Sebuah prosa sastra karya Taufan Hunneman
Kabar5News – Zubaidah, atau akrab disapa Ida,
adalah seorang pegawai bank yang baru saja mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK).
Kemalangan hidup tidak berhenti sampai di situ.
Sejak ia berhenti bekerja, suaminya mulai temperamental.
Maklum, sebagai seorang satpam di sebuah mal di Jakarta,
jabatan Marwan tidak disertai gaji besar.
Dengan Ida berhenti bekerja, beban ekonomi seolah menumpuk pada Marwan,
lelaki yang dicintai Ida dengan tulus.
Cinta mereka berawal dari masa sekolah,
berlanjut hingga ke pelaminan.
Selisih usia dua tahun dianggap ideal oleh ibu Ida.
Rumah tangga ini dibangun di atas dasar agama yang cukup kuat.
Marwan dikenal taat beribadah,
dan Ida pun memahami arti syukur.
Mereka bekerja, berpacaran, lalu menikah.
Mereka berjanji untuk tetap memberi Ida kesempatan bekerja.
Meskipun gaji Ida lebih besar daripada Marwan,
ia selalu bijak sehingga ekonomi keluarga mulai tertata.
Kelahiran putri mereka menambah kebahagiaan.
Namun, PHK yang menimpa Ida menjadi pukulan berat.
Bagi Ida, peristiwa itu merupakan pertentangan soal harga diri dan amoralitas,
dan ia memilih untuk mempertahankan martabatnya.
Ida dikenal sebagai sosok yang menarik:
berwajah manis, berhidung mancung, berkulit cerah,
dan selalu tampil rapi di balik meja teller.
Rambutnya sering disanggul sederhana,
dan pakaian batik yang dikenakannya membuat penampilannya terlihat anggun.
Banyak yang tak mengira kalau ida telah memiliki anak.
Suatu hari terjadi mutasi pimpinan.
Kepala cabang Herman digantikan oleh Suwito.
Sebagai “rising star”, Suwito banyak naik jabatan berkat lobi tingkat tinggi.
Namun ia sadar posisinya rapuh dan bisa digantikan kapan saja.
Di tengah tekanan itu, Suwito mulai menunjukkan perhatian berlebihan kepada Ida.
Matanya sering menatap Ida dengan cara yang membuatnya tidak nyaman.
Ida berusaha menjaga jarak,
namun Suwito terus mencoba mendekatinya dengan berbagai alasan.
Hari demi hari, Ida menghadapi situasi sulit.
Suwito menggunakan kedudukannya untuk menekan Ida.
Suasana kantor yang seharusnya profesional berubah menjadi penuh ketegangan.
Delapan bulan kemudian,
puncak peristiwa terjadi ketika Suwito memanggil Ida ke ruangannya.
CCTV dimatikan, ruangan dibuat sepi.
Papan teller sengaja ditutup dan Wito berdiri di depan saat Ida menutup pintu.
Wito memulai aksinya. Ida Tenggelam dalam pelecehan yang tidak bisa ditoleransi.
Ida berusaha menolak, meronta, dan meminta pertolongan,
namun ancaman membuatnya semakin terpojok.
Air mata dan jeritan Ida tidak meluluhkan hati Suwito.
Ida sempat berontak, namun apa daya,
Wito lebih berkuasa dengan sebuah pisau lipat di tangannya.
“Diaammm.. Jangan sampai aku buat mukamu cacat!
Kau paham aku bisa memecatmu, sebab aku memiliki backing di pusat,” hardik Wito.
“Jangan pak…jangan pak, kasihani saya,
saya orang tak punya,” lirih Ida sambil meneteskan air mata.
Permintaan itu tak digubris. Wito makin garang,
seperti seekor rubah yang kehilangan akal.
Akhirnya Ida hanya bisa pasrah dengan semua perbuatan Wito.
Raungan tangisnya sama sekali tak dihiraukan,
malah dibalas dengan ancaman.
Peristiwa itu meninggalkan luka mendalam bagi Ida.
Ia bergegas ke kamar mandi, menangis.
Kabar mengenai peristiwa itu lantas santer di kantor.
Ada yang heran mendengarnya, ada pula yang tak percaya Ida melakukan itu.
Semua orang bertanya-tanya tanpa mengetahui kebenaran.
Namun tak satupun yang mengira kalau peristiwa itu merupakan rudapaksa.
Di mata orang lain, Suwito tampak religius dan berwibawa.
