Kabar5News – Satu lagi band legendaris asli Indonesia, band itu adalah Dara Puspita. Didirikan di Surabaya pada tahun 1964, dengan beranggotakan Titiek Adji Rachman (Gitar Melodi, Vokal), Lies Soetisnowati Adji Rachman (Gitar, Vokal), Titiek Hamzah (Bass, Vokal) dan Susy Nander (Drum, Vokal).
Mereka hadir di tengah dominasi musik pop dan keroncong, dengan mengusung musik beraliran Pop-Rock yang energik, dan menjadi satu-satunya band yang semua personilnya merupakan perempuan. Musik maupun gaya mereka jauh melampui zamannya pada masa itu.
Masa awal karir musik mereka bertepatan dengan kebijakan Presiden Soekarno yang melarang peredaran musik barat. Pada masa itu musik barat disebut sebagai musik “ngak-ngik-ngok”, yang dianggap merusak kepribadian bangsa juga bagian dari neoimperialisme dan neokolonialisme Bahkan grup band Koes Bersaudara sempat merasakan penjara dikarenakan memainkan musik Rock n’ Roll yang dianggap mirip The Beatles.
Kiblat musik Dara Puspita sebenarnya juga band-band dari barat seperti The Beatles yang memang sangat digandrungi seluruh dunia saat itu, dan juga The Rolling Stones, namun mereka lolos dari sensor penguasa dan tidak sampai merasakan penjara sebagaimana Koes Bersaudara karena berhasil menyiasatinya.
Cara mereka menyiasati larangan itu adalah dengan menggunakan lirik-lirik berbahasa Indonesia di semua lagu mereka, dan selalu membawakan serta mengaransemen ulang lagu-lagu nasional pada album mereka dan juga saat penampilan di atas panggung.
Namun yang paling unik dan ikonik adalah kisah pada lagu hits mereka yang berjuduk “Mari-Mari”. Mereka berhasil mengelabui aparat yang sebenarnya tidak terlalu paham seputar musik terlebih musik barat. Dara Puspita dengan berani menyisipkan riff gitar dari lagu milik The Rolling Stones yang berjudul “I Can’t Get No (Satisfaction)” sebagai intro pada lagu “Mari-Mari”. Rupanya pengetahuan aparat saat itu atas musik barat yang disebut musik “ngak-ngik-ngok” hanya sebatas lagu-lagu milik The Beatles.
Puncak karir mereka adalah melakukan tur keliling Eropa di tahun 1968 sampai 1971. Tampil di lebih 250 kota di berbagai negara seperti Jerman, Belgia, Prancis, Inggris, Spanyol dan Belanda. Di tengah rangkaian tur panjang di Eropa itu Dara Puspita sempat merilis single berbahasa Inggris seperti “Ba Da Da Dum” dan “Dream Stealer”.
Dara Puspita membuktikan bahwa semangat bermusik tidak bisa dibendung oleh batasan politik, dan ditengah budaya konservatif mereka tampil dengan berani dan gaya yang berbeda melampaui zamannya. Menjadikan mereka pelopor dan inspirasi bagi musisi perempuan Indonesia generasi setelahnya.












