Kabar5News – Selama beberapa dekade, perhatian masyarakat Indonesia terhadap gempa bumi sering kali tertuju pada zona megathrust di selatan Samudra Hindia. Namun, data terbaru dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta BMKG mulai menggeser kewaspadaan kita ke daratan.
Pulau Jawa, yang dihuni lebih dari 150 juta jiwa, ternyata berdiri di atas jaringan sesar (patahan) aktif yang sewaktu-waktu dapat memicu guncangan hebat.
Secara sederhana, sesar atau patahan adalah retakan pada kerak bumi yang mengalami pergeseran. Patahan ini terbentuk karena adanya tekanan dari pergerakan lempeng tektonik.
Di Pulau Jawa, sesar aktif umumnya merupakan hasil dari interaksi antara Lempeng Indo-Australia yang menunjam ke bawah Lempeng Eurasia.
Berbeda dengan gempa megathrust yang berada jauh di laut, gempa akibat sesar darat cenderung bersifat dangkal.
Meskipun magnitudonya relatif tidak sebesar gempa laut, pusatnya yang dekat dengan pemukiman padat penduduk membuat daya rusaknya cukup tinggi.
Risiko dan Peta Ancaman
Hingga awal 2026, para ahli telah memetakan puluhan sesar aktif yang melintasi kota-kota besar. Beberapa di antaranya yang menjadi perhatian utama adalah:
1. Sesar Baribis: Membentang dari Jawa Barat hingga melintasi wilayah Jakarta bagian selatan.
2. Sesar Lembang: Patahan sepanjang 22 km di utara Bandung yang memiliki periode ulang gempa besar.
3. Sesar Cimandiri: Salah satu yang tertua dan paling aktif di Jawa Barat.
4. Sesar Kendeng & RMKS (Rembang, Madura, Kangean, dan Sakala): Jaringan patahan luas yang membentang dari Jawa Tengah hingga Jawa Timur, termasuk melewati wilayah Surabaya dan Semarang.
Risiko terbesar dari sesar-sesar ini adalah infrastruktur yang belum tahan gempa serta kepadatan bangunan yang menutup jalur patahan, sehingga memperkecil ruang aman saat terjadi pergeseran tanah.
Ancaman ini bukan sekadar teori. Dalam lima bulan terakhir, aktivitas seismik di Pulau Jawa menunjukkan eskalasi yang nyata. Salah satu peristiwa paling signifikan terjadi pada 6 Februari 2026.
Sebuah gempa bumi dengan magnitudo 6,4 mengguncang wilayah Pacitan, Jawa Timur, pada dini hari.Guncangan ini terasa luas hingga ke 25 wilayah di Pulau Jawa dan Bali, termasuk Yogyakarta, Solo, hingga sebagian Jawa Barat.
Laporan dari BPBD setempat mengonfirmasi adanya kerusakan pada sejumlah bangunan rumah dan fasilitas umum di Kabupaten Ponorogo dan sekitarnya.
Kejadian ini kembali menjadi alarm bagi warga di sepanjang jalur sesar aktif untuk tetap waspada.












