Kabar5News – Bagi orang awam, Indonesia mungkin hanyalah gugusan pulau hijau di khatulistiwa. Namun bagi para ilmuwan, negeri ini adalah teka-teki evolusi terbesar di dunia. Kunci untuk memecahkan teka-teki itu ditemukan lebih dari 150 tahun lalu oleh seorang pria Eropa yang nekat menjelajah rimba-rimba Nusantara demi mengumpulkan specimen fauna, dia adalah Alfred Russel Wallace.
Alfred Russel Wallace adalah seorang naturalis, penjelajah, dan pemikir hebat asal Inggris. Jika Charles Darwin terkenal dengan Galapagos-nya, maka Wallace adalah sosok yang jatuh hati pada Hindia Timur, sebutan Indonesia dahulu kala.
Antara tahun 1854 hingga 1862, ia menjelajahi hampir seluruh pelosok Indonesia, mulai dari Singapura hingga Papua.
Dalam catatannya yang fenomenal, The Malay Archipelago, Wallace menuliskan pengamatan yang mengubah cara manusia memandang persebaran makhluk hidup di bumi (biogeografi).
Misteri Selat Lombok
Titik balik penemuan Wallace terjadi saat ia menyeberang dari Bali ke Lombok. Jarak kedua pulau ini hanya sekitar 35 kilometer, namun Wallace mendapati perbedaan fauna yang sangat kontras:
• Di Bali, ia masih menemui burung-burung yang berkerabat dengan spesies di Asia daratan.
• Di Lombok, ia menemukan burung kakatua dan burung penghisap madu yang merupakan ciri khas wilayah Australia.
Hingga akhirnya secara intuitif, Wallace menarik sebuah garis imajiner yang kini kita kenal sebagai Garis Wallace. Garis ini membentang melewati Selat Makassar dan Selat Lombok, menandai batas antara dunia fauna Indomalayan (Barat) dan Australasian (Timur).
Wilayah di antara Garis Wallace dan Garis Lydekker (batas fauna Australia murni) disebut sebagai Wallacea. Kawasan ini mencakup:
• Sulawesi
• Maluku
• Nusa Tenggara
Apa yang membuat Wallacea begitu istimewa?, Jawabannya adalah endemisitas. Karena pulau-pulau di wilayah ini terisolasi oleh laut dalam dalam waktu yang sangat lama, hewan-hewan di sana berevolusi secara mandiri.
Inilah alasan mengapa kita memiliki hewan aneh seperti Anoa (kerbau kerdil), Babirusa, dan Komodo yang tidak bisa ditemukan di tempat lain di dunia.
Wallace sebenarnya menemukan teori seleksi alam secara independen saat ia sedang menggigil karena malaria di Ternate. Ia menulis surat kepada Charles Darwin mengenai pemikirannya tersebut. Surat dari Maluku itulah yang kemudian memacu Darwin untuk segera menerbitkan mahakaryanya, The Origin of Species.












