Kabar5News – Attention Deficit Hyperactivity Disorder atau ADHD selama ini lebih dikenal sebagai kondisi yang berkaitan dengan sulit berkonsentrasi, impulsivitas, dan kesulitan mengatur perhatian. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa kondisi tersebut mungkin juga memiliki kaitan dengan kesehatan sistem pencernaan.
Temuan ini berasal dari tinjauan terhadap lebih dari 1,9 juta orang. Hasilnya menunjukkan bahwa individu dengan ADHD memiliki kemungkinan lebih tinggi mengalami sejumlah masalah gastrointestinal, termasuk sembelit dan irritable bowel syndrome (IBS) atau sindrom iritasi usus.
Studi tersebut dipimpin oleh peneliti dari University of Warwick Medical School dan diterbitkan dalam Journal of Attention Disorders pada September 2026.
Studi Menganalisis 23 Penelitian
Dalam penelitian tersebut, para peneliti menggabungkan data dari 23 studi yang dilakukan di berbagai negara, seperti Amerika Serikat, Swedia, Jerman, China, Korea Selatan, dan India.
Peserta penelitian memiliki rentang usia mulai dari 2 hingga 65 tahun. Dari analisis tersebut, peneliti menemukan bahwa orang dengan ADHD memiliki kemungkinan mengalami gejala gastrointestinal secara keseluruhan 48 persen lebih tinggi dibandingkan orang tanpa ADHD.
Hubungan itu terlihat pada beberapa jenis gangguan pencernaan. Individu dengan ADHD memiliki kemungkinan hampir dua kali lipat mengalami sembelit dan 58 persen lebih tinggi mengalami IBS.
Selain itu, kemungkinan mengalami encopresis, yaitu keluarnya feses secara tidak terkendali, tercatat lebih dari empat kali lipat pada kelompok dengan ADHD.
Peneliti juga menemukan kaitan ADHD dengan sejumlah keluhan lain, seperti diare, nyeri perut, dispepsia atau gangguan pencernaan, serta masalah lain pada lambung dan usus.
Pola Makan dan Respons terhadap Stres
Lantas, apa yang membuat ADHD dapat berkaitan dengan masalah pencernaan?
Para peneliti belum menemukan satu penyebab pasti. Namun, salah satu kemungkinan berkaitan dengan karakteristik ADHD yang dapat memengaruhi kebiasaan sehari-hari.
Pola makan yang tidak teratur, impulsivitas, respons terhadap stres, serta kesulitan mengenali atau merespons sinyal tubuh menjadi beberapa faktor yang dipertimbangkan.
Kebiasaan makan yang berubah-ubah, misalnya, dapat memengaruhi keteraturan sistem pencernaan. Sementara itu, stres juga diketahui dapat memengaruhi fungsi saluran gastrointestinal.
Obat ADHD Juga Perlu Diperhatikan
Selain karakteristik ADHD, penggunaan obat juga menjadi salah satu hal yang perlu diperhitungkan.
Beberapa obat stimulan yang digunakan untuk menangani ADHD diketahui dapat menimbulkan efek samping, seperti penurunan nafsu makan, sakit perut, mual, dan sembelit.
Karena itu, peneliti menilai efek samping obat perlu dibedakan dari kemungkinan mekanisme biologis ADHD itu sendiri. Dengan demikian, keluhan pencernaan yang dialami seseorang tidak dapat langsung dianggap sebagai akibat ADHD.
Mengenal Hubungan Otak dan Usus
Penjelasan lain yang turut dipertimbangkan berkaitan dengan gut-brain axis, yaitu hubungan dua arah antara otak dan sistem pencernaan.
Perubahan bakteri di dalam usus diduga dapat berinteraksi dengan sistem saraf melalui sejumlah jalur, termasuk saraf vagus yang menghubungkan otak dengan berbagai organ tubuh.
Meski demikian, mekanisme tersebut masih berupa dugaan. Peneliti belum dapat memastikan bagaimana hubungan otak dan usus berperan dalam kaitan antara ADHD dan gangguan pencernaan.
Penelitian Belum Membuktikan Sebab-Akibat
Meskipun menemukan hubungan yang cukup jelas, penelitian ini tidak menyimpulkan bahwa ADHD secara langsung menyebabkan sembelit, IBS, diare, atau gangguan pencernaan lainnya.
Peneliti menekankan bahwa temuan tersebut merupakan asosiasi, bukan hubungan sebab-akibat.
Selain itu, penelitian yang dianalisis memiliki metode dan karakteristik peserta yang berbeda-beda. Sebagian menggunakan diagnosis medis, sementara penelitian lainnya mengandalkan laporan peserta atau orang tua mengenai gejala pencernaan.
Karena itu, hasil studi ini lebih tepat dipahami sebagai temuan bahwa keluhan pencernaan mungkin lebih sering ditemukan pada orang dengan ADHD dan perlu mendapat perhatian dalam proses penanganannya.
Dengan demikian, ADHD tidak hanya perlu dilihat dari gejala perilaku dan fungsi kognitif. Kondisi kesehatan fisik, termasuk sistem pencernaan, juga dapat menjadi bagian yang perlu diperhatikan.
Namun, masalah pencernaan tidak otomatis menunjukkan bahwa seseorang mengalami ADHD. Begitu pula orang dengan ADHD belum tentu mengalami gangguan pencernaan.











