Kabar5News – Mengibarkan Merah Putih di puncak tebing bukan perkara sederhana. Terlebih ketika tebing yang ditaklukkan merupakan salah satu dinding batu paling ekstrem di Eropa.
Hal itulah yang baru saja dilakukan lima pemanjat Indonesia melalui ekspedisi Indonesia Big Wall Expedition (Ibex). Mochamad Akram Al Amien, Iga Wihantar, Nazib Fadlullah, Deden Wahyudin, dan Dodi Liswardi berhasil menyelesaikan pendakian Troll Wall atau Trollveggen di Norwegia.
Keberhasilan tersebut menjadi bagian dari misi The Earth Expedition Europe, sebuah ekspedisi yang membawa tim Indonesia menghadapi tiga tebing ikonis Eropa. Setelah sebelumnya menaklukkan Le Petit Dru di Prancis, tim melanjutkan perjalanan menuju Troll Wall sebelum nantinya menghadapi tantangan berikutnya di Spanyol.
Yang membuat pencapaian di Norwegia menarik bukan hanya soal berhasil mencapai puncak. Troll Wall memiliki karakter medan yang membuat pendakian membutuhkan kombinasi kemampuan teknis, fisik, dan daya tahan dalam waktu panjang.
Dinding Batu Setinggi Lebih dari 1.000 Meter
Troll Wall merupakan bagian dari massif Trolltindene di kawasan Romsdalen, Norwegia. Dinding batu ini memiliki ketinggian vertikal sekitar 1.100 meter dan dikenal sebagai salah satu tujuan penting bagi pemanjat tebing ekstrem.
Bayangkan harus bergerak di sepanjang dinding batu dengan ketinggian lebih dari satu kilometer. Tantangannya bukan sekadar mencapai titik tertinggi, tetapi mempertahankan kemampuan dan konsentrasi selama proses pemanjatan berlangsung.
Tim Indonesia memilih Norwegian Route, salah satu jalur klasik di Troll Wall dengan panjang sekitar 1.200 meter.
Pemanjatan dimulai pada 19 Agustus, sebelum akhirnya lima pemanjat tersebut mencapai puncak pada 29 Agustus pukul 09.30 waktu setempat.
Artinya, ekspedisi tersebut membutuhkan waktu berhari-hari untuk menyelesaikan satu jalur yang panjang dan teknis.
Cuaca Menjadi Bagian dari Tantangan
Salah satu karakter Troll Wall yang membuatnya terkenal adalah kondisi alamnya. Selain medan vertikal dan tingkat kesulitan teknis, cuaca di kawasan tersebut dapat berubah dengan cepat.
Situasi seperti ini membuat pemanjat harus memperhitungkan banyak hal sebelum dan selama melakukan pendakian. Kondisi batuan, cuaca, stamina, hingga strategi pemanjatan dapat menentukan keberhasilan sebuah ekspedisi.
Karena itu, kemampuan teknis saja tidak cukup. Tim juga membutuhkan daya tahan dan kemampuan mengambil keputusan ketika menghadapi kondisi yang berubah di lapangan.
Bukan Tantangan Pertama Tim Indonesia
Troll Wall bukan tantangan pertama yang dihadapi tim Ibex dalam ekspedisi Eropa kali ini.
Sebelumnya, mereka berhasil menuntaskan Le Petit Dru di Prancis pada 3 Agustus. Pendakian dilakukan melalui jalur American Direct yang memiliki sekitar 30 pitch dan membutuhkan waktu empat hari.
Keberhasilan di Prancis kemudian menjadi modal penting sebelum tim melanjutkan perjalanan menuju Norwegia.
Dengan selesainya Troll Wall, tim Indonesia kini telah menyelesaikan dua dari tiga tebing yang menjadi target The Earth Expedition Europe.
Masih ada satu tantangan terakhir yang menunggu, yakni Naranjo de Bulnes di Spanyol.
Troll Wall Punya Sejarah Panjang
Troll Wall bukan sekadar destinasi bagi pemanjat modern. Tebing ini memiliki sejarah panjang dalam dunia pemanjatan.
Dinding tersebut pertama kali berhasil ditaklukkan pada 1965 oleh tim Norwegia. Sejak saat itu, Troll Wall berkembang menjadi salah satu tujuan yang diperhitungkan oleh pemanjat dari berbagai negara.
Kombinasi dinding yang menjulang tinggi, tingkat kesulitan, kondisi batuan, serta cuaca yang tidak selalu bersahabat membuat Troll Wall memiliki reputasi tersendiri di kalangan pemanjat ekstrem.
Karena itu, keberhasilan tim Ibex menuntaskan Norwegian Route bukan hanya menjadi catatan perjalanan ekspedisi. Pencapaian tersebut juga menunjukkan bahwa pemanjat Indonesia mampu menghadapi salah satu medan big wall yang memiliki reputasi tinggi di Eropa.
Membawa Merah Putih ke Tebing Dunia
Ada satu hal lain yang membuat ekspedisi ini memiliki makna tersendiri. Perjalanan Ibex tidak hanya berorientasi pada pencapaian individu, tetapi juga membawa nama Indonesia ke sejumlah tebing legendaris dunia.
Setelah Merah Putih berkibar di Le Petit Dru dan Troll Wall, misi berikutnya adalah membawa perjalanan tersebut hingga ke Naranjo de Bulnes.
Jika berhasil dituntaskan, tiga tebing ikonis Eropa tersebut akan menjadi bagian dari satu rangkaian ekspedisi pemanjatan yang dilakukan tim Indonesia.
Pencapaian di Troll Wall pada akhirnya memperlihatkan bahwa dunia pemanjatan tidak hanya berbicara mengenai keberanian menghadapi ketinggian. Di balik satu puncak terdapat persiapan panjang, kemampuan membaca medan, ketahanan fisik, penguasaan teknik, serta kemampuan beradaptasi terhadap kondisi alam.
Dan bagi lima pemanjat Indonesia tersebut, perjalanan di Norwegia menjadi satu lagi bukti bahwa kemampuan pemanjat nasional mampu dibawa menghadapi medan big wall di panggung internasional.












