Kabar5News – Sepintas membaca cerita yang disebutnya Prosa Sastra berjudul Di Bandung Cinta Bersemi karya Taufan Hunneman ini terkesan aneh.
Terutama dalam bentuk penuturan yang sepertinya menggabungkan antara cerita pendek dan puisi.
Namun keanehan ini yang justru kejelian Taufan dalam membaca tanda-tanda zaman ketika seseorang tidak memiliki waktu yang lebih untuk membaca tulisan-tulisan panjang.
Alur cerita dibikin padat tanpa mengorbankan irama penulisan yang dibiarkan mengalir lancar, sekaligus mengingatkan saya kepada puisi-puisi bergaya prosa Emily Dickinson, penyair Amerika Abad ke-19, dan tentu saja ini menjadi kekuatan Taufan Hunneman yang dalam beberapa tahun terakhir ini mulai intensitas menulis cerita pendek dengan gaya yang berbeda dengan cerita-cerita pendek pada umumnya.
Sebagai sebuah cerita fiksi berlatarbelakang sejarah, tentu saja Taufan Hunneman yang sejak bangku SMA sudah berkecimpung di dunia pergerakan dan sekarang sedang meniti karir di dunia profesional, memiliki pengetahuan yang mendalam tentang sejarah dan dunia pergerakan.
Oleh karenanya dia hafal nama-nama institusi di era penjajahan Jepang.
Pengetahuan ini memudahkan dirinya membangun narasi yang argumentatif dalam menghadapi berbagai pilihan hidup yang menjadi tantangan keluarga si Ragil, tokoh utama dalam cerita ini.
Secara garis besar cerita ini berkisah tentang Ragil yang menolak dinikahkan secara paksa oleh ayahnya. Apa lagi calon suaminya jauh lebih tua dibandingkan dirinya.
Mengingatkan kisah Siti Nurbaya dan Datuk Maranggi, atau Rara Mendut dan Tumenggung Wiraguna.
Namun seperti halnya Rara Mendut dalam Trilogi Novel Romo Mangunwijaya, Ragil dengan dukungan kakaknya yang jadi perwira TNI menolak tunduk dengan kehendak ayahnya yang dinilai feodal.
Singkat cerita Ragil mengikuti kakaknya ke Bandung. Di kota kembang itu Ragil menemukan jodohnya, seorang perwira TNI keturunan Belanda.
Saya tidak tahu apakah cerita ini dirancang sebagai puisi biografi keluarga penulisnya karena banyak kemiripan cerita sang penulis, Taufan Hunneman, dengan latar belakang keluarganya yang perwira TNI.
Namun sayang, ide cerita yang bagus ini dikemas secara bergegas dan tergesa-gesa. Kemungkinan karena penulisnya mesti membagi waktu dengan aktivitas sehari-harinya yang memang sibuk.
Oleh karenanya, saya menyebut prosa sastra ini sebagai sinopsis yang bersastra.
Pegangsaan, 4 Februari 2026
Penulis adalah aktivis era 1980an dan Sastrawan












