keluarga dalam makan malam Imlek
- Membersihkan dan menghias rumah dengan ornamen merah
- Memberikan angpao sebagai simbol doa dan keberuntungan
- Menyaksikan pertunjukan barongsai dan festival budaya
- Berdoa untuk kesehatan, rezeki, dan kebahagiaan di tahun baru
Perjalanan panjang Imlek di Indonesia menunjukkan bahwa tradisi budaya dapat bertahan dan berkembang seiring waktu. Dari masa pembatasan hingga menjadi hari libur nasional, Imlek kini menjadi simbol keberagaman, toleransi, dan kekayaan budaya Indonesia.












