Kabar5News – Bagi warga Surakarta dan sekitarnya, RSUD Dr. Moewardi sudah tidak asing lagi. Rumah sakit ini merupakan pusat rujukan utama di Jawa Tengah bagian selatan. Namun, di balik besarnya rumah sakit itu dengan fasilitas medisnya, tercatat sejarah perjuangan seorang tokoh besar yang dedikasinya sangat tinggi.
Tokoh itu tak lain Dr. Moewardi sendiri. Ia merupakan simbol keberanian, intelektualitas, dan pengabdian tanpa batas bagi kemerdekaan Indonesia.
​Lahir di Pati, Jawa Tengah, pada tahun 1907, Moewardi tumbuh dalam lingkungan yang menghargai pendidikan. Ia berhasil menempuh pendidikan kedokteran di STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen) dan kemudian melanjutkan ke GHS (Geneeskundige Hoogeschool) di Batavia.
Sebagai spesialis Telinga, Hidung, dan Tenggorokan (THT), ia sebenarnya memiliki peluang untuk hidup mapan dan nyaman di bawah naungan pemerintah kolonial. Namun, nurani Moewardi berkata lain. Ia memilih menggunakan ilmu medisnya untuk membantu rakyat kecil yang saat itu kesulitan mendapatkan akses kesehatan.
Kepeduliannya tidak berhenti pada urusan medis, ia juga aktif dalam gerakan kepanduan dan organisasi pemuda. Ia merupakan sosok penting di balik Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI) dan terlibat aktif dalam peristiwa bersejarah Sumpah Pemuda 1928.
Panglima Barisan Pelopor
​Peran Dr. Moewardi mencapai puncaknya pada masa revolusi fisik. Ia dikenal sebagai sosok yang memimpin Barisan Pelopor di Jakarta, sebuah organisasi massa yang sangat loyal kepada Bung Karno. Dr. Moewardi adalah salah satu tokoh yang mendesak Proklamasi Kemerdekaan segera dikumandangkan dan berperan dalam pengamanan jalannya upacara 17 Agustus 1945 di Pegangsaan Timur.
Keteguhan prinsipnya membawa beliau ke Surakarta pada tahun 1946. Di kota ini, ia memimpin Gerakan Rakyat Revolusioner (GRR) dan terus mengobarkan semangat perlawanan terhadap upaya kembalinya Belanda.
Naas, di tengah pergolakan politik internal yang memanas di Solo pada tahun 1948, Dr. Moewardi diculik dan dinyatakan hilang. Penyebab utama penculikan ini adalah perseteruan tajam antara kelompok kiri dan kelompok nasionalis di Solo. Dr. Moewardi merupakan pemimpin Gerakan Rakyat Revolusioner (GRR), sebuah organisasi yang dibentuk untuk membendung pengaruh Front Demokrasi Rakyat (FDR) pimpinan Amir Sjarifuddin (yang berafiliasi dengan PKI).
Moewardi dikenal sangat vokal menentang kebijakan FDR/PKI yang dianggapnya merongrong kedaulatan pemerintah pusat. Sebagai sosok yang memimpin massa dalam jumlah besar melalui Barisan Banteng (perubahan nama dari Barisan Pelopor), beliau dianggap sebagai ancaman serius bagi agenda politik kelompok kiri saat itu.Hingga kini, jasadnya tidak pernah ditemukan.
​Warisan yang Diabadikan
​Sebagai bentuk penghargaan atas jasa-jasanya yang luar biasa, Pemerintah Indonesia menetapkan Dr. Moewardi sebagai Pahlawan Nasional melalui Keppres No. 064/TK/1964. Selain itu, namanya diabadikan menggantikan nama RSUD Jebres menjadi RSUD Dr. Moewardi Surakarta pada tahun 1988.
RSUD Dr. Moewardi kini seakan menjadi monumen hidup yang meneruskan cita-cita Dr Moewardi dalam memberikan pelayanan kesehatan terbaik bagi masyarakat tanpa memandang status sosial.










