Kabar5News – Banyak cara dalam mengatur keuangan, utamanya bagi orang yang telah berkeluarga dan memiliki penghasilan tetap.
Dengan penghasilan yang ada, kita dituntut untuk mengatur keuangan sebaik mungkin agar semua kebutuhan bisa terpenuhi.
Dan ketika hendak membelanjakan uang, tak jarang kita dihadapkan dalam sebuah pilihan, beli atau tidak.
Hal tersebut nampaknya sederhana, namun jika tidak melalui pertimbangan yang matang, bisa merusak perencanaan keuangan yang telah ditentukan.
Dalam konteks mengatur uang itulah, kini istilah frugal living kembali banyak diperbincangkan orang. Terlebih dalam kondisi ekonomi yang dinilai kurang baik.
Frugal living bisa menjadi pilihan bagi sebagian orang untuk menyiasati keuangan, baik secara pribadi maupun yang sudah berkeluarga.
Tak hanya sekadar cara mengatur uang, frugal living kini bahkan telah menjadi gaya hidup yang berkaitan dengan masalah ekonomi.
Apa itu frugal living?
Kementerian Keuangan (Kemenkeu RI) pernah mengulas frugal living melalui laman resminya. Dalam laman itu disebutkan, frugal living adalah konsep ketika seseorang mengalokasikan dana yang ia miliki dengan kesadaran, penuh pertimbangan dan strategi pencapaian tujuan keuangan di masa depan.
Sumber lain, yakni Sychrony Bank menulis, jika seseorang menerapkan gaya hidup frugal living, makai a tengah melakukan pendekatan terhadap pengeluaran dengan cara yang berbeda.
Mengacu pada definisi di atas, muncul anggapan dari sebagian orang kalau frugal living sama dengan sikap pelit.
Anggapan tersebut bisa jadi muncul karena penganut frugal living nampaknya memiliki banyak pertimbangan ketika hendak mengeluarkan uang.
Benarkah frugal living sama dengan pelit? Berikut beberapa perbedaannya.
1. Mempertimbangkan kualitas dan harga
Ketika ingin membeli barang, penganut frugal living tak hanya mempertimbangkan harga, tetapi juga nilai dan kualitas barang tersebut.
Jika menurutnya nilai barang sepadan dengan harganya, pelaku frugal living akan membelinya dan menggunakannya semaksimal mungkin agar bisa tahan lama.
Hal tersebut berbeda dengan orang pelit yang cenderung membeli barang dengan harga semurah mungkin, bahkan gratis, tanpa memerhatikan kualitasnya.
2. Mempertimbangkan pengeluaran uang
Ketika akan mengeluarkan uang, penganut frugal living tidak mempermaslahkannya, selama uang tersebut digunakan untuk barang yang benar-benar ia butuhkan.
Hal ini berbeda dengan orang pelit yang cenderung tak ingin mengeluarkan uang sepeserpun, meskipun untuk mendapatkan barang yang ia perlukan.
3. Mengeluarkan uang untuk berbagi
Terakhir, perbedaan antara frugal living dan pelit terlihat dari cara pandangnya mengenai berbagi, misalnya memberikan hadiah untuk orang terdekat.
Penganut frugal living akan membelikan barang berkualitas sesuai dengan budget, sebagai hadiah atau oleh-oleh.
Sementara orang pelit, menurut A Dime Saved, akan membeli barang yang mahal untuk diri sendiri, lalu membeli barang murah untuk orang lain.