Kabar5News – “Mang itu saha?, Katingali di ditu Di pojok nu nangtung sae jangkung. Abdi parantos ningali ti kamari”. Itu merupakan penggalan lirik lagu berjudul Kalangkang, berbahasa Sunda. Dibawakan dengan manis oleh band asal Belanda!. Band itu bernama Nusantara Beat. Nusantara Beat adalah fenomena musik kontemporer yang unik, lahir dan berbasis di Amsterdam. Band ini dibentuk pada tahun 2021.
Keunikan utama Nusantara Beat terletak pada identitas personelnya. Seluruh anggota band adalah musisi yang lahir dan besar di Belanda, namun memiliki garis keturunan Indonesia. Hal ini menjadikan proyek mereka bukan sekadar interpretasi musik dari luar, melainkan sebuah penjelajahan mendalam terhadap warisan budaya dan leluhur mereka.
Pilihan untuk membawakan lagu-lagu dalam bahasa daerah Indonesia, seperti Sunda dalam lagu-lagu seperti “Borondong Garing”, “Kota Bandung” dan “Kalangkang”, serta lagu lainnya yang berbahasa Bahasa Indonesia, menjadi ciri khas yang menonjol. Ini adalah langkah berani yang melampaui hambatan bahasa.
Mereka menyebut genre musik Nusantara Beat sebagai “Indo-Psychedelic Groove.” Dengan cerdas mereka meramu musik tradisional Indonesia, seperti elemen keroncong, dangdut, dan musik pop/soul Indonesia dari era 60-an dan 70-an, dengan sentuhan psikedelik modern, groove yang hipnotis, dan tekstur vintage yang hangat. Hasilnya adalah musik yang terasa akrab sekaligus mistis, eksotik, nostalgia namun futuristik.
Nusantara Beat berawal dari rasa cinta dan keingintahuan bersama para anggotanya terhadap akar budaya mereka, Indonesia. Drumer Sonny Groeneveld dan saudaranya Gino Groeneveld, bersama vokalis Megan De Klerk, gitaris Jordy Sanger dan Rouzy Portier, serta bassis Michael Joshua Yonata, memiliki misi untuk menghidupkan kembali musik Nusantara di panggung Eropa dan global.
Nama “Nusantara Beat” sendiri mengandung makna yang dalam: “Nusantara” merujuk pada kepulauan Indonesia, tempat asal-usul budaya mereka, dan “Beat” mengacu pada ritme yang berorientasi pada groove era 60-an dan 70-an yang menjadi inspirasi mereka. Mereka ingin agar pendengar merasa terbawa ke masa lalu di negeri yang jauh, sekaligus membawa musik ini ke arah masa depan.
Debut album penuh mereka yang berjudul “Nusantara Beat” baru saja dirilis pada awal bulan Desember, menyajikan 11 lagu orisinal yang berakar pada tradisi namun penuh keberanian dan kreativitas. Album ini dirilis secara global dan di Asia Tenggara melalui kolaborasi dengan label rekaman seperti Bongo Joe Records (Swiss), Glitterbeat Records, dan demajors (Indonesia).
Kehadiran Nusantara Beat bukan hanya sekadar mewarnai blantika musik dunia, tetapi juga merupakan sebuah jembatan budaya antara Indonesia dan Belanda. Mereka mengingatkan komunitas diaspora Indonesia di luar negeri akan kekayaan warisan musik mereka. Pada saat yang sama, memperkenalkan pesona melodi Nusantara yang memikat kepada khalayak internasional.
Mereka semakin membuktikan bahwa musik memiliki kekuatan untuk melampaui batas geografis, waktu, dan generasi. Tak kalah pentngnya, mereka juga menjadikan musik berbahasa Indonesia mendunia dengan cara yang populer dan menarik.












