Kabar5News – Final Piala Dunia 2026 akan menyajikan pertarungan dua raksasa sepak bola dunia saat Timnas Spanyol menghadapi Argentina di Stadion New York New Jersey, Senin (20/7/2026) dini hari WIB.
Laga ini bukan hanya mempertemukan juara Eropa dengan juara bertahan dunia, tetapi juga menghadirkan duel menarik di pinggir lapangan. Pelatih Spanyol Luis de la Fuente akan beradu strategi dengan pelatih Argentina Lionel Scaloni dalam pertandingan yang banyak disebut sebagai duel antara guru dan mantan murid.
Pertemuan tersebut diprediksi berlangsung sengit mengingat kedua tim tampil impresif sepanjang turnamen dan sama-sama menunjukkan konsistensi sejak fase grup.
Spanyol datang ke final dengan performa meyakinkan. Setelah sempat ditahan debutan Tanjung Verde di penyisihan grup, La Furia Roja menyapu bersih enam pertandingan berikutnya dengan kemenangan atas Arab Saudi (4-0), Uruguay (1-0), Austria (3-0), Portugal (1-0), Belgia (2-1), dan Prancis (2-0).
Sepanjang turnamen, Spanyol juga tampil sangat solid di lini pertahanan. Tim asuhan De la Fuente baru kebobolan satu gol, yakni saat menghadapi Belgia di babak perempat final.
Di sisi lain, Argentina juga menunjukkan mental juara sebagai juara bertahan. La Albiceleste menyapu bersih fase grup sebelum menyingkirkan Tanjung Verde (3-2), Mesir (3-2), Swiss (3-1), dan Inggris (2-1) untuk mengamankan tempat di partai puncak.
Dengan perjalanan yang sama-sama impresif, peran kedua pelatih dinilai menjadi salah satu faktor utama yang membawa tim mereka hingga ke final.
Spanyol kini memburu gelar Piala Dunia kedua sepanjang sejarah setelah sukses pada edisi 2010. Sementara Argentina berambisi menjadi tim pertama sejak Brasil pada 1962 yang mampu mempertahankan gelar juara dunia secara beruntun.
Reuters menggambarkan laga ini sebagai pertemuan yang unik.
“Juara Eropa melawan juara dunia dan Amerika Selatan, dengan seorang guru dan mantan muridnya berdiri di area teknis yang berlawanan.”
Berawal dari Ruang Kelas Kepelatihan
Hubungan Luis de la Fuente dan Lionel Scaloni telah terjalin jauh sebelum keduanya sukses sebagai pelatih tim nasional.
Pada 2017, ketika Scaloni baru pensiun sebagai pemain profesional dan mulai mengambil lisensi kepelatihan di akademi Federasi Sepak Bola Spanyol (RFEF) di Las Rozas, De la Fuente menjadi salah satu instruktur yang membimbingnya.
Saat itu, De la Fuente telah lebih dulu menangani berbagai kelompok usia Timnas Spanyol, sedangkan Scaloni masih memulai perjalanan sebagai pelatih.
Tidak ada yang menyangka hubungan mentor dan peserta kursus tersebut pada akhirnya membawa mereka saling berhadapan di panggung terbesar sepak bola dunia.
Scaloni beberapa kali mengungkapkan rasa hormatnya kepada sang mantan mentor.
“Saya sering berbincang dengannya dan saya mendoakan yang terbaik baginya,” ujar Scaloni saat Copa America 2024.
Sebaliknya, De la Fuente juga memberikan apresiasi tinggi kepada Scaloni yang sukses membawa Argentina menjuarai Piala Dunia 2022 dan Copa America 2024.
Scaloni bahkan mengakui banyak belajar dari cara De la Fuente memimpin tim selama mengikuti pendidikan kepelatihan.
“De la Fuente sangat membantu kami yang mengikuti kursus kepelatihan di Las Rozas. Saya menyukai cara dia mengelola tim dan bagaimana dia mengerahkan segalanya,” katanya.
Scaloni Memiliki Ikatan Kuat dengan Spanyol
Kedekatan Scaloni dengan Spanyol tidak hanya sebatas dunia kepelatihan.
Pelatih berusia 48 tahun itu memiliki istri asal Spanyol, Elisa Montero, sementara kedua anak mereka lahir di negara tersebut. Keluarganya pun menetap di Mallorca.
Semasa menjadi pemain, Scaloni juga cukup lama berkarier di kompetisi Spanyol bersama Deportivo La Coruña, Racing Santander, dan Mallorca.
Kedekatan emosional itu bahkan membuat Scaloni mengaku turut mendukung Spanyol saat menjuarai Euro 2024.
“Sebagian keluarga saya berasal dari Spanyol dan, tentu saja, saya mendukung Spanyol di Euro,” ujarnya.
Menjelang final Piala Dunia 2026, Scaloni kembali memberikan pujian kepada De la Fuente usai Spanyol menyingkirkan Prancis di semifinal.
“Saya ikut senang untuknya. Dia layak mendapatkannya. Dia sosok yang hebat. Segala hal yang kita lihat pada tim nasional asuhannya adalah apa yang juga ingin kita lihat pada tim kita sendiri,” tutur Scaloni.
Kini, hubungan guru dan murid itu akan memasuki babak baru. Bukan lagi di ruang kelas kepelatihan, melainkan di partai final Piala Dunia 2026, ketika keduanya saling adu strategi demi membawa negaranya meraih trofi paling bergengsi dalam sepak bola dunia.











