Kabar5News – Banjir yang melanda Aceh, Solok (Sumatera Barat), dan Tapanuli (Sumatera Utara) secara berulang merupakan konsekuensi dari interaksi kompleks antara faktor alam yang ekstrem dan faktor antropogenik (aktivitas manusia) yang merusak daya dukung lingkungan. Kerusakan kawasan hulu dan tata ruang di hilir menjadi titik kerentanan utama.
​1. Faktor Alam : Curah Hujan Ekstrem
Pemicu langsung hampir semua kejadian banjir di wilayah ini adalah curah hujan yang melampaui batas normal, sering kali mencapai kategori hujan lebat hingga sangat lebat (>50\text{mm} hingga >100\text{mm} per hari).
Curah Hujan : Data Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh mencatat adanya bulan-bulan dengan intensitas curah hujan yang sangat tinggi. Curah hujan yang tinggi secara berkelanjutan dalam beberapa hari akan meningkatkan debit air sungai secara drastis, menyebabkan luapan dan banjir.
Pengaruh Anomali Iklim : Dalam banjir besar, seperti yang terjadi baru-baru ini di Sumatera Utara dan Aceh, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sering kali menyebutkan adanya pengaruh dari Siklon Tropis atau Bibit Siklon, yang memicu intensitas hujan sangat tinggi dan berkepanjangan (Sumber: BNPB).
2. Faktor Antropogenik : Deforestasi di Kawasan Hulu
Kerusakan hutan di kawasan hulu, terutama di Pegunungan Bukit Barisan yang membentang di ketiga wilayah tersebut, telah menghilangkan fungsi alami hutan sebagai kawasan resapan dan penahan air, yang berujung pada peningkatan risiko banjir bandang.
Data Deforestasi :
Sumatera Utara (mencakup Tapanuli) : Berdasarkan laporan Global Forest Watch (GFW), Sumatera Utara kehilangan tutupan pohon sebesar 1.6 Mha dari tahun 2001 hingga 2024. Walaupun tidak semua kehilangan tutupan pohon diklasifikasikan sebagai illegal logging, deforestasi ini mengurangi kemampuan lahan untuk menyerap air dan mempercepat erosi.
​Aceh : Aceh juga mencatat kehilangan tutupan pohon yang signifikan, dengan total kehilangan sekitar 860 kha dari 2001 hingga 2024 (Sumber: GFW). Pada tahun 2024 saja, deforestasi di Aceh diperkirakan mencapai 11.208 hektar (Sumber: RRI mengutip KLHK). Kerusakan parah di kawasan ekosistem penting (seperti kawasan Leuser) akibat pembalakan liar (yang pernah menjadi penyebab utama Banjir Bandang Bahorok 2003 di dekat Tapanuli) memastikan air hujan langsung meluncur deras ke sungai.
Hilangnya tutupan hutan ini menghasilkan limpasan permukaan (surface runoff) yang tinggi, membawa serta material lumpur, batu, dan kayu gelondongan. Inilah yang mengubah banjir biasa menjadi banjir bandang yang merusak, seperti yang dialami di Tapanuli Utara dan Tapanuli Selatan.
​3. Faktor Penguat : Kerusakan Tata Ruang Sungai
​Faktor ini terutama memperparah luapan air di wilayah perkotaan dan dataran rendah seperti Kota Solok dan Langsa (Aceh).
Penyempitan dan Pendangkalan DAS : Studi hidraulis terhadap Sungai Batang Lembang di Kota Solok mengidentifikasi bahwa salah satu penyebab utama banjir tahunan adalah kemiringan sungai yang landai di hilir dan masalah pendangkalan serta meander sungai yang berat (Sumber: Universitas Andalas, 2004). Pembangunan di sepanjang sempadan sungai (rusaknya tata ruang) dan pembuangan limbah serta sedimen dari aktivitas di hulu menyebabkan sungai menjadi dangkal dan sempit.
​Kapasitas Tampung Menurun : Ketika terjadi hujan lebat, sungai yang sudah dangkal dan sempit, seperti Sungai Batang Lembang, tidak mampu menampung lonjakan debit air, sehingga air meluap dan merendam permukiman.












