Kabar5News – Jauh sebelum Indonesia mengenal konsep kedaulatan modern, Kesultanan Banten telah menorehkan tinta emas dalam sejarah diplomasi internasional. Di tengah kepungan dominasi kongsi dagang Belanda (VOC), Kesultanan Banten membuktikan diri sebagai entitas politik yang disegani dengan mengirimkan misi diplomatik resmi ke jantung Britania Raya pada tahun 1682.
Misi itu bukan sekadar kunjungan seremonial, melainkan sebuah strategi politik tingkat tinggi untuk mencari sekutu di Eropa guna menghadapi tekanan kolonial yang kian menghimpit Nusantara.
Pada tahun 1682, pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa, penguasa Banten yang dikenal sangat anti-Belanda, mengutus dua pejabat tinggi kesultanan sebagai duta besar untuk menemui Raja Charles II dari Inggris. Mereka adalah Kyai Ngabehi Naya Wipraya dan Kyai Ngabehi Jaya Sedana.
Kedatangan mereka di London menjadi fenomena besar. Dengan pakaian adat yang megah dan perilaku yang santun, kedua duta besar ini disambut dengan upacara militer yang luar biasa. Mereka tidak hanya diterima di Istana Windsor, tetapi juga diberikan gelar kehormatan oleh Raja Charles II, yakni Sir Abdul dan Sir Ahmad. Gelar ini menjadi simbol pengakuan Inggris terhadap kedaulatan Banten sebagai mitra sejajar.
Tujuan utama dari misi ini adalah memperkuat hubungan dagang dan militer. Banten masa itu merupakan salah satu produsen lada terbesar di dunia, komoditas yang lebih berharga daripada emas di Eropa. Sebagai bentuk persahabatan, rombongan Banten membawa persembahan yang sangat mewah, termasuk:
• ​200 karung lada kualitas terbaik.
• ​Jahe, cengkeh, dan akar bahar.
• ​Berbagai perhiasan permata dan intan.
• ​Emas berukir burung merak.
Dibalik kemurahan hati tersebut, ada permintaan krusial, Banten ingin membeli persenjataan modern, seperti meriam dan senapan, serta meminta bantuan armada Inggris untuk menghadapi agresi VOC di Selat Sunda.
​Ironisnya, saat Naya Wipraya dan Jaya Sedana sedang menikmati jamuan mewah di London, situasi di tanah air justru sedang membara. Perang saudara pecah antara Sultan Ageng Tirtayasa dengan putranya, Sultan Haji, yang didukung oleh Belanda.
​Ketika kedua duta besar ini kembali ke Banten, mereka mendapati pelabuhan kebanggaan mereka telah jatuh ke tangan VOC.
Sultan Haji yang menang perang berkat bantuan Belanda terpaksa menandatangani perjanjian yang melarang pedagang Inggris (East Indie Company) untuk beroperasi di Banten. Misi diplomatik yang awalnya sukses besar tersebut akhirnya kandas oleh pengkhianatan dari dalam dan tekanan kolonial.












