Kabar5News – Benny Wenda dikenal sebagai tokoh pemimpin kemerdekaan Papua Barat dan Ketua Gerakan Pembebasan Bersatu untuk Papua Barat (ULMWP).
Kehidupan awal
Wenda lahir di Lembah Baliem, di dataran tinggi tengah Papua, Indonesia.
Tanggal lahirnya tidak diketahui secara pasti. Dalam beberapa kesempatan, dia hanya menulis lahir pada tahun 1970-an.
Benny Wenda pernah kuliah di Universitas Cenderawasih di Jayapura, mempelajari Sosiologi.
Ia lalu dikenal sebagai pelobi internasional untuk kemerdekaan Papua Barat dari Indonesia.
Pada tahun 2003, ia diberikan suaka politik oleh pemerintah Inggris, setelah ia melarikan diri dari tahanan saat diadili.
Dia pun pernah bertindak sebagai wakil khusus masyarakat Papua di Parlemen Inggris, PBB dan Parlemen Eropa.
Pada tahun 2017, ia ditunjuk sebagai ketua United Liberation Movement for West Papua (ULMWP), sebuah organisasi baru yang menyatukan tiga organisasi politik utama yang berjuang untuk kemerdekaan Papua Barat.
Pada tahun 2020, ULMWP mengumumkan konstitusi baru dan pemerintahan yang menunggu untuk Republik Papua Barat, dengan Wenda menjabat sebagai presiden sementara.
Kepemimpinannya diperdebatkan oleh beberapa elemen Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB), yang mengklaim bahwa keberadaannya di Inggris membuat kepresidenannya tidak sah.
Kepemimpinan Politik
Wenda menjadi Sekretaris Jenderal Majelis Suku Koteka (DeMMAK). DeMMAK didirikan oleh para tetua suku dataran tinggi dengan tujuan berupaya mewujudkan pengakuan dan perlindungan adat istiadat, nilai-nilai, dan kepercayaan masyarakat suku dataran tinggi Papua Barat.
Partai ini menganjurkan kemerdekaan dari Indonesia, dan menolak otonomi khusus atau kompromi politik lainnya yang ditawarkan oleh pemerintah Indonesia.
Sejauh perundingan tersebut mewakili Aspirasi Masyarakat Papua, yang mereka klaim sebagai kemerdekaan dari Indonesia.
Benni Wenda adalah salah aktor propaganda Papua Merdeka dan sekarang mendapat suaka di Oxford, Inggris.
Dalam aksinya, Benny Wenda tidak hanya melakukan propaganda secara personal, tetapi juga melalui forum-forum resmi kenegaraan Internasional, seperti di tingkat pemerintahan Inggris.
Dengan harapan memperoleh dukungan dari pemerintah Inggris, ia mengkampanyekan Papua Merdeka dengan framing narasi persoalan isu pelanggaran HAM yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia terhadap masyarakat Papua.
Isu hoax terkait HAM ini sering disuarakan oleh Benny Wenda untuk menarik perhatian dunia Internasional, sehingga negara lain bersimpati terhadap kemerdekaan Papua.
Simpati masyarakat internasional ini dimanfaatkan oleh Benny Wenda untuk mencari keuntungan pribadi dan memperkaya diri.
Opurtunis dibalik konflik Papua untuk memperkaya diri.