Kabar5News – Prosa sastra ‘Cerita Cinta Satu Zaman’ karya Taufan Hunneman terus mencuri perhatian publik.
Setelah novelis, tokoh buruh dan akademisi memberikan ulasan, kini giliran kalangan aktivis angkat suara, mengomentari prosa tersebut.
Salah satu komentar datang dari aktivis perempuan sekaligus penulis buku Revolusi Jamu, Ratri Wahyuni.
Ulasan Ratri tertulis di kolom komentar prosa ‘Cerita Cinta Satu Zaman’ di laman kabar5news.id.
Setelah membaca prosa tersebut, Ratri mengaku terharu dengan cerita cinta antara John dengan Angeli.
Ia mengatakan, prosa tersebut membuatnya hanyut dalam cerita dan seakan membawa pembacanya ke ruang dan waktu di mana dua tokoh tersebut berada, yakni di Indonesia era 1960-an.
“Apakah hidup memang seharusnya demikian, tidak lepas dari timbal balik bila diberikan sesuatu hingga akhirnya masuk dalam kelam politik. Gundik tidak pernah lepas dari laki laki sukses. Prosa ini membuat kita nyata ada disuatu zaman seperti judulnya ‘Cerita Cinta Satu Zaman’,” demikian tulis Ratri, dikutip pada Rabu (3/12/2025).
Ia melanjutkan, peliknya cerita cinta John dan Angeli yang berkelindan dengan situasi politik pada masa itu, membuat prosa ini bukan hanya sekadar kisah romansa.
Lebih dari itu, menurutnya, prosa ‘Cerita Cinta Satu Zaman’ dapat juga dipandang sebagai biografi sejarah, karena kentalnya unsur histori di dalamnya.
Dalam prosa itu, Taufan Hunneman memang mengaitkan cerita cinta tokoh utamanya dengan beberapa babak sejarah Indonesia, yakni peristiwa Permesta dan peristiwa G30S/PKI.
“Ini adalah pengingat bahwa indonesia dibangun dengan banyak wajah, banyak latar, banyak cinta yang disatukan oleh tekad untuk berharap dan bertahan. Prosa yang ditulis oleh Taufan Huneman menegaskan bahwa setiap bab kelam sejarah ada hati, ‘hati yang memilih untuk tetap mencintai’,” ungkapnya.
Selain Ratri, komentar juga datang dari mantan akvitis 98, Yoega Diliyanto. Senada dengan Ratri, Yoega mengatakan, prosa ‘Cerita Cinta Satu Zaman” bukan hanya mengedepankan cerita cinta antara John dan Angeli.
Menurutnya, siapapun yang membaca prosa ini akan terbawa pada suasana Indonesia masa lampau, dengan beberapa peristiwa sejarah melingkupinya.
“Prosa ini sangat kuat dalam hal cerita, namun jika membacanya dengan cermat, kita juga mendapatkan khazanah pengetahuan mengenai sejarah Indonesia. Dua hal itu merupakan kombinasi yang cerdas, sehingga membuat prosa ini kaya makna,” tutur Yoega.
Ia juga mengatakan, Taufan Hunneman sebagai penulis prosa sangat cermat dalam merangkai kata dan mengaitkannya dengan kronik sejarah Indonesia.
Menurut Yoega, hal ini membuktikan kalau penulis memiliki pengetahuan yang mendalam mengenai sastra dan sejarah Indonesia.
Karena itu pula, menurut Yoega, sangat sayang jika prosa ini hanya menjadi sebuah “prosa”. Dalam pandangannya, dengan adanya beragam kekuatan di dalamnya, prosa ini layak dikembangkan menjadi novel atau bahkan film layar lebar sekalipun.
“Saya akan sangat senang sekali jika penulis bisa melanjutkan prosa ini ke tahap yang lebih sempurna. Dan saya adalah salah satu orang yang meyakini kalah prosa ‘Cerita Cinta Satu Zaman’ memiliki kekuatan untuk ‘naik kelas’ menjadi novel atau film layar lebar,” tutup Yoega.












