Kabar5News – Child grooming merupakan bentuk kekerasan yang kerap tidak disadari karena prosesnya berlangsung bertahap dan terselubung. Pelaku biasanya memulai dengan perhatian, hadiah, dan kedekatan emosional sebelum akhirnya melakukan manipulasi serta eksploitasi.
Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN, Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka, mengingatkan bahwa praktik ini bukan insiden tunggal, melainkan proses sistematis yang “membangun rasa percaya sebelum akhirnya mengeksploitasi korban”.
Menurut Isyana dan Psikolog Arida Nuralita S.Psi., M.A., ada sejumlah langkah penting yang bisa dilakukan orang tua untuk memperkuat perlindungan anak.
1. Memahami Pengertian Child Grooming
Child grooming adalah proses manipulasi emosional yang dilakukan orang dewasa terhadap anak dengan tujuan eksploitasi. Pada tahap awal, pelaku kerap tampak sebagai sosok yang peduli dan penuh perhatian. Isyana menyinggung bahwa perhatian berlebih ini sering kali membuat tanda bahaya sulit dikenali karena terlihat wajar.
2. Mengenali Tahapan Grooming
Secara umum, grooming melalui lima tahap: penargetan anak, membangun kepercayaan, isolasi sosial, desensitisasi batasan seksual, hingga mempertahankan kontrol lewat ancaman atau rasa malu. Proses ini berjalan perlahan sehingga anak tidak sadar sedang dijauhkan dari pola relasi sehat di sekitarnya.
3. Waspadai Manipulasi dan Gaslighting
Psikolog Arida menjelaskan bahwa setelah kedekatan terbentuk, pelaku mulai memainkan kalimat manipulatif. Anak bisa dibuat merasa berutang secara emosional, seolah-olah “tidak bisa mengatakan tidak”. Dalam bahasa populer, pola ini kerap disebut gaslighting, korban dibuat merasa bersalah padahal tidak melakukan kesalahan.
4. Perkuat Kelekatan (Attachment) dengan Anak
Hubungan hangat dalam keluarga menjadi benteng utama. Isyana menekankan pentingnya menjaga relasi agar orang tua tetap relevan di mata anak. Ketika kelekatan kuat, anak lebih berani bercerita jika merasa tidak nyaman atau curiga terhadap seseorang.
5. Dampingi Aktivitas Digital Anak
Di era media sosial, grooming bisa muncul lewat catfishing, yakni pelaku menyamar sebagai ‘teman sebaya’. Relasi semu ini kadang berujung pada pemerasan berbasis konten pribadi. Pendampingan digital perlu dilakukan dengan pendekatan dialogis, bukan sekadar kontrol.
6. Edukasi Anak tentang Batasan dan Hak Tubuh
Anak perlu memahami bahwa mereka berhak menjaga tubuh dan privasinya. Mereka berhak menolak permintaan apa pun yang membuat tidak nyaman, sekalipun datang dari orang yang dikenal atau dipercaya keluarga.
7. Segera Cari Bantuan Profesional Jika Ada Tanda Bahaya
Perubahan perilaku seperti menarik diri, sulit tidur, kecemasan berlebih, atau ketakutan tanpa sebab jelas bisa menjadi sinyal. Arida mengingatkan bahwa dampak psikologis grooming dapat bertahan lama, bahkan lebih lama dari luka fisik, sehingga pendampingan profesional penting dilakukan sejak dini.
Ketujuh langkah ini menegaskan bahwa perlindungan anak bukan hanya soal pengawasan, tetapi juga penguatan relasi dan literasi keluarga. Dengan komunikasi terbuka, pemahaman yang tepat, serta kelekatan yang terjaga, anak-anak memiliki benteng yang lebih kokoh untuk menghadapi ancaman child grooming.












