Kabar5News – Panggung supremasi bulu tangkis beregu paling bergengsi di dunia, Thomas dan Uber Cup 2026, resmi bergulir di Forum Horsens, Denmark. Tim Thomas Indonesia mengawali langkah mereka dengan pesan yang sangat jelas kepada para pesaing; Garuda belum kehilangan taringnya!.
Dalam laga pembuka Grup D yang berlangsung Jumat malam (24/4/2026), Indonesia tampil tanpa celah saat melumat Aljazair dengan skor telak 5-0. Kemenangan sapu bersih ini menjadi modal krusial bagi Jonatan Christie dan kawan-kawan untuk menjaga kepercayaan diri sebelum menghadapi lawan-lawan yang lebih berat di fase grup.
Pesta Poin di Laga Perdana
Dominasi Indonesia dimulai oleh Jonatan Christie yang mengandaskan Adel Hamek dengan skor 21-8, 21-16. Estafet kemenangan dilanjutkan oleh tunggal muda Alwi Farhan yang menang meyakinkan atas M. Abderrahmie Belarbi. Kepastian poin kemenangan 3-0 dikunci oleh Anthony Sinisuka Ginting yang tampil dominan saat menghadapi M. Abdelaziz Ouchefoun.
Sektor ganda putra tak mau ketinggalan. Pasangan Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri menambah keunggulan menjadi 4-0, sebelum akhirnya debutan Raymond Indra/Nikolaus Joaquin menyempurnakan kemenangan Indonesia menjadi 5-0. Hasil ini menempatkan Indonesia di puncak klasemen sementara Grup D, mengungguli Thailand yang hanya menang 4-1 atas Prancis.
Kilas Balik Rivalitas Abadi
Bicara soal Thomas Cup bagi publik Indonesia tentu tak bisa dilepaskan dari memori persaingan panas dengan negara tetangga, Malaysia. Jika saat ini kita mengenal rivalitas ketat di lapangan, sejarah mencatat bahwa dekade 80-an hingga awal 90-an adalah salah satu periode paling ikonik dalam perseteruan kedua negara.
Pada era tersebut, Malaysia memiliki kekuatan yang sangat unik dan legendaris yakni Sidek Bersaudara. Keluarga Sidek, yang terdiri dari Misbun, Razif, Jalani, Rahman, dan Rashid, menjadi tulang punggung kekuatan Negeri Jiran yang seringkali membuat pemain-pemain Indonesia harus bekerja ekstra keras.
Momen paling menyakitkan sekaligus berkesan bagi sejarah bulu tangkis kita adalah Final Thomas Cup 1992 di Kuala Lumpur. Saat itu, Rashid Sidek tampil sebagai motor serangan Malaysia. Di partai puncak yang penuh tensi, Rashid berhasil mengalahkan andalan Indonesia, Ardy B. Wiranata. Kemenangan tersebut menjadi kunci bagi Malaysia untuk merebut Piala Thomas setelah menanti selama 25 tahun, meski ironisnya, itu menjadi gelar Thomas Cup terakhir yang bisa diraih Malaysia hingga saat ini.
Namun, Indonesia selalu punya jawaban melalui generasi emas seperti Hariyanto Arbi, Joko Suprianto, hingga pasangan legendaris Ricky/Rexy yang kemudian mengembalikan supremasi Thomas Cup ke pangkuan Ibu Pertiwi di tahun-tahun berikutnya.
Kini, di tahun 2026, semangat itu kembali membara di Denmark. Tim Uber Indonesia pun tengah bersiap memulai perjuangannya. Dengan komposisi skuad yang memadukan pemain senior berpengalaman dan talenta muda yang sedang naik daun, Indonesia tetap menjadi salah satu favorit juara.