Tak seorang pun menduga bahwa di balik citra itu,
ia telah melakukan tindakan tercela terhadap Ida.
Hari setelah peristiwa kelam itu,
Ida tetap masuk kerja.
Namun kali ini ia tampil berbeda: tanpa rias wajah, lebih natural.
Ia ingin tetap bekerja, sebab masih berusaha membangun mimpinya.
Semua kejadian itu ia sembunyikan rapat-rapat dari suaminya.
Ida sadar bahwa rudapaksa tanpa perlindungan bisa berakibat kehamilan.
Ia segera memeriksa kontrasepsi yang digunakannya,
dan bersyukur masih aktif.
Di tengah musibah, Ida tetap berusaha mensyukuri hal kecil yang melindunginya.
Hari itu Ida bertekad untuk bersikap tegas.
Ketika dipanggil ke ruang kepala cabang,
Suwito kembali mencoba menekan Ida.
Ia ingin mengulang Kembali perlakuan di hari lalu, dengan kasar,
namun Ida menolak.
Penolakan itu membuat Suwito marah,
hingga Ida mengalami kekerasan fisik.
Ia ditampar berkali-kali oleh Wito.
Rambutnya dijambak, perutnya dipukul hingga ia tersungkur.
Di tengah kebuasan Wito, air mata ida mengalir, batinnya menjerit,
namun ia tetap berusaha bertahan.
Dalam hati Ida bertanya:
“Apakah salah aku terlahir dengan wajah yang menarik?
Apakah dosa menjadi perempuan yang berusaha merawat diri?”
Baginya, penampilan bukanlah objek untuk dieksploitasi,
melainkan bagian dari upaya menjaga diri demi suami yang ia cintai, Marwan.
Ida hancur.
Ia bergegas merapikan pakaian dan pergi ke kamar mandi,
membersihkan diri sambil menahan tangis.
Rekan-rekannya mulai curiga,
namun tetap mengira Ida hanya sedang menghadapi masalah pekerjaan.
Tak seorang pun menduga kebenaran yang ia sembunyikan.
Dua hari Ida tidak masuk kerja.
Ia kehilangan semangat,
tak sanggup menghadapi kenyataan bahwa atasannya menjadikannya sasaran pelecehan.
Suwito panik.
Ia mengirim pesan menanyakan alasan Ida tidak hadir,
“Kamu sakit? Kok gak izin? kan bisa izin ke saya,”
namun Ida memilih diam.
Keesokan harinya, Ida memberanikan diri kembali bekerja.
Ia teringat putrinya, Angarawati,
yang ia janjikan akan bersekolah di tempat terbaik.
Meski hanya berijazah SMA,
Ida pernah berhasil menembus program rekrutmen bank,
dan ia ingin tetap berjuang demi masa depan anaknya.
“Apakah aku harus kompromi??
tidak cintaku hanya kepada Marwan,
pacar pertamaku dan suamiku, tiada yang lain,” gumamnya dalam hati
Namun tekanan terus berulang.
Suwito kembali memanggil Ida,
dan mencoba mengulangi lagi peristiwa yang lalu.
Namun kali ini Ida melawan.
Dengan tusuk konde di tangannya,
ia berhasil melukai Suwito dan melepaskan diri.
Sepatu high heels Ida pun sempat mendarat di kepala Wito.
“Tolong.. tolong.. tolong..” Wito berteriak.
Keributan itu membuat satpam datang.
Ida dituduh mencelakai atasannya.
Ia lupa, seharusnya ia melukai Wito saat atasannya itu tak berpakaian.
Namun Ida tetap menghajar Wito, meski masih berpakaian lengkap,
sebab ia tak sudi melayaninya.
Wito berusaha membalikkan keadaan,
“Tangkap Ida, dia berusaha mencelakai aku,” uar Wito pada satpam.
Bagi Ida, peristiwa rudapaksa itu adalah aib
Karenanya ia memilih tetap menyimpan rapat-rapat.
Bahkan ketika ia diinterogasi, Ida tetap tak mengungkap asal mula penyebabnya.
Dengankeliciannya, Suwito berusaha menuntut,
namun akhirnya perdamaian terjadi.
Ida memutuskan tidak lagi bekerja di bank tersebut.
Tahun demi tahun berlalu.
Rumah tangga Ida mulai retak.
Marwan melihat Ida sebagai beban ekonomi.
Pertengkaran sering berujung pada kekerasan.
Rasa cinta Ida lalu berubah jadi benci,
Namun ia bertahan demi putrinya.
