Kabar5News – Berakhirnya operasional Dago Dairy di Lembang, Kabupaten Bandung Barat, bukan hanya cerita tentang sebuah peternakan yang tutup. Keputusan tersebut juga memperlihatkan persoalan yang lebih luas di sektor peternakan, yakni tantangan mendapatkan tenaga kerja dan regenerasi pengelola usaha.
Melansir dari akun Facebook Dago-Dairy, pihak pengelola menyampaikan keputusan untuk menghentikan operasional peternakan yang selama ini menjadi salah satu tempat yang dikenal masyarakat untuk mengenal lebih dekat aktivitas sapi perah dan produksi susu.
Dago Dairy sendiri telah beroperasi sejak 2015. Selama lebih dari satu dekade, peternakan yang berada di kawasan Buniwangi, Lembang, tersebut tidak hanya menghasilkan susu segar, tetapi juga mengembangkan berbagai produk olahan seperti yogurt dan keju. Dago Dairy juga dikenal dengan konsep edukasi peternakan yang memungkinkan pengunjung melihat aktivitas sapi perah secara lebih dekat.
Namun, perjalanan tersebut akhirnya menghadapi persoalan tenaga kerja.
Pemilik Dago Dairy, Mark Hallet dan istrinya, Yanti, menyebut mereka telah mengalami kesulitan mendapatkan pekerja selama hampir dua tahun. Kondisi tersebut membuat pengelolaan peternakan semakin berat karena pekerjaan harus dilakukan dengan jumlah personel yang terbatas.
“Hampir dua tahun kami kekurangan karyawan. Anak muda tidak berminat untuk bekerja di peternakan,” ujar Mark dalam keterangan yang dibagikan melalui media sosial.
Keterbatasan tenaga kerja bukan persoalan sederhana dalam usaha peternakan sapi perah. Berbeda dengan pekerjaan yang dapat dihentikan sementara, pemeliharaan ternak membutuhkan rutinitas yang terus berjalan. Sapi harus dirawat, kebutuhan pakan harus dipenuhi, kandang perlu dipelihara, sementara proses produksi juga harus tetap berlangsung.
Dalam kondisi tenaga kerja terbatas, beban pekerjaan akhirnya semakin besar. Pengelola Dago Dairy bahkan menyebut salah satu persoalan yang dihadapi adalah harus bekerja hingga dua shift. Situasi tersebut membuat waktu untuk merawat sapi dan melakukan perbaikan kandang menjadi semakin terbatas.
Bukan Karena Konflik dengan Pekerja Lokal
Penutupan Dago Dairy sempat memunculkan berbagai spekulasi setelah kabarnya ramai di media sosial. Namun, Mark kemudian memberikan klarifikasi bahwa keputusan tersebut bukan disebabkan konflik dengan pekerja maupun masyarakat setempat.
Menurutnya, persoalan utama justru berkaitan dengan sulitnya memperoleh tenaga kerja tetap. Ia juga menilai rendahnya minat anak muda terhadap pekerjaan di peternakan menjadi salah satu tantangan yang dihadapi.
Hal ini membuat kisah Dago Dairy menarik dilihat dari perspektif yang lebih luas. Sebab, persoalan tenaga kerja bukan hanya berkaitan dengan satu usaha, melainkan dapat menjadi tantangan bagi keberlanjutan sektor peternakan apabila tidak diikuti regenerasi.
Ketika Generasi Berikutnya Tidak Melanjutkan
Persoalan regenerasi juga terlihat dari keluarga pemilik Dago Dairy. Kedua putra Mark dan Yanti diketahui tinggal di Australia dan tidak memiliki keinginan untuk meneruskan usaha peternakan tersebut.
Yanti mengatakan keputusan untuk berhenti juga berkaitan dengan keinginan mereka untuk memasuki masa pensiun dan beristirahat setelah menjalankan usaha tersebut selama bertahun-tahun.
Artinya, penutupan Dago Dairy tidak berdiri pada satu faktor saja. Ada persoalan tenaga kerja, keterbatasan waktu pengelola, regenerasi keluarga, hingga tantangan menjalankan peternakan secara berkelanjutan.
Peternakan Tidak Bisa Berjalan Tanpa Perawatan Rutin
Kasus Dago Dairy juga memperlihatkan bahwa menjalankan peternakan sapi perah membutuhkan sumber daya yang tidak sedikit. Pekerjaan di dalamnya tidak hanya berkaitan dengan proses pemerahan susu, tetapi juga mencakup pemeliharaan ternak, penyediaan pakan, kebersihan kandang, hingga pengelolaan produksi.
Karena itu, kekurangan pekerja dapat memberikan dampak berantai terhadap operasional. Sejumlah pengamat sektor peternakan juga menilai persoalan usaha sapi perah perlu dilihat secara lebih luas, termasuk dari sisi model bisnis, ketersediaan lahan, pakan, air, listrik, akses, serta tenaga kerja.
Presiden Direktur Asosiasi Holstein Indonesia (AHI) Rochadi Tawaf bahkan menilai model peternakan yang dijalankan Dago Dairy memiliki tantangan untuk bertransformasi menjadi industri.
Dengan demikian, tutupnya Dago Dairy tidak hanya menjadi akhir dari perjalanan sebuah peternakan yang telah berdiri sejak 2015. Kisah tersebut juga menjadi gambaran mengenai tantangan yang dihadapi usaha peternakan ketika tenaga kerja semakin sulit diperoleh dan generasi berikutnya tidak tertarik untuk meneruskannya.
Bagi masyarakat yang pernah berkunjung, menikmati susu segar, atau mengenal dunia peternakan melalui Dago Dairy, penutupan ini mungkin meninggalkan kesan tersendiri. Namun dari sisi yang lebih luas, kisah tersebut menyisakan pertanyaan penting: bagaimana memastikan sektor peternakan tetap memiliki tenaga kerja dan generasi penerus di tengah perubahan pilihan pekerjaan anak muda?










