Kabar5News –Masalah banjir di Jakarta bukanlah fenomena baru hasil dari modernisasi semata. Jauh sebelum gedung pencakar langit berdiri, ibu kota yang kala itu masih bernama Batavia sudah menjadi langganan “tamu tak diundang” berupa luapan air dari hulu. Sejarah mencatat, ambisi Belanda untuk membangun “Amsterdam di Timur” harus berhadapan dengan realita alam tropis yang ganas.
Hanya dua tahun setelah Jan Pieterszoon Coen membangun Batavia pada 1619, banjir besar pertama langsung menghantam pada tahun 1621. Masalah utama terletak pada desain kota. Orang Belanda membangun kanal-kanal sempit dan lurus persis seperti di negeri mereka. Sayangnya, mereka lupa bahwa air di Pulau Jawa membawa sedimentasi lumpur yang tinggi dari pegunungan, berbeda dengan air di Belanda yang relatif jernih.
Salah satu bencana paling membekas terjadi pada Februari 1872. Kala itu, curah hujan ekstrem membuat Pintu Air di depan kawasan Weltevreden (saat ini Masjid Istiqlal), jebol. Air bah merendam pusat pemerintahan dan melumpuhkan aktivitas ekonomi. Begitu pula pada tahun 1893, saat Jakarta mendapat julukan memilukan; Batavia Onder Water (Batavia di Bawah Air).
Namun, titik balik kesadaran pemerintah kolonial terjadi pada Banjir Besar 1918. Selama hampir tiga minggu, hujan tak berhenti mengguyur. Kawasan elit seperti Menteng yang baru dibangun pun tak luput dari rendaman. Trem listrik mati, dan wabah penyakit mulai mengintai penduduk.
Sadar bahwa sistem drainase lama tidak lagi mampu menampung debit air, Pemerintah Hindia Belanda akhirnya menunjuk seorang insinyur bernama Herman van Breen dari Burgerlijke Openbare Werken (sekarang Departemen Pekerjaan Umum).
Van Breen menyadari bahwa kunci mengamankan Batavia adalah dengan memisahkan aliran air dari hulu agar tidak seluruhnya masuk ke tengah kota. Ia mencetuskan konsep sistem kolektor yang membagi wilayah Jakarta menjadi dua zona.
Upaya penanggulangan utama yang ia lakukan adalah membangun Banjir Kanal Barat (BKB) atau Westerlokanaal pada tahun 1922. Kanal ini dirancang untuk memotong aliran sungai-sungai besar, terutama Ciliwung, di daerah Manggarai dan mengalirkannya langsung ke arah laut di Muara Angke melalui pinggiran kota.
Di sinilah Pintu Air Manggarai dibangun sebagai pos komando utama. Jika debit air dari Katulampa meningkat tajam, pintu air menuju pusat kota akan ditutup, dan air dialihkan sepenuhnya melalui Banjir Kanal Barat.
Hingga hari ini, sistem yang dirancang Van Breen satu abad lalu masih menjadi tulang punggung pertahanan Jakarta dari banjir kiriman.
Namun demikian meski kanal telah dibangun, masalah klasik seperti pendangkalan (sedimentasi) dan perubahan tata guna lahan di Bogor tetap menjadi tantangan berat sejak masa kolonial hingga sekarang. Sejarah mengajarkan bahwa mengelola air di Jakarta bukan sekadar soal membangun saluran, melainkan tentang memahami karakter alam yang terus berubah.












