Kabar5News – Potehi berasal dari kata pou 布 (kain), te 袋 (kantong) dan hi 戯 (wayang). Secara harafiah arti potehi: wayang berbentuk kantong kain.
Sebelum tahun 1965, wayang potehi sering tampil di berbagai kesempatan di Padang, salah satunya ketika Imlek, bertempat di halaman Kelenteng See Hin Kiong lama.
Biasanya, anak-anak Tionghoa di Padang dulunya suka bermain wayang-wayangan di rumah. Mereka mengambil serbet, ujungnya dipilin menyerupai kepala wayang dan sisa kainnya menyelimuti tangan, lalu mulai bermain-main, meniru penampilan wayang potehi.
Berdasarkan dokumen KITLV, Lembaga Studi Asia Tenggara dan Karibia Kerajaan Belanda, tahun 1891 wayang Potehi pernah tampil dipertunjukkan daerah Solok, Sumatera Barat.
Wayang Potehi dimainkan 2 orang, yaitu dalang (pembawa cerita) dan asisten dalang (mempersiapkan properti).
Pertunjukkan Wayang Potehi diiringi 3 musisi yang memainkan berbagai alat musik seperti Gembreng besar (Toa Loo), Rebab (Hian Na), Kayu (Pial Ko), Suling (Bien Siauw) Gembreng kecil (Siauw Loo), Gendang (Tong Ko), dan Selompret (Thua Jwee).
Satu musisi dapat memainkan dua hingga tiga alat musik secara bergantian.
Sebelum tahun 1965, Wayang Potehi sering tampil di berbagai kesempatan, salah satunya ketika Imlek, bertempat di Klenteng See Hin Kiong lama.
Naskah yang dibawa beragam mulai dari sejarah Tiongkok zaman Sam Khok, Dinasti Ching, Dinasti Tang, Dinasti Ming dan lainnya.
Anak – anak Tionghoa di Padang dulunya suka bermain wayang – wayangan di rumah. Mereka mengambil serbet ujungnya dipilih menyerupai kepala wayang dan sis kainnya menyelimuti tangan, lalu mulai bermain – main meniru penampilan Wayang Potehi.
Sejak Soeharto mengeluarkan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor. 14/1967 melarang budaya Tionghoa di ruang publik, sehingga Wayang Potehi tidak lagi ditampilkan di Padang.
Setelah Gusdur mencabut aturan Inpres Nomor. 14 tahun 1967 di tahun 2000. Wayang Potehi pernah sekali ditampilkan 2013. Saat itu ulang tahun Organisasi Hok Teng Tong (HTT) yang ke -150.
Tim wayang Potehi yang tampil di datangkan dari Kota Semarang. Hal itu karena Padang tidak lagi memiliki Tim Wayang Potehi hingga hari ini.