Kabar5News – Cheng Beng berasal dari bahasa Hokkian artinya bersih dan terang, merupakan tradisi masyarakat Tionghoa.
Biasanya pada masa ini, Ceng Beng tradisi orang Tionghoa akan melakukan sembahyang untuk mengenang leluhur atau keluarga yang telah meninggal
Sembahyang dimulai sejak tanggal (21/03), hingga satu Minggu setelah perayaan puncak Ceng Beng berdasarkan kalender Lunar. Jika disesuaikan dengan kalender Gregorian jatuh di tanggal (4 atau 5 April)
Setiap pelaksanaan Ceng Beng, kuburan dibersihkan. Sedangkan keluarga yang berziarah biasanya membawa perlengkapan sembahyang seperti lilin, dupa, kertas sembahyang, kertas perak, makanan kesukaan leluhur, dan replika kebutuhan sekunder yang terbuat dari kertas.
Pada praktiknya, Ceng Beng bukan hanya sekedar penghormatan leluhur. Tapi juga, moment untuk silaturahmi dengan keluarga, karena saat Ceng Beng anggota keluarga dari jauh akan berkumpul untuk sembahyang leluhur.
Selain itu, Ceng Beng juga merajut solidaritas di antara masyarakat yang beragam. Kuburan Tionghoa di Sumatera Barat biasanya dijaga dan ikut dirawat oleh penduduk setempat yang berbeda Etnik dan agama.
Kebiasaan ini sudah berlangsung selama ratusan tahun dan turun temurun sebagai tradisi atau budaya dari masyarakat Tionghoa itu sendiri.
Bagi keluarga yang leluhurnya dikremasi dan diletakkan di rumah abu, sembahyang dilakukan di rumah abu.
Sedangkan di Padang ada 4 rumah abu yaitu milik klenteng See Hin Kiong, Wihara Budha Warman, Hok Tek Tong (HTT), dan Heng Beng Tong (HBT).
Titik Ceng Beng di Sumatera Barat ada di beberapa tempat, antara lain Bukit Sentiong (Padang), Bungkus (Padang, TPU Tunggul Hitam (Padang), Bukit Mandiangin – Batang Kapas (Pesisir Selatan), Toboh Palopoh (Pariaman Selatan), Sungai Andok (Padang Panjang), Bukit Ambacang (Bukit Tinggi), Los Tjan Boeng Seng (Payakumbuh), dan Pondok Kapur (Sawahlunto).