Kabar5News – Ada satu operasi militer rahasia yang dilancarkan oleh Indonesia di Timor Portugis (sebelum bernama Timor-Timur dan kini Timor Leste) pada tahun 1975, yang merupakan langkah awal atau pendahuluan sebelum operasi militer skala besar yang kemudian dikenal sebagai Operasi Seroja pada bulan Desember 1975, operasi militer itu disebut Operasi Flamboyan. Operasi ini merupakan kelanjutan dan eskalasi dari Operasi Komodo, sebuah operasi intelijen yang bertujuan untuk mengacaukan stabilitas koloni Portugis yang sedang menuju proses dekolonisasi.
Setelah Revolusi Anyelir di Portugal pada tahun 1974, proses dekolonisasi di Timor Portugis dimulai. Berbagai faksi politik muncul, yang paling dominan adalah FRETILIN (Frente Revolucionária de Timor-Leste Independente) yang cenderung berhaluan kiri, dan UDT (União Democrática Timorense) serta APODETI (Associação Popular Democrática Timorense) yang menghendaki berintegrasi dengan Indonesia.
Pemerintah Indonesia di bawah Orde Baru yang didukung oleh Amerika dan Australia, khawatir akan kemungkinan berdirinya negara komunis baru di perbatasan Indonesia, mulai melakukan Operasi Komodo. Operasi Komodo (1974 – 1975) berfokus pada upaya diplomasi rahasia, propaganda, dan infiltrasi politik untuk memicu konflik internal.
Upaya inipun berhasil memicu perang saudara antara FRETILIN melawan UDT dan APODETI pada Agustus 1975. Pada perang saudara itu pihak FRETILIN berhasil mengunggulinya, dikarenakan dibantu oleh Tropaz, yakni eks-tentara organik Timor Portugis. Kemenangan FRETILIN itupun mendorong pihaknya memproklamasi kemerdekaan sepihak pada 28 November 1975. Hal tersebut semakin mendorong pihak Indonesia untuk merebutnya dari pihak FRETILIN dengan operasi militer. Operasi Flamboyan merupakan operasi militer dengan skala kecil.
Operasi Flamboyan dipimpin oleh perwira intelijen yang juga mantan Pasukan Khusus, yakni Kolonel Dading Kalbuadi dan di bawah pengawasan langsung oleh Mayor Jenderal Benny Moerdani. Tujuan utama Operasi Flamboyan adalah ​mendukung dan melatih milisi Pro-Indonesia. Selain itu juga, ​mengamankan wilayah perbatasan dengan melakukan serangkaian operasi militer di wilayah perbatasan Timor Portugis dan Timor Barat untuk menciptakan zona penyangga dan mendestabilisasi kontrol FRETILIN. Dan tentu saja misi utama lainnnya adalah, sebagai persiapan operasi militer skala besar dan penuh.
Seiring berjalannya waktu, Operasi Flamboyan secara efektif memperluas konflik dari perang sipil menjadi konflik militer terbuka yang melibatkan pasukan Indonesia secara langsung, meskipun masih dalam kerangka operasi rahasia. Dengan semakin banyaknya intelijen yang terkumpul dan meningkatnya dukungan terhadap faksi pro-integrasi, pimpinan militer Indonesia merasa yakin bahwa invasi besar-besaran adalah langkah yang dapat dibenarkan dan diperlukan untuk mencegah apa yang disebut “ancaman komunis”.
Operasi Flamboyan berakhir pada 6 Desember 1975, tepat sehari sebelum militer skala besar dan penuh, yang disebut Operasi Seroja.












