Kabar5News – Akhir-akhir ini muncul berbagai peristiwa alam yang terekspos di media massa maupun media sosial seperti kekeringan, banjir, cuaca ekstrem, kebakaran hutan ,dan lain-lain.
Hal tersebut bagi sebagian orang dianggap lumrah terjadi sebagai bentuk peristiwa alam. Namun, generasi muda menganggapnya berbeda hingga menimbulkan gangguan kesehatan berupa Eco Anxiety.
Kekhawatiran dirasakan generasi muda bukan tanpa alasan. Melansir dari survei global yang dipublikasikan pada The Lancet Planetary Health.
Yang mana menggunakan 10.000 responden usia 16 sampai 25 tahun pada 10 negara. Ternyata 59 persen hasil survei menunjukkan bahwa mereka amat, sangat khawatir.
Dampak Eco Anxiety Bagi Generasi Muda
Hasil responden menunjukkan bahwa perubahan iklim tidak hanya berpengaruh besar terhadap lingkungan tetapi juga kondisi kesehatan psikologis anak muda.
Menurut UNICEF eco anxiety termasuk respon emosional yang cenderung mendadak terhadap kondisi lingkungan.
Mereka yang terkena sindrom, umumnya ditandai dengan perasaan cemas, takut, khawatir atas dampak perubahan. Selain itu, dampaknya makin meluas hingga anggapan masa depan tidak pasti.
Generasi muda sangat rentan terkena Eco Anxiety karena mereka diperkirakan bisa hidup lebih lama, adanya konsekuensi perubahan iklim dari generasi sebelumnya.
Munculnya cuaca ekstrem, banjir, kekeringan, kebakaran hutan, hingga kenaikan permukaan laut secara berurutan sebagai pengingat bahwa ancaman tersebut bukanlah prediksi, melainkan realitas yang dihadapi masya berbagai belahan dunia.
Di Indonesia, perhatian terhadap dampak psikologis perubahan iklim juga semakin berkembang.
BMKG dalam publikasi mengenai psikologi iklim tahun 2025 menegaskan bahwa krisis iklim tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga mudah stres, kecemasan, hingga trauma psikologis.
Apa Itu Eco Anxiety?
Melansir dari berbagai sumber, eco anxiety termasuk rasa takut, cemas, tidak berdaya kronis terkait rusaknya lingkungan maupun krisis iklim.
Sementara itu, American Psychiatric Association mendefinisikan berupa ketakutan jangka panjang terhadap hancurnya kehancuran lingkungan yang berakibat fatal untuk masa depan bumi.
Fenomena ini sangat sering dirasakan oleh generasi muda yang terus-menerus terpapar berita layar kaca maupun media sosial.










