Kabar5news – Meskipun ada beberapa pihak yang menuntut agar Program Makan Siang Gratis atau MBG dihentikan, namun ada pihak lain yang mendukung agar program andalan Presiden Prabowo tetap dilanjutkan.
Permintaan agar Program MBG dilanjutkan datang dari aksi sejumlah ibu-ibu yang rela meninggalkan rumah dan anak-anak demi mendukung langkah Presiden Prabowo untuk mencerdaskan anak bangsa.
Aksi sejumlah ibu-ibu yang digelar di Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat pada Rabu, 17 Juni 2026 yang lalu, antara lain agar Program MBG tidak hentikan dan mendorong pemerintah melakukan perbaikan, baik dari sisi teknis maupun sistem.

Bagi mereka, MBG bukan sekedar program biasa, melainkan sebuah jalan untuk kemandirian ekonomi, salah satu caranya dengan pemanfaatkan bahan pangan lokal seperti ikan koro yang bisa dijadikan nugget, sosis, dan lainnya.
Dari segi sistem, ibu-ibu mendesak Presiden Prabowo mengusut tuntas dugaan praktik korupsi di lingkungan Badan Gizi Nasional atau BGN dalam hal ini sebagai penanggung jawab atas pelaksanaan program MBG.
Hal senada diungkap juga oleh Sopiah, Ibu dua anak yang sudah hampir setahun ini hidup bersama dua anak tanpa suami.
Sopiah (39 tahun), sudah hampir setahun ini bekerja di dapur MBG. Secara jujur, ia mengatakan agar MBG terus dilanjutkan.
Program yang baik dan bermanfaat bagi anak-anak Indonesia ini bukan dihentikan, melainkan di evaluasi dan diperbaiki.
Menurut penuturan Sopiah, banyak pekerja wanita yang memilih tetap bertahan dalam pekerjaannya karena merasakan manfaat yang nyata bagi kehidupan mereka.
Bagi mereka, MBG bukan sekedar pekerjaan, program ini sekaligus menjadi sumber penghidupan yang menghadirkan berkah bagi keluarganya.
Baik dari segi penghasilan, kebutuhan rumah tangga yang terpenuhi hingga anak-anak bisa terus sekolah. Sayangnya, kisah penuh perjuangan dan manfaat ini sering luput dari sorotan media.
Profil Sopiah, Karyawan MBG
Sopiah adalah ibu dua anak yang kini berusia 39 tahun. Ia tinggal di sekitaran Pasar Rebo, Jakarta Timur.
Ia bekerja sebagai petugas pencuci wadah di dapur MBG. Tugasnya memastikan seluruh peralatan dan wadah yang digunakan di dapur selalu bersih dan siap dipakai kembali.
Meski pekerjannya terlihat sederhana, peran tersebut penting untuk menjaga kebersihan dan kelancaran operasional dapur.
MBG, Jalan Rezeki dan Harapan
Di MBG, Sopiah bekerja bersama pekerja perempuan lainnya. Hubungan yang sudah terjalin selama delapan bulan terakhir ini seperti keluarga.
Bagi Sopiah, bekerja di MBG adalah sebuah berkah. Selain mendapatkan penghasilan untuk membantu kebutuhan keluarga, ia juga bertemu dengan teman-teman senasib serupa.
Sopiah sangat bersyukur memperoleh pekerjaan yang layak, ia juga kerap membawa pulang sisa bahan makanan yang masih baik dan layak dikonsumsi, seperti sayuran, buah-buahan, dan nasi.
Meski sisa, makanan tersebut menjadi tambahan yang sangat berarti bagi keluarganya di rumah, sekaligus mengurangi beban biaya masak di dapur.
Kejujuran Sopiah dari Balik Dapur MBG

Ketika dihubungi lewat ponsel, ia secara jujur mengatakan takut apabila program MBG dihentikan. Baginya, dapur MBG bukan sekedar tempat ia bekerja, akan tetapi sebagai wadah untuk menaikkan pendapatan keluarga dan membuatnya lebih mandiri secara ekonomi.
Berikut merupakan hasil wawancara dengan Sopiah pada Selasa, 25 Juni 2026, ibu dua anak yang menggantungkan nasib kedua anaknya dari MBG.
Melalui wawancara ini, ia juga menceritakan pengalaman, tantangan, serta upaya dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari dan membesarkan kedua anak di tengah keterbatasan yang ia hadapi
- Apa arti pekerjaan ini bagi ibu?
Sangat berarti. Saya single parent harus bertahan demi anak-anak.
- Penghasilan dari pekerjaan ini digunakan untuk apa saja?
Untuk biaya kehidupan sehari-hari dan bayar SPP anak-anak.
- Sebelum bekerja di MBG, apakah pernah bekerja di tempat lain?
Sebelum di MBG, saya berjualan aneka jajanan di teras depan rumah, tapi penghasilan tidak menentu.
- Mengapa akhirnya bekerja di MBG?
Di usia saya yang hampir menginjak kepala 4, sudah jarang ada perusahaan yang mau menerima, dan hanya di MBG saya diterima walaupun sudah berumur.
- Belakangan ada isu, program MBG potensi dihentikan, Apa yang pertama kali muncul di benak ibu mendengar hal itu?
Banyak isu tidak sedap tentang MBG membuat saya jadi sedih dan saya masih berharap MBG tetap ada dan berjalan lagi.
- Seberapa besar kekhawatiran ibu jika benar itu pekerjaan ini harus berakhir?
Kalau MBG benar-benar tidak diteruskan, saya benar-benar kecewa dan saya harus mencari pekerjaan apalagi.
- Jika MBG dihentikan, apa dampaknya terhadap kehidupan ibu dan anak-anak?
Rumah saya dan MBG dekat bisa jalan kaki, tidak perlu ongkos, upah lumayan dan gaji diterima perminggu. Anak-anak saya masih sekolah dan butuh biaya. Tak terbayang, sulitnya mereka tanpa saya punya penghasilan tetap.
- Apakah ibu memiliki pekerjaan lain, jika se waktu-waktu kehilangan pekerjaan ini?
Tidak ada. Hanya berjualan jajanan saja depan rumah.
- Apa yang ibu takutkan jika tidak lagi bekerja di dapur MBG?
Saya akan bingung setiap harinya cari uang untuk makan dan biaya anak-anak sekolah.
- Menurut ibu, seberapa besar manfaat program MBG bagi pekerja seperti ibu?
Besar sekali untuk melanjutkan hidup.
- Apa harapan ibu kepada pemerintah agar para pekerja MBG tetap memiliki kepastian bekerja?
Saya berharap MBG tetap ada. Jujur ada kebanggaan ketika anak-anak di sekolah bilang makasih ke dapur MBG tempat saya bekerja dengan mengatakan masakannya enak. Meski cape, bentuk terimakasih dari mereka sebagai penyemangat kami di dapur.
- Jika memiliki kesempatan menyampaikan pesan langsung kepada Presiden Prabowo, apa yang ingin ibu sampaikan mengenai nasib para pekerja MBG?
Bapak Presiden Prabowo Subianto, tolong tetap jalankan terus program MBG. Jangan dihentikan!! Perbaiki sistem jangan kasih celah untuk koruptor.
Dan tolong buka kembali MBG yang ada di rumah saya di Yonif 201, Pekayon – Pasar Rebo, Jakarta Timur. Tolong pak, saya mohon sudah kelamaan juga saya dirumahkan.












