Kabar5News – Gunung Semeru di wilayah Lumajang, Jawa Timur, kembali erupsi. Dalam beberapa jam saja status aktifitas vulkaniknya naik, dari Siaga (level III) menjadi Awas (level IV). Pada hari Rabu, 19 November 2025, terpantau memuntahkan material hingga 2.000 meter dari puncaknya. Gunung Semeru merupakan salah satu gunung teraktif di Indonesia. Aktifitas vulkaniknya sudah tercatat sejak era Kolonial.
Gunung Semeru, yang dikenal sebagai Mahameru atau “Gunung Agung”, adalah gunung berapi tertinggi di Pulau Jawa (3.676 mdpl). Meskipun aktivitas vulkanik Semeru telah berlangsung selama ribuan tahun, catatan sejarah yang terdokumentasi, terutama yang berasal dari masa kolonial Belanda, memberikan gambaran jelas mengenai sifat dan dampak erupsi gunung ini.
​Erupsi pertama Gunung Semeru yang tercatat secara resmi terjadi pada 8 November 1818. Catatan ini muncul dalam arsip vulkanologi Belanda, khususnya menurut ahli seperti Maur Neumann van Padang, yang menyebutkan Semeru sudah aktif mengeluarkan lava panas sejak awal abad ke-19. Sayangnya, detail mengenai besarnya letusan pertama ini tidak banyak didokumentasikan karena kondisi politik pada saat itu.
Masa setelah ditinggalkannya Sir Thomas Stamford Raffles dan transisi kekuasaan kembali ke Belanda (di bawah Komisi Jenderal Belanda, 1816-1818) membuat fokus pemerintahan lebih tertuju pada penataan kembali administrasi dan perekonomian.
Meskipun demikian, periode setelah 1818 menunjukkan Semeru sebagai gunung yang sangat aktif. Erupsi berulang tercatat terjadi dalam rentang waktu yang cukup intensif sepanjang abad ke-19, seperti pada tahun :
1. 1829–1878 : Terjadi serangkaian letusan, termasuk letusan pada 1829, 1832, dan terus berlanjut hingga tahun 1878.
2. 1884–1899 : Aktivitas letusan kembali terekam, menunjukkan bahwa Semeru memiliki siklus aktif yang berlangsung selama beberapa tahun, diselingi periode “tidur” singkat.
​Salah satu erupsi Semeru paling signifikan dan berdampak besar yang tercatat selama era kolonial terjadi pada 29-30 Agustus 1909. Peristiwa ini dikenal dengan nama De Ramp te Lumadjang atau Bencana Lumajang.
Erupsi ini merupakan bencana alam dahsyat yang meluluhlantakkan desa-desa di sekitar kaki gunung dan wilayah sekitarnya di Jawa Timur. Dampak dari letusan ini mencakup:
Korban Jiwa :Â Tercatat 208 orang meninggal dunia,
​Kerusakan Infrastruktur : Merusak 38 desa.
Kerugian Pertanian :Â Memusnahkan 600 hingga 800 hektar lahan pertanian.
Aktivitas Semeru terus berlanjut hingga mendekati akhir masa kolonial dan awal pendudukan Jepang. Periode antara 1941 hingga 1942 mencatat aktivitas vulkanik yang signifikan, di mana lelehan lava (aliran lava) mencapai lereng timur hingga ketinggian sekitar 1.400 mdpl hingga 1.775 mdpl. Meskipun perhatian pemerintah kolonial saat itu mungkin terpecah oleh situasi Perang Dunia II, catatan mengenai aktivitas letusan tersebut tetap menjadi bagian penting dari sejarah vulkanik Semeru.
Sejak pencatatan pertama pada tahun 1818, Semeru telah menunjukkan karakter sebagai gunung api strato yang sangat aktif, dengan erupsi yang sering berganti antara eksplosif (ledakan) dan efusif (aliran lava). Dokumentasi yang teliti oleh para ahli vulkanologi dan geolog Belanda pada masa itu telah menjadi dasar penting dalam memahami pola dan risiko aktivitas Gunung Semeru hingga saat ini.












