Sebuah prosa sastra karya Taufan Hunneman
Kabar5News – Lahir di daerah kawasan pertanian, tanah yang subur. Namun, generasi keluarganya menjadi buruh tani.
Dia adalah seorang buruh tani yang merindukan kepemilikan tanah. Sementara istrinya, anak dari buruh tani, sudah terbiasa hidup dalam keterbatasan.
Penampilan perempuan itu biasa saja, sehingga ia tidak punya pilihan lain selain menjadi istri buruh tani.
Seandainya ia sedikit lebih menarik, berparas oval dengan bentuk tubuh yang menonjol, mungkin saja ia akan menikah dengan priyayi atau menjadi simpanan dari juragan pemilik penggilingan padi, seperti Si Midun yang kini hidupnya serba berkecukupan.
Ia lelah bekerja di tanah milik orang. Baginya, tanah adalah kehidupan dan impian terbesarnya untuk memiliki aset yang kelak akan diwariskan kepada generasinya.
Tekadnya kuat, namun seperti biasa, simpanan uangnya selalu tidak mencukupi. Sebab, sering kali sawah garapannya terserang beragam hama, dari tikus hingga wereng yang merusak hasil tanaman hingga gagal panen.
Program transmigrasi adalah jalan keluar dari kehidupannya sebagai buruh tani. Dengan semangat yang luar biasa, dia menyiapkan segala sesuatunya untuk bisa berangkat ke daerah transmigrasi.
Istrinya didandani, dikenakan pakaian kebaya dengan kain tipis.
Sekalipun wajahnya biasa, kulitnya yang kuning langsat diharapkan dapat menarik perhatian para birokrat, sehingga mempermudah proses mendapatkan program tersebut.
Benar saja.
Salah seorang petugas verifikasi administrasi terpikat oleh kulitnya yang kuning langsat, meskipun wajahnya biasa saja.
Sinyal kelancaran dan ‘pertukaran’ pun terjadi. Istri sang buruh tani pun diarahkan agar bersikap ramah dengan ‘petugas’ yang ambisius itu, sebab dialah penentu nasib mereka.
Berbisiklah petugas tersebut, “Aku kasih kau tanah yang bagus… rumah kayu yang kokoh dan dekat dengan akses jalan.” Lalu ditunjukkan secarik kertas nama Paijo, usia 33 tahun, lokasi Musi Banyuasin.
Namun, petugas itu berkata, “Kertas ini akan saya berikan jika saja nanti malam hingga pagi izinkan aku bermalam di rumahmu. Dan jangan sampai ada yang tahu, jika diketahui maka aku akan batalkan semua…”
Paijo, alias Si Ijo, mengangguk-angguk tanda setuju. Hatinya diliputi perasaan campur aduk.
Di satu sisi, ia senang dengan impiannya memiliki tanah, rumah, dan kelak hasil kebunnya di tanah sendiri.
Namun, di sisi lain, dia harus merelakan istrinya untuk ‘berhubungan badan’ tiga kali dengan petugas yang ambisius itu.
Dan Paijem pun setuju. Katanya, “Asal kita punya tanah kelak untuk anak-anak kita, aku relakan semuanya…”
Dan malam itu.
Paijem, alias Si Jem, sudah bersiap. Petugas itu (Si Muka Iblis) tidak mengendarai motornya, melainkan berjalan kaki, membawa dua setel pakaian serta sarung.
Petugas itu disambut oleh sang tuan rumah. Disuguhkan aneka rebusan, kopi, dan rokok (rokok boleh berutang di warung Mpok Minah).
Duduk bersilalah petugas itu. Rebusan, kopi, serta rokok diisapnya. Waktu salat Isya pun dia abaikan, padahal jika di kantor gayanya bak seorang rohaniwan dengan segala nasihat-nasihat bijaknya.
Lalu, sepertinya dia sudah tidak sabar. Hari masih sore (pukul 19.30), dia pun ingin bergegas segera memulai niatnya.
Dengan ucapan yang terus terang, “Apakah istrimu sudah siap?” ujarnya. Si Ijo menjawab, “Dia sudah siap dari tadi.”
Memasuki kamar dengan kasur wangi, seprai baru, bantal baru, seakan-akan kamar pengantin.
Lampu teplok pun diredupkan. Mereka berciuman. Paijem tanpa reaksi sebab dia sungkan, karena tahu bahwa suaminya mengintip.
Namun, bisa saja ini bagian dari upaya suaminya untuk menghidupkan kembali gairah, sebab selama ini keintiman mereka sebatas kewajiban tanpa hasrat.
Berbisiklah Si Jem kepada petugas itu, “Aku sungkan sebab suamiku masih mengintip.”
“Ehm, baiklah,”
Keluarlah petugas itu dan memanggil Paijo, “Apakah kamu rela hari ini aku berhubungan dengan istrimu? Ingat, aku bisa membatalkan surat kepergianmu ke tanah transmigran!
Kalau kamu rela, maka baiknya kamu jangan mengintip… atau kamu jangan ada di area seputar rumah ini.
Pergi saja, jika kamu pergi mungkin kamu pun tenang. Pikirkan masa depanmu.” Dan Paijo pun pergi menuju warung Mpok Minah yang tutup jam 2 pagi.
