Kabar5News – Kisruh terkait tindakan Bupati Aceh Selatan Mirwan MS terus menjadi sorotan sejak ia memilih meninggalkan wilayahnya untuk menjalankan ibadah umrah di tengah bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda daerah tersebut.
Situasi semakin memanas setelah Presiden Prabowo Subianto menyebut tindakan Mirwan mirip “desersi”, istilah yang biasanya digunakan dalam dunia militer untuk menggambarkan kaburnya prajurit dari tugas.
Pernyataan itu disampaikan Prabowo saat memimpin rapat terbatas (ratas) di Lanud Sultan Iskandar Muda, Aceh Besar, pada Minggu (7/12/2025) malam.
Dalam ratas yang diikuti para menteri Kabinet Merah Putih serta para kepala daerah melalui konferensi video, Prabowo menegaskan pentingnya kehadiran pemimpin daerah saat warganya berada dalam kondisi darurat.
Ia mengapresiasi gubernur dan bupati yang tetap siaga bersama masyarakat, sekaligus menyindir keras kepala daerah yang justru meninggalkan tanggung jawab.
“Yang di depan harus bekerja keras untuk rakyat. Saya kerahkan semua dukungan untuk kalian agar tidak ragu,” ujar Prabowo memberi semangat.
Namun setelah itu, nada bicaranya berubah tajam ketika menyinggung bupati yang “lari” saat bencana belum tuntas.
Tanpa menyebut nama, arah kritiknya jelas mengarah kepada Mirwan MS, apalagi setelah ia sebelumnya membuat surat menyerah dan kemudian berangkat umrah.
“Kalau yang mau lari, lari saja tidak apa-apa. Copot langsung. Mendagri bisa ya diproses?” kata Prabowo sambil tersenyum tegas. Mendagri Tito Karnavian langsung merespons, “Tiga bulan kita, Pak,” mengacu pada proses pemberhentian kepala daerah.
Di sinilah Prabowo menggambarkan tindakan Mirwan sebagai “desersi”, merujuk pada pelanggaran berat dalam dunia militer.
Pernyataan ini menuai perhatian luas karena membawa istilah militer ke dalam konteks pemerintahan sipil.
Apa yang Dimaksud dengan Desersi?
Penyebutan istilah desersi oleh Prabowo bukan tanpa alasan. Dengan latar belakang militer, Prabowo menggunakan analogi tersebut untuk menekankan betapa seriusnya tindakan seorang pemimpin yang meninggalkan tugas saat kondisi genting.
Secara definisi, desersi adalah tindakan seorang anggota militer yang meninggalkan tugas secara tidak sah, terutama pada masa krisis, operasi, atau keadaan bahaya.
Dalam hukum militer Indonesia, desersi termasuk pelanggaran berat yang dapat berujung pada hukuman penjara dan pemecatan tidak hormat.
Desersi dianggap sebagai tindakan mengabaikan tanggung jawab, membahayakan keselamatan pasukan, dan merusak moral angkatan.
Meskipun bupati bukan prajurit TNI, Prabowo menggambarkan tindakan Mirwan sebagai bentuk “pelarian” yang sebanding dengan desersi yaitu meninggalkan anak buah ketika mereka menghadapi situasi paling sulit.
Dalam konteks pemerintahan, kepala daerah adalah pemimpin tertinggi di wilayahnya saat terjadi bencana. Kehadirannya bukan sekadar simbol, tetapi bagian dari mekanisme komando, koordinasi, dan respons cepat.
Ketika pemimpin daerah tidak berada di tempat, terutama tanpa izin resmi pemerintah pusat, proses penanganan darurat bisa terhambat.
Oleh karena itu, analogi desersi digunakan untuk menegaskan bahwa tindakan tersebut bukan hanya kesalahan administratif, tetapi pelanggaran serius terhadap etika kepemimpinan.
Desersi dalam Kasus Ini
Ada beberapa alasan mengapa istilah desersi tepat untuk menggambarkan situasi ini:
- Badai Bencana = “Keadaan Bahaya” bagi warga
Dalam bencana besar, masyarakat sangat bergantung pada keputusan cepat dan kehadiran pemimpin. Ketidakhadiran bupati membuat koordinasi tanggap darurat kurang maksimal.
- Tanggung Jawab Pemimpin Daerah Setara Komandan Wilayah
Seperti komandan yang wajib mengutamakan keselamatan pasukan, bupati wajib berada di garis depan, memastikan operasi penanganan bencana berjalan.
- Ketidakhadiran tanpa izin dianggap pelanggaran disiplin
Prabowo menegaskan bahwa Mirwan pergi tanpa izin pemerintah pusat maupun atasan politik, sehingga dianggap “kabur dari tugas”.
- Dampak moral bagi aparat dan relawan
Saat pemimpin pergi, moral aparat di lapangan bisa menurun. Kehadiran pemimpin adalah bentuk dukungan moril.
Analogi “desersi” yang disampaikan Prabowo bukan sekadar kritik terhadap satu bupati, tetapi peringatan keras kepada semua kepala daerah.
Dalam kondisi bencana, pemimpin wajib berdiri paling depan, bukan justru menarik diri dari tanggung jawab.
Meski istilah desersi berasal dari dunia militer, maknanya relevan untuk menggambarkan pelanggaran moral dan etika kepemimpinan ketika rakyat sangat membutuhkan kehadiran pemimpinnya.
Proses pemecatan kini berada di tangan Mendagri, dan kasus Mirwan menjadi refleksi penting tentang standar tanggung jawab seorang pemimpin publik.












