Kabar5News – Masalah lingkungan dan perekonomian masyarakat bisa terjadi di mana saja. Problema lingkungan hidup yang lazim ditemui, di antaranya masalah pengolahan sampah di wilayah pemukiman penduduk. Tak semua daerah memiliki tempat pembuangan akhir (TPA) sampah. Tak jarang pula, kondisi ini beririsan dengan masalah sosial lain, seperti ekonomi, kesehatan dan lainnya.
Melihat realita itu, Kilang Pertamina Internasional (KPI) tergerak untuk ikut andil mengatasi masalah lingkungan yang ada di masyarakat sekitar kilang, melalui program Tanggung Jawab Lingkungan dan Sosial (TJSL). Pjs. Corporate Secretary KPI, Milla Suciyani mengatakan, sejak berdiri pada 2017 KPI rutin menjalankan program TJSL di wilayah sekitar enam kilang KPI. Tak hanya lingkungan, program ini juga bergerak di bidang pendidikan, kesehatan, pemberdayaan masyarakat dan pengembangan UMKM.

“Di antara program TJSL yang digulirkan KPI, bidang lingkungan menjadi salah satu yang jadi perhatian. Kami menyadari, bisnis yang dijalankan bersinggungan dengan lingkungan masyarakat sekitar kilang, karena itulah KPI berkomitmen untuk ikut menjaganya,” ujar Milla.
Salah satu program TJSL bidang lingkungan KPI adalah Bank Sampah Abhipraya yang berlokasi di Kelurahan Kutawaru, Kecamatan Cilacap Tengah, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Inisiasi program ini didasari oleh masalah sampah yang menahun akibat ketiadaan Tempat Pembuangan Sementara (TPS) di wilayah tersebut.
Bank Sampah Abhipraya juga bentuk nyata sustainability atau keberlanjutan di KPI Grup yang selaras dengan prinsip-prinsip Environmental, Social & Governance (ESG). Melalui program ini, warga diajak mengelola sampah organik dan anorganik secara produktif hingga menghasilkan barang-barang yang bernilai ekonomi. Sampah organik diolah melalui budidaya maggot untuk pakan ikan serta diproses menjadi pupuk alami. Sementara sampah anorganik dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif dan bahan pembuatan paving blok.

Kegiatan ini pada akhirnya tak hanya mengatasi masalah sampah di Kutawaru, tapi juga memberikan dampak ekonomi. Menurut Milla, harga sampah di Bank Sampah Abhipraya bisa mencapai Rp15 ribu per kilogram. Alhasil, masyarakat yang terlibat dalam program ini, pendapatannya bisa bertambah hingga Rp2 juta per bulan.
“Terbukti, jika dikelola dengan baik, sampah bisa memberikan dampak lingkungan dan ekonomi yang tidak main-main. Hal itu terlihat dari eksistensi Bank Sampah Abhipraya dalam mengatasi masalah sampah di wilayah Kelurahan Kutawaru, sekaligus meningkatkan taraf hidup masyarakat setempat,” ungkap Milla.
Kehadiran Bank Sampah Abhipraya juga menurunkan jumlah sampah di wilayah Kutawaru hingga 195 ton per tahun, atau sekitar 80,93 persen. Keberhasilan ini lantas mencuri perhatian berbagai pihak, hingga akhirnya banyak orang datang untuk belajar mengenai pengelolaan bank sampah.

Bank Sampah Abhipraya merupakan bagian dari inisiatif Masyarakat Mandiri Kutawaru (MAMAKU) yang digagas KPI sejak 2020. Melalui MAMAKU, KPI menjalankan berbagai kegiatan pemberdayaan masyarakat seperti konservasi mangrove, budidaya ikan, pengembangan UMKM dan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).
Hingga kini, KPI telah menanam sekitar 25 ribu bibit mangrove di lahan seluas 2,5 hektare, dengan estimasi serapan karbon sebesar 8.919 ton per hektare. Sementara PLTS MAMAKU bisa menghasilkan energi bersih sebesar 13.000 Wattpeak per hari.
“Pencapaian Bank Sampah Abhipraya dan program MAMAKU membuktikan komitmen kuat terhadap keberlanjutan, utamanya lingkungan. Ini juga bentuk dukungan kami terhadap visi pembangunan Asta Cita Pemerintah,” tutup Milla.