Kabar5News – Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan fluktuasi pasar, emas masih menjadi pilihan investasi yang dianggap aman (safe haven). Namun, seiring perkembangan teknologi, kini masyarakat tidak hanya bisa membeli emas batangan secara langsung, tetapi juga emas digital melalui platform resmi. Lalu, mana yang lebih aman untuk investasi: emas fisik atau emas digital?
Keamanan Emas Fisik: Nyata dan Bisa Disimpan Sendiri
Emas fisik, seperti emas batangan atau perhiasan, memiliki keunggulan utama berupa kepemilikan langsung. Investor bisa menyimpan emas di rumah atau di safe deposit box bank. Nilainya cenderung stabil dan diakui secara global.
Namun, risiko tetap ada. Penyimpanan di rumah rentan terhadap pencurian, sementara penyimpanan di bank membutuhkan biaya tambahan. Selain itu, emas fisik berisiko hilang atau rusak jika tidak disimpan dengan baik.
Keamanan Emas Digital: Praktis dan Terpantau
Emas digital memungkinkan investor membeli emas tanpa harus menyimpannya secara fisik. Transaksi dilakukan melalui aplikasi atau platform resmi yang diawasi regulator. Kelebihannya, emas digital lebih praktis, bisa dibeli dalam nominal kecil, dan relatif aman dari risiko pencurian fisik.
Meski begitu, keamanan emas digital sangat bergantung pada kredibilitas platform penyedia. Jika platform bermasalah atau tidak terdaftar secara resmi, investor berpotensi mengalami kerugian. Risiko peretasan dan gangguan sistem juga perlu diperhatikan.
Mana yang Lebih Aman?
Secara umum, keduanya sama-sama aman jika dilakukan melalui jalur resmi dan dengan manajemen risiko yang baik. Emas fisik cocok bagi investor yang mengutamakan kontrol langsung atas aset. Sementara emas digital sesuai bagi mereka yang menginginkan kemudahan, fleksibilitas transaksi, dan penyimpanan tanpa repot.
Keamanan investasi bukan hanya soal bentuk emasnya, tetapi juga bagaimana investor memilih tempat pembelian, menyimpan data dengan aman, serta memahami profil risiko pribadi.
Pada akhirnya, pilihan antara emas fisik dan emas digital bergantung pada kebutuhan, tujuan keuangan, serta kenyamanan masing-masing investor. Diversifikasi bahkan bisa menjadi strategi bijak: mengombinasikan keduanya untuk mengurangi risiko.