Ia mencoba berbagai pekerjaan:
menjadi asisten rumah tangga, sponsor TKI, hingga SPG.
Namun tak ada yang benar-benar membuatnya nyaman.
Pada tahun 2022, Ida bertemu sahabat lamanya sesama teller, Yanti.
Pertemuan itu membuka jalan baru.
Yanti menunjukkan cara bertahan hidup dengan menjadi pendamping tamu di tempat hiburan malam.
Awalnya Ida ragu,
namun tekanan hidup membuatnya mencoba.
“Sekarang kamu punya apa Yanti,” tanya Ida
“Aku punya mobil dan apartemen, aku juga punya tamu tetap, kadang-kadang ada pacar luar kota, bayarannya gede, ayolah ikut bersamaku,” bujuk Yanti.
Ida mulai goyah.
Ingatan akan perbuatan Marwan, perlahan menumbuhkan keyakinan dalam dirinya.
Ida mulai bekerja sebagai lady companion (LC)Â di karaoke.
namun ia tak memberitahu Marwan.
Padanya, Ida mengaku kerja shift malam di kantor sortiran paket.
Marwan percaya. Ia tak keberatan, asal mereka punya uang untuk menikmati hidup.
Ida bekerja dengan keras, penghasilannya meningkat,
dan ia tetap menyisihkan uang untuk pendidikan anaknya.
Ia tak tergoda dengan impian mengenai apartemen dan mobil.
Ida berusaha menjaga fokus:
tabungan untuk masa depan putrinya.
Suatu hari, Suwito datang bersama koleganya ke karaoke tempat Ida bekerja.
Wito kini telah menjadi direksi bank dengan gaji besar dan fasilitas mumpuni.
Bersama para koleganya, Wito membooking ruangan mintang lima,
dengan minuman puluhan juta dan tentunya LC yang premium.
Saat kontes, Wito kaget melihat ada Ida disana.
Perempuan idamannya dulu di bank, kini ada di jajaran LC tempat karaoke.
Tanpa pikir panjang, Wito langsung menunjuk Ida.
Pertemuan itu membuat Suwito kembali mendekati Ida.
Ida, yang sudah pasrah dengan keadaan,
memilih menjadikan pertemuan itu sebagai cara untuk bertahan hidup.
Di tengah alunan lagu, dalam ruangan temaram, Ida menemani Wito.
Dalam pengaruh alkohol, tangan Wito mulai nakal.
Ia lalu mengajak Ida untuk berhubungan badan.
Ida sempat berusaha menolak,
“Disini ada aturan kalau berhubungan dengan LC bisa kena ‘denda’ Rp5 juta,” ujar Ida
Namun Wito tak menghiraukannya. Ia tetap menginginkan Ida.
“Aku mau 10 juta untuk kamu dan 5 juta untuk charge tempat ini,” kata Wito dengan nada tinggi.
Melihat uang bertumpuk di hadapannya, tanpa ragu Ida menuruti kemauan Wito.
Namun ia berpesan satu hal pada Wito,
“Mas, aku masih punya suami, jadi gak bsa berhubungan di luar, kecuali di karaoke ini saja,”
“Tak apa-apa, aku bakal rajin kesini,”
Setelah itu, pertemuan Wito dan Ida makin sering. Dua kali seminggu Wito bisa menemui Ida.
Pemasukan karaoke pun meningkat.
Ia mendapatkan atensi dari pemilik karena membawa customer kelas kakap.
Suwito juga memberi Ida sejumlah uang besar, jumlahnya hingga miliaran rupiah.
Ida menabung demi pendidikan anaknya,
meski sadar jalan yang ditempuh penuh dilema moral.
Dalam doa malamnya, Ida berkata:
“Tuhan, hanya ini yang bisa kulakukan untuk anakku.
Jika ini dosa, biarlah aku yang menanggungnya,
asal ia bisa meraih cita-citanya.”
Wito makin tenggelam dalam bara asmara pada Ida.
Dan Ida konsisten hanya berhubungan di tempat karaoke.
Saking senangnya, Wito memberi mobil untuk Ida.
“Kenapa gak dari dulu kamu kerja disini?
Kalau saja begitu, kita tak perlu berkelahi,” ujar Wito diiringi tawa lepas.
Ida dan Wito mabuk bersama, tertawa,
tenggelam dalam aroma whiski dan anggur,
tanpa balutan busana.