Benar saja.
Selepas Paijo pergi, Paijem menunjukkan hasratnya. Mereka berciuman mesra. Bahkan tangannya pun merogoh celana petugas itu dan menyentuh bagian intimnya.
“Wow!” berdegap kagum Paijem sebab organ intim petugas itu besar. Lalu ia melayani petugas itu dengan mulutnya… dan mereka melakukan hubungan intim.

Selesai berhubungan, jeda rehat… lalu mulai lagi dengan tahapan yang lazimnya: berciuman, melayani dengan mulut.
Namun, kali ini petugas itu pun aktif menggelorakan hasrat di bagian dada Paijem, sekalipun bentuknya biasa saja. Lalu mencapai puncak kenikmatan.
“Apakah puas?”
“Belum,” seakan Paijem melepaskan ekspresi hasrat seksualnya.
Demikian juga petugas itu. Dan mereka berhubungan untuk kali ketiganya.
Lalu mencapai puncak kenikmatan. Lelah, dan mereka satu kamar tidur tanpa pakaian sehelai pun.
Paijo pulang jam 2 pagi. Dilihatnya pasangan itu tertidur. Lalu dia pun tidur di kamar belakang yang dekat dengan WC.
Azan Subuh mengingatkan akan salat, namun petugas itu terbangun lalu berbisik untuk mengajak berhubungan lagi dengan Paijem. Disambutnya spontan dengan mengangguk-angguk kepala.
Mereka berhubungan di pagi hari. Karena lelah, maka permainan tidak terlalu lama. Keduanya selesai mencapai puncak kenikmatan.
Namun Paijem berciuman dengan petugas itu relatif lama, diikuti tangan petugas itu meremas dada Paijem.
“Satu hari 4 kali berhubungan, belum pernah aku alami.”
Sangat kagum Paijem kepada petugas itu. Lalu petugas itu pun terpuaskan, “Baru kali ini aku benar-benar merasa puas.
Sepertinya Paijem pandai, baik saat memuaskan organ intimku dengan mulutnya, saat posisi di atas membuat aku candu dan ketagihan…” Keduanya sepertinya ingin terus bersama.
Selang 2 hari dari peristiwa tersebut, surat keluar dengan nomor girik, lokasi, ongkos, dan jadwal keberangkatan terbit.
Paijo melihat bahwa petugas itu komitmen, sesuai janjinya.
Selang waktu satu minggu, semua dipersiapkan dengan baik oleh Paijo. Namun, petugas itu yang ketagihan juga tidak bisa membiarkan Paijem tak disentuh.
Dia meminta, “Apakah diperkenankan satu minggu ini, sebelum berangkat ke Sumatera Selatan, kita menginap dua hari saja?” pintanya.
Rata-rata para transmigran mendapatkan dua hektar tanah dan setengah hektar untuk pekarangan rumah.
Petugas itu pun berjanji akan memberikan lagi 1 hektar tanah untuk Paijem, demikian janjinya.
Paijem tetap proaktif. Bahkan, kali ini ia sangat totalitas, apalagi dia tahu dijanjikan tambahan tanah 1 hektar untuknya, sehingga total 3,5 ha.
Maka, ‘hubungan khusus’ dengan petugas itu (Si Muka Iblis) dianggapnya sebagai bagian dari upaya membangun ekonomi keluarganya.
Petugas itu pun semakin terikat. Di sisa waktu yang ada, petugas itu terus dan terus ingin bersama Paijem… sampai kemudian dia banyak menjanjikan ini itu.
Lalu tanpa sadar motor, perhiasan, hingga tabungannya semua diberikan kepada Paijem.
Terlebih lagi malam sebelum pergi, Paijem memuaskan hasrat petugas itu dengan sangat piawai, hingga berkali-kali mencapai puncak.
Dan sebagai hadiah terakhir, diberikan cincin emas hasil dia meminta ‘sumbangan’ dari para transmigran. Total jika dirupiahkan sebesar 6 juta rupiah. Paijem pun senang. Paijo pun senang.
Tibalah mereka di wilayah transmigrasi.
Tanah yang dimiliki Paijo adalah tanah gambut. Seluruhnya 3,5 hektar. Paijo lemas. Impiannya sirna.
Sementara Paijem pun ikut sedih. Bahkan, Paijo pun makin galau serta marah, setelah diketahuinya bahwa Paijem hamil yang diyakini adalah anak dari petugas yang ambisius itu.
Paijo akhirnya menjadi buruh kelapa sawit. Tanah yang dimilikinya ditelantarkan, namun dia mempunyai rumah panggung.
Lalu anaknya pun lahir.
Dan kini setiap hari Paijem duduk di depan rumahnya yang berada tepat di sisi jalan raya sambil menyusui anaknya.
Bahkan tak jarang dengan sengaja ia memperlihatkan bagian dadanya untuk mengundang banyak mata memandang.
Dia melakukan itu terus-menerus, berharap kelak ada orang seperti dia, si Muka Iblis, yang memiliki pengaruh serta banyak memberikan hadiah serta uang.












