Kabar5News – Di Kecamatan Wonosalam, Jombang, Jawa Timur, seorang pemuda bernama Muhammad Sobari Karim bersama warga desanya membudidayakan kopi yang belum banyak dikenal khalayak awam yakni kopi varian Liberika dan Excelsa. Tidak sekedar membudidayakan mulai dari menanam hingga proses roasting namun juga menjualnya dalam sajian kopi yang nikmat di kedai kopi rumahan. Menurutnya mulai banyak konsumen yang ingin mencoba keunikan citarasa kopi ini, dari sekitar Jombang hingga luar daerah.
Kebanyakan orang mungkin hanya mengenal varian kopi yakni Arabika (Coffea arabica) dan Robusta (Coffea canephora). Namun, Indonesia, sebagai salah satu produsen kopi terbesar di dunia, menyimpan kekayaan hayati yang luar biasa, memiliki pula dua varian kopi unik lainnya yakni Liberika (Coffea liberica) dan Excelsa (Coffea liberica var. dewevrei).
Kopi Liberika berasal dari Afrika Barat, tepatnya Liberia dan Angola. Kopi ini dibawa ke Indonesia pada abad ke-19 oleh Belanda untuk menggantikan tanaman Arabika yang saat itu hancur diserang wabah penyakit karat daun (Hemileia vastatrix). Meskipun ketahanan Liberika lebih baik dari Arabika, ia kemudian digantikan oleh Robusta karena dianggap tidak setahan Robusta terhadap penyakit tersebut.
Tumbuh subur di dataran rendah hingga menengah (0-1000 mdpl), tanaman Liberika dikenal memiliki postur pohon yang tinggi, bahkan bisa mencapai 9 meter. Buah dan daunnya berukuran lebih besar dibandingkan Arabika dan Robusta. Liberika juga unik karena mampu beradaptasi dengan baik di lahan gambut atau lahan marjinal.

Kopi Excelsa juga berasal dari Afrika Tengah. Secara ilmiah, Excelsa sering diklasifikasikan sebagai varietas dari Liberika (Coffea liberica var. dewevrei) dan bukan spesies yang sepenuhnya berbeda. Sama seperti Liberika, Excelsa tumbuh baik di dataran rendah hingga menengah. Tanaman ini dikenal tangguh dan tahan terhadap kekeringan. Biji Excelsa juga cenderung lebih besar dan berat.
Dibandingkan dengan Arabika yang beraroma kompleks dan asam, atau Robusta yang cenderung pahit kuat dan nutty (kacang-kacangan), Liberika memiliki cita rasa yang eksotis, seringkali dideskripsikan memiliki aroma buah-buahan, bunga, dan bahkan asap atau woody (kayu).
Beberapa penikmat juga merasakan sedikit tembakau atau cokelat di dalamnya. Biji Liberika memiliki kadar keasaman yang rendah dan body yang tebal, namun tidak se-asam Arabika.
Excelsa dikenal memberikan rasa yang kompleks dan segar (bright). Ciri khasnya adalah memiliki nuansa buah yang cerah atau tajam (fruity-tart) dengan sedikit rasa manis dan asam, serta body yang ringan. Excelsa sering digunakan dalam campuran (blend) untuk menambahkan kedalaman dan kompleksitas rasa pada kopi lain.
Selain di Wonosalam, Jombang, Jawa Timur, yang dikenal dengan varietas Liberika-Excelsa-nya, kedua kopi langka ini juga dibudidayakan di berbagai daerah lain di Indonesia, khususnya di dataran rendah.
Liberika, dibudidayakan di Jambi (terutama di daerah Tanjung Jabung, sering ditanam di lahan gambut), Bengkulu, Kalimantan Barat (misalnya di Pontianak dan Kayong Utara), Kepulauan Riau (misalnya di Pulau Meranti). Excelsa, banyak dibudidayakan di Jambi, Sumedang (Jawa Barat), Kepulauan Riau, Temanggung.
Meskipun secara global produksi Liberika dan Excelsa hanya menyumbang persentase kecil (sekitar 2-3%) dari perdagangan kopi dunia yang didominasi oleh Arabika dan Robusta, keduanya memiliki peluang pasar yang menjanjikan di segmen specialty coffee.
Ketahanan tanaman kedua jenis kopi ini, terutama Liberika, memiliki keunggulan terhadap perubahan iklim dan kemampuannya tumbuh di lahan yang tidak ideal (seperti gambut), menjadikannya pilihan yang lebih berkelanjutan di masa depan.
Kopi Liberika Indonesia diketahui diekspor ke negara-negara seperti Malaysia dan Filipina, sementara Excelsa juga mulai menembus pasar Eropa dan Asia dalam skala tertentu.
Dengan semakin meningkatnya tren konsumsi dan apresiasi terhadap kopi eksotis dan lokal, Liberika dan Excelsa berpotensi menjadi “bintang baru” yang tidak hanya memperkaya keragaman rasa kopi Nusantara tetapi juga meningkatkan kesejahteraan petani di dataran rendah.












