Kabar5News – Pernah membayangkan bermain sepak bola menggunakan meja seperti tenis meja? Gambaran tersebut kurang lebih menjadi ciri khas teqball, olahraga yang memadukan sejumlah unsur sepak bola dengan permainan di atas meja khusus yang memiliki permukaan melengkung.
Berbeda dari sepak bola biasa, teqball tidak dimainkan dengan kaki saja. Pemain dapat menggunakan kepala, dada, paha, dan kaki untuk mengontrol serta mengembalikan bola. Tangan dan lengan tidak boleh digunakan selama permainan.
Bola dimainkan melewati net di tengah meja melengkung. Setiap pemain juga memiliki batas sentuhan sebelum harus mengembalikan bola ke sisi lawan. Karakter permainan tersebut membuat kemampuan mengontrol bola, keseimbangan, kelincahan, dan ketepatan menjadi bagian penting dalam teqball.
Olahraga yang lahir di Hungaria pada 2010-an ini terus berkembang ke berbagai negara. Kini, teqball mendapatkan panggung yang lebih besar setelah resmi menjadi salah satu cabang olahraga yang dipertandingkan dalam Asian Games Aichi-Nagoya 2026.
Di tengah kemunculan olahraga yang masih relatif baru bagi banyak masyarakat Indonesia tersebut, nama Yoga Ardika Putra ikut mencuri perhatian.
Melansir dari detikSport, Yoga Ardika Putra menjadi atlet yang membuka perjuangan Indonesia dalam cabang teqball pada Asian Games 2026. Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta (UNJ) jurusan Manajemen Olahraga itu tampil pada nomor tunggal putra di Nagoya City Higashi Sports Center, Jepang.
Debutnya tidak berjalan biasa-biasa saja. Yoga langsung mengantongi dua kemenangan dalam pertandingan penyisihan Grup B pada Kamis (17/9/2026).
Pada laga pertama, Yoga menghadapi wakil Vietnam, Truong Giang Ba. Sempat kehilangan set pertama, ia mampu membalikkan keadaan dan mengakhiri pertandingan dengan kemenangan 7-12, 12-11, 12-8.
Yoga kemudian kembali tampil pada pertandingan berikutnya menghadapi wakil Laos, Alisa. Kali ini ia mampu meraih kemenangan dua set langsung dengan skor 12-5 dan 12-6.
Dua kemenangan tersebut menjadi modal bagi Yoga untuk melanjutkan perjuangannya di fase grup. Ia masih harus menghadapi tiga lawan berikutnya dari Korea Selatan, Jepang, dan Filipina.
Namun, ada hal menarik dari debut Yoga yang tidak hanya berkaitan dengan hasil pertandingan.
Bagi Indonesia, keikutsertaan teqball di Asian Games menjadi kesempatan untuk memperkenalkan olahraga tersebut kepada masyarakat yang mungkin belum pernah melihat atau bahkan mendengarnya sebelumnya.
Yoga pun harus beradaptasi dengan tekanan tampil dalam ajang multievent sebesar Asian Games. Ia mengakui rasa tegang sempat muncul, tetapi berusaha tidak membiarkan hal tersebut mengganggu persiapan yang telah dilakukan.
“Cukup fokus dengan kemampuan yang kita punya dan percaya diri. Kualitas fokusnya tidak boleh kebawa dengan permainan lain,” ujar Yoga seperti dikutip detikSport.
Menurutnya, latihan yang telah dijalani bersama tim menjadi bekal untuk menghadapi pertandingan. Karena itu, ia memilih mengalihkan rasa tegang dengan tetap berkonsentrasi pada permainan sendiri.
“Kita tetap fokus pada tujuan. Kita sudah latihan capek-capek sebelumnya. Tidak boleh kalah dengan hal-hal tegang seperti ini, jadi harus dialihkan fokusnya,” kata Yoga.
Kehadiran Yoga di Asian Games akhirnya tidak hanya menjadi cerita mengenai seorang atlet yang menjalani debut. Ia juga menjadi salah satu wajah awal perjalanan teqball Indonesia di panggung olahraga Asia.
Apalagi, teqball sendiri masih memiliki ruang yang cukup besar untuk dikenal lebih luas di Indonesia. Perpaduannya dengan sepak bola membuat olahraga ini relatif mudah dikenali, tetapi teknik dan aturan permainannya memberikan tantangan tersendiri.
Jika perkembangan teqball terus berlanjut, Asian Games Aichi-Nagoya 2026 dapat menjadi salah satu momentum penting untuk memperkenalkan cabang tersebut kepada generasi muda Indonesia.
Dan di tengah momen itu, Yoga Ardika Putra menjadi salah satu nama yang tercatat dalam babak awal perjalanan teqball Merah Putih di Asian Games.
Perjalanannya masih berlanjut. Setelah membuka debut dengan dua kemenangan, Yoga masih harus melewati pertandingan berikutnya untuk menjaga peluang Indonesia mencatatkan prestasi dalam cabang olahraga yang baru pertama kali hadir di Asian Games tersebut.











