Kabar5News – Alokasi anggaran militer menjadi cerminan utama dari prioritas suatu negara dalam menjaga keamanan, stabilitas wilayah, memperkuat pertahanan, serta modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista).
Negara-negara di Asia Tenggara semakin menyadari pentingnya memperkuat kekuatan militernya, guna menghadapi berbagai tantangan geopolitik dan menjaga stabilitas kawasan.
Setiap negara yang berada di kawasan Asean, masing-masing memiliki pos anggaran sesuai kebutuhan militernya.
Dimana setiap anggarannya memungkinkan untuk pengadaan teknologi militer canggih dan pengembangan kapasitas pertahanan yang adaptif terhadap perubahan ancaman.
Mengutip Goodstats, di Asia Tenggara, Singapura tercatat sebagai negara dengan belanja militer terbesar pada 2024, yakni mencapai Rp245,5 triliun. Indonesia ada di posisi kedua dengan anggaran sebesar Rp180 triliun.
1. Singapura: US$ 15 miliar, menurut GoodStats
2. Indonesia: US$ 11 milliar menurut GoodStats.
3. Thailand: US$ 7,2 miliar, menurut Databoks.
4. Vietnam: US$ 6,39 miliar, menurut Databoks.
5. Filipina: US$ 4,25 miliar, menurut Databoks.
6. Malaysia: US$ 3,85 miliar, menurut Databoks.
7. Myanmar: US$ 2 miliar, menurut Databoks.
8. Kamboja: US$ 600 juta, menurut Databoks.
9. Laos: US$ 18 juta, menurut Databoks.
Angka tersebut menunjukkan betapa kedua negara ini sangat serius, dalam mengalokasikan dana untuk mempertahankan keamanan nasional dan posisi strategis di kawasan.
Singapura yang memiliki luas wilayah yang kecil namun, sangat padat penduduk, mengutamakan kualitas dan modernisasi setiap alutsistanya, sementara Indonesia memerlukan skala yang lebih besar mengingat wilayahnya yang sangat luas dan beragam.
Dilihat dari beberapa tahun terakhir, baik Indonesia maupun Singapura terus menunjukkan ambisi besar dalam penguatan pertahanan nasional.
Modernisasi armada militer menjadi salah satu fokus utama, mulai dari pengadaan kapal perang, pesawat tempur, hingga teknologi pertahanan siber.
Hal ini tidak hanya untuk meningkatkan kemampuan tempur, tetapi juga sebagai bentuk pencegahan dini terhadap potensi ancaman eksternal, yang mungkin muncul di masa depan.
Upaya ini tentu sangat penting agar negara-negara tersebut tetap relevan dalam dinamika geopolitik regional dan global.
Namun, pertanyaan yang menarik adalah apakah alokasi anggaran militer Indonesia sudah cukup ideal? Dengan wilayah yang luas dan berbagai tantangan keamanan, kebutuhan modernisasi dan penguatan pertahanan memang tinggi.
Meski angka Rp.180 triliun terlihat besar, efektivitas penggunaan dana serta prioritas program harus menjadi perhatian utama agar investasi pertahanan benar-benar berbuah hasil maksimal.
Indonesia perlu terus mengkaji dan menyesuaikan kebijakan anggaran militer agar sesuai dengan kondisi dan kebutuhan nyata di lapangan.