Kabar5News – Pecinta ayam goreng renyah (fried chicken) sudah tidak asing dengan d’BestO yang merupakan restoran cepat saji lokal Indonesia, berslogan Jagonya Rasa!.
Resto tersebut menjadi salah satu pilihan makanan ekonomis favorit keluarga sejak tahun 1994 yang menawarkan kombinasi rasa lokal kuat menggunakan standar penyajian restoran modern.
Tersedia berbagai varian menu unggulan d’BestO yang menggugah selera seperti Ayam Sadas, Ayam Fried Chicken Original, Ayam Prekto dan Geffrek, Menu CLBK dan Mozzades, Burger Premium.
Bukan hanya varian menu lezat yang tersaji, resto tersebut kini mempunyai ratusan outlet tersebar di seluruh wilayah Nusantara seperti Jabodetabek, Jawa Barat, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, hingga Jawa Timur.
Di balik kejayaan d’BestO sebagai restoran cepat saji, terselip kisah inspiratif dari pendiri sekaligus owner drh. Evalinda Amir yang jatuh bangun dalam bisnis ini.
Bahkan, beberapa gerainya dulu sempat tutup, lalu menanggung utang Rp 50 juta.
Namun, bermodalkan 10 ayam pinjaman kini bisa berkembang pesat menguasai pangsa pasar lokal.
Lantas, seperti apa kisah inspiratif dari founder d’BestO drh. Evalinda Amir yang sempat terpuruk hingga sukses sebagai pebisnis kuliner? Simak ulasan singkatnya di sini.

Awal Mula Bisnis Kuliner Fried Chicken dengan Label KuFC
Bisnis tersebut berawal dari usaha gerobakan bernama KuFC pada 1994 sebelum akhirnya resmi transformasi merk menjadi d’BestO tahun 2010.
Ada liku-liku pahit yang harus dilalui oleh owner drh. Evalinda Amir.
Sebelum terjun dalam bisnis kuliner, ia menjalani profesi sebagai dokter hewan.
Namun, ada sesuatu hal yang mengganggunya sejak lama terkait kondisi ekonomi keluarganya tidak pernah mudah.
Kakaknya sebagai dokter honorer ikut menanggung biaya kuliahnya, karena sang ayah tidak sanggup lagi membiayai.
Dari sanalah akhirnya muncul satu tekad membara yaitu mengubah nasib keluarga dengan berbagai cara yang benar.
Hingga pada satu waktu, Eva memutuskan untuk mempelajari resep ayam goreng selama satu tahun penuh.
Setiap bertemu orang yang ahli memasak, ia selalu meminta masukan. Akhirnya pada tahun 1994, formula paling tepat telah ditemukan.
Keputusan mengejutkan diambil Eva yang seharusnya mengobati hewan, malah sebaliknya yakni menggorengnya (ayam).
Berkat kegigihannya, tahun 1997 omzet KuFC mampu menembus Rp5 juta dalam satu hari.
Nominal tersebut membuat suami resign dari kantor lalu fokus ekspansi.
Akan tetapi, ada satu kesalahan yang sudah tertanam secara diam-diam yakni setiap kali untung langsung diputar buka cabang baru, begitu seterusnya hingga lupa menyisihkan untuk dana darurat.
Sampai pada satu titik, bisnis tersebut mendadak bangkrut. Dari situlah awal mula kesulitan kehidupan owner yang sebenarnya.
Singkat cerita tahun 1998, Jakarta bergejolak, hampir semua gerai KuFC tutup dalam waktu singkat serta menanggung hutang Rp50 juta.
Karyawan yang tidak bisa digaji dipulangkan dengan diberi ongkos jalan saja.
“Tahun 1998 karena bangkrut, nggak bisa gaji. Tapi kami bilang, kami masih punya utang sama kamu gajimu, kami pulangkan karyawan hanya untuk ongkos saja,” ungkap owner saat ditemui awak media yang dikutip dari Instagram the.founders pada (25/6/2026).
Cara Owner Bangkit dari Keterpurukan Ekonomi
Gejolak saat itu membuat kondisi benar-benar sulit, tidak ada investor datang, tidak ada pinjaman bank, tidak ada jalan pintas.
Tetapi tidak membuat Evalinda makin terpuruk, justru bangkit memakai cara paling sederhana yakni berjualan kue basah yang dijajakan ke berbagai kedai makanan di seluruh pelosok Jakarta.
Lalu, ia juga meminjam 10 ekor ayam untuk dijual, dagangannya habis, dia pinjam lagi, jual lagi. Sehingga modal terkumpul, karyawan yang dulunya diberhentikan telah dipekerjakan lagi.
Ibaratnya, dari Rp50 juta minus, sang owner tidak menunggu keajaiban, dia berani mulai dari 10 ekor ayam pinjaman.
Ilmu yang Tidak Dimiliki Kompetitor Lain
Bisnis ayam goreng di Indonesia sempat terkena dampak serius karena wabah Flu Burung tahun 2005.
Lagi-lagi, Eva tidak panik justru tetap bertahan.
Ia menggunakan suatu hal istimewa yang tidak dimiliki kompetitornya yaitu gelar dokter hewan. Foto profil sebagai dokter hewan, ia tempelkan pada setiap outletnya.
Ide tersebut membuat konsumen yakin bahwa ayam goreng miliknya aman dikonsumsi bebas flu burung. Yang mana itu merupakan salah satu keunggulan bisnisnya.
Kemunculan Nama d’BestO
Nama Kentuku tidak lolos paten karena dianggap dianggap mirip KFC, lalu disuruh mencari nama lain, maka lahirlah d’BestO tahun 2011.
Brand tersebut dipilih, karena hasil inspirasi owner yang berasal dari kata “The Best To” diucapkan dalam logat Jawa.
Awal mulanya dari gerobak kaki lima tahun 1994, d’BestO sekarang sudah berhasil mempunyai lebih dari 300 mitra yang tersebar di Jakarta, Banten, Jawa Barat, Lampung, Sumatera Barat, Jambi, Riau, Sumatera Utara dan lain-lain.












