Kabar5News – Nama Halim Perdanakusuma mungkin lebih sering kita dengar sebagai nama bandara di Jakarta. Namun, tak banyak yang menyadari bahwa di balik nama besar tersebut, tersimpan kisah luar biasa tentang seorang putra Madura yang pernah menggetarkan langit Eropa dengan pesawat pembom milik Angkatan Udara Inggris, Royal Air Force (RAF).
Lahir di Sampang, Madura, pada 18 November 1922, Abdul Halim Perdanakusuma bukanlah pemuda biasa. Di tengah masa kolonial, ia berkesempatan mengenyam pendidikan di sekolah elit Opleidingsschool Voor Inlandsche Ambtenaren (OSVIA). Namun, panggilan jiwanya bukan menjadi birokrat, melainkan menjadi penerbang..
Ketika Perang Dunia II pecah dan Jerman Nazi mulai menguasai Eropa, pemerintah Hindia Belanda mengirimkan pemuda-pemuda berbakat untuk mengikuti pendidikan militer. Halim terpilih untuk belajar navigasi dan penerbangan di Kanada. Inilah awal mula keterlibatannya dalam palagan perang paling berdarah dalam sejarah manusia.
Setelah menyelesaikan pendidikannya, Halim bergabung dengan Royal Air Force (RAF) di Inggris. Di sinilah prestasinya benar-benar diuji. Halim tidak hanya menjadi pilot cadangan; ia aktif sebagai awak pesawat pembom (bomber) yang melakukan misi-misi berbahaya ke jantung pertahanan Jerman.
Halim tercatat terlibat dalam puluhan misi tempur di atas langit Eropa. Ia terbang ribuan kaki di udara, menghindari rentetan peluru anti-aircraft (flak) dan kejaran pesawat tempur Luftwaffe milik Jerman.
Keberaniannya membuatnya mendapat julukan “The Black Mascot” (Maskot Hitam) oleh rekan-rekan kru pesawatnya, sebuah panggilan akrab yang menunjukkan rasa hormat atas ketenangannya di bawah tekanan.
Pulang untuk Ibu Pertiwi
Usai Perang Dunia II berakhir pada 1945, Halim tidak memilih untuk tetap tinggal di Eropa atau mengejar karier di militer internasional. Begitu mendengar Indonesia telah memproklamasikan kemerdekaan, ia segera kembali ke tanah air.
Pengalaman tempurnya di Inggris menjadi aset tak ternilai bagi Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) yang baru seumur jagung. Halim bersama Komodor Udara Suryadi Suryadarma bahu-membahu membangun kekuatan udara Indonesia dari nol, bermodalkan pesawat-pesawat rongsokan sisa Jepang.
Perjalanan Halim harus terhenti secara tragis pada 14 Desember 1947. Saat menjalankan tugas membawa perlengkapan senjata dari Thailand menggunakan pesawat Avro Anson RI-003, pesawat tersebut terjatuh di Pantai Tanjung Hantu, Perak, Malaysia akibat cuaca buruk.
Halim gugur bersama rekannya, Iswahjudi. Gugurnya Halim Perdanakusuma di Pantai Tanjung Hantu meninggalkan duka mendalam, tidak hanya bagi keluarga tetapi juga bagi perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Karena situasi perang kemerdekaan yang masih berkecamuk dan kendala logistik saat itu, jenazah Halim awalnya dimakamkan di sebuah pemakaman di Lumut, Perak, Malaysia. Masyarakat setempat menghormatinya sebagai seorang prajurit yang jatuh dalam tugas.
Setelah melalui proses diplomasi dan negosiasi yang panjang, barulah pada tahun 1975, kerangka sang elang udara ini dipindahkan secara resmi dari Malaysia ke Indonesia. Halim Perdanakusuma akhirnya dimakamkan dengan upacara militer penuh penghormatan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta.












