Kabar5News – TNI Angkatan Udara (TNI AU) terus memperkuat kesiapan personelnya dalam menghadapi berbagai ancaman keamanan melalui penyelenggaraan Pelatihan Anti-Terror Counter Measure (ATCM) Tahun Anggaran 2026.
Program pelatihan ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan profesionalisme prajurit sekaligus memperkuat kemampuan dalam menghadapi ancaman terorisme yang terus berkembang, terutama di sektor penerbangan.
Pelatihan yang berlangsung sejak 29 Juni hingga 24 Juli 2026 tersebut diselenggarakan oleh Staf Operasi TNI Angkatan Udara (Sopsau) dan dipusatkan di Wing Pendidikan (Wingdik) 800 Pasukan Gerak Cepat (Pasgat).
Kegiatan ini diikuti oleh personel dari Satuan Bravo (Satbravo) 90, Polisi Militer Angkatan Udara (Pomau), serta unsur Intelijen TNI AU yang memiliki peran strategis dalam menjaga keamanan dan mendukung pelaksanaan operasi TNI AU.
Selama mengikuti pelatihan, para peserta dibekali berbagai materi yang dirancang untuk meningkatkan kemampuan dalam mengantisipasi, mencegah, dan menangani berbagai bentuk ancaman terorisme.
Materi yang diberikan mencakup langkah-langkah pencegahan, prosedur penanganan insiden, hingga teknik respons cepat dalam menghadapi situasi krisis yang berpotensi mengganggu keamanan penerbangan maupun objek vital militer.
Selain memperkuat pemahaman teori, pelatihan juga menitikberatkan pada praktik lapangan melalui berbagai simulasi skenario ancaman yang disusun menyerupai kondisi nyata. Pendekatan tersebut diharapkan mampu meningkatkan kemampuan personel dalam mengambil keputusan secara cepat, tepat, dan terukur ketika menghadapi situasi darurat.
Untuk meningkatkan kualitas pelatihan, TNI AU turut menghadirkan instruktur dari Sovereign Tactical Training, Inggris, yang memberikan pembekalan mengenai teknik, taktik, serta prosedur penanggulangan terorisme berdasarkan standar internasional.
Kehadiran instruktur asing tersebut merupakan bagian dari kerja sama internasional yang bertujuan memperkaya pengetahuan dan keterampilan personel TNI AU melalui pertukaran pengalaman serta metode pelatihan modern.
Melalui kolaborasi tersebut, para peserta tidak hanya memperoleh wawasan mengenai perkembangan pola ancaman terorisme global, tetapi juga mempelajari berbagai strategi penanganan yang telah diterapkan dalam operasi antiteror di berbagai negara.
Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Udara (Kadispenau) Marsma TNI I Nyoman Suadnyana mengatakan bahwa pelatihan ini merupakan salah satu langkah strategis TNI AU dalam membangun sumber daya manusia yang memiliki kompetensi tinggi serta mampu beradaptasi dengan dinamika ancaman keamanan yang semakin kompleks.
“Melalui pelatihan ini, diharapkan terwujud prajurit TNI Angkatan Udara yang profesional dan adaptif dalam menghadapi berbagai bentuk ancaman, sehingga mampu mendukung keberhasilan pelaksanaan tugas TNI Angkatan Udara secara optimal,” ujar Marsma TNI I Nyoman Suadnyana, dikutip dari siaran pers Dispenau, Minggu (26/7).
Menurutnya, peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi salah satu prioritas TNI AU dalam menjaga kesiapan operasional.
Dengan bekal pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman yang diperoleh selama pelatihan, para personel diharapkan mampu menjalankan tugas secara profesional sekaligus memberikan respons yang efektif terhadap berbagai potensi ancaman, khususnya yang berkaitan dengan aksi terorisme di lingkungan penerbangan.
Pelatihan ATCM 2026 menjadi salah satu wujud komitmen TNI AU untuk terus meningkatkan kapasitas personel melalui pendidikan dan latihan yang berkelanjutan. Langkah tersebut diharapkan mampu memperkuat kesiapan satuan dalam mendukung tugas pertahanan udara nasional sekaligus menjaga keamanan objek vital dan keselamatan penerbangan di Indonesia.












