Kabar5News – Hari ini masyarakat, khususnya warga Nahdlatul Ulama (NU) memperingati Haul ke-16 Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Sosok Gus Dur berpulang ke pangkuan Sang Maha Pencipta pada 30 Desember 2009 atau 16 Tahun yang lalu.
Hari ini juga masyarakat, warga NU dan para pecinta nilai-nilai pluralisme memperingati kembali sosok beliau.
Gus Dur bukan hanya dikenang sebagai Presiden ke-4 Republik Indonesia, tokoh demokrasi, dan pejuang kemanusiaan, tetapi juga sebagai figur dengan selera humor khas yang cerdas, kritis, dan tak lekang oleh waktu.
Humor bagi Gus Dur bukan sekadar alat hiburan. Ia menjadikan humor sebagai cara menyampaikan kritik sosial, meredakan ketegangan politik, hingga menjembatani perbedaan pandangan.
Bahkan di tengah situasi serius, Gus Dur kerap “menyentil” dengan candaan yang membuat orang tertawa sekaligus berpikir.
Menariknya, banyak humor Gus Dur yang masih terasa relevan dan lucu hingga sekarang, terutama ketika dikaitkan dengan kondisi sosial, politik, dan kehidupan berbangsa hari ini.
Berikut deretan humor Gus Dur yang dikenal luas dan terus dikenang lintas generasi.
- Tiga Polisi Jujur di Dunia
Salah satu humor paling legendaris Gus Dur adalah tentang keberadaan polisi jujur di dunia.
Dalam ceritanya, Gus Dur menyebut bahwa ada tiga negara yang memiliki polisi jujur.
Namun, satu ada di Amerika Serikat (itu pun hanya satu orang), satu di Jepang (sudah pensiun), dan satu lagi di Indonesia yang kebetulan sedang sakit.
Humor ini terdengar sederhana, tetapi mengandung kritik tajam tentang sistem, integritas, dan realitas birokrasi.
Gus Dur menyampaikannya dengan tawa, bukan amarah, sehingga pesan tetap sampai tanpa menyulut konflik.
- Tuhan Tidak Perlu Dibela
Gus Dur pernah berujar, “Tuhan itu tidak perlu dibela, karena Dia Maha Kuasa. Yang perlu dibela itu manusia.”
Kalimat ini sering disampaikan dalam suasana santai dan disertai senyum khas Gus Dur.
Meski terdengar seperti candaan, pernyataan tersebut sejatinya mengandung pesan mendalam tentang toleransi, kemanusiaan, dan bahaya fanatisme berlebihan.
Humor Gus Dur kerap berada di batas tipis antara guyonan dan filsafat hidup.
- Soal Pintar dan Bodoh
Dalam salah satu cerita, Gus Dur menyebut bahwa orang pintar itu banyak, tapi orang jujur itu sedikit.
Lalu ia menambahkan dengan santai, “Kalau orang bodoh sih, jangan ditanya.”
Tawa pun pecah, karena Gus Dur seolah menyindir semua kalangan tanpa kecuali.
Humor ini mencerminkan gaya Gus Dur yang egaliter: tidak memposisikan diri lebih tinggi, justru menertawakan keadaan bersama-sama.
- Presiden dan Tukang Becak
Gus Dur pernah bercerita tentang seorang tukang becak yang ditanya soal presiden.
Ketika ditanya siapa presiden Indonesia, si tukang becak menjawab,
“Presidennya siapa saja boleh, yang penting becak saya tetap jalan.”
Humor ini menyentil realitas rakyat kecil yang sering kali tidak terlalu peduli pada elite politik, selama kebutuhan hidup mereka tetap terpenuhi.
Bermakna kritik tentang jarak antara kebijakan politik dan kebutuhan rakyat.
- Gus Dur dan “Doa yang Salah Alamat”
Gus Dur pernah bercanda bahwa banyak orang rajin berdoa, tapi doanya sering salah alamat.
“Doanya ke Tuhan, tapi kelakuannya ke setan.”
Candaan ini sering disampaikan Gus Dur sambil tertawa kecil, namun mengandung pesan moral yang kuat.
Kalimat atau jokes ini bermakna konsistensi antara ibadah dan perilaku sosial.
- Orang NU, Muhammadiyah, dan Polisi
Dalam satu humor terkenal, Gus Dur menceritakan:
Orang NU berdoa dulu baru bertindak.
Orang Muhammadiyah bertindak dulu baru berdoa.
Polisi? Datang setelah semuanya selesai.
Humor ini sering membuat audiens lintas organisasi tertawa karena disampaikan tanpa niat merendahkan.
- Gus Dur dan Menteri yang “Pintar”
Saat ditanya mengapa kabinetnya sering dianggap tidak solid, Gus Dur menjawab santai:
“Kalau semuanya pintar, nanti siapa yang mau bekerja?”
Candaan ini langsung menjadi bahan tertawaan media kala itu.
Ia sering kali memberikan kritik ini sebagai ego elite dan pentingnya kerja nyata, bukan sekadar kecerdasan akademik.
- Soal Mayoritas dan Minoritas
Dalam sebuah forum, Gus Dur menyindir,
“Mayoritas itu sering lupa kalau besok bisa jadi minoritas.”
Ucapan ini biasanya disampaikan dengan senyum, namun membuat audiens terdiam sesaat.
- Gus Dur dan Jabatan
Tentang jabatan, Gus Dur pernah berujar,
“Jabatan itu seperti kursi, kalau terlalu nyaman, susah berdiri.”
Kalimat ini sering dianggap guyon, padahal kritik halus tentang kekuasaan, kesadaran akan sementara-nya kekuasaan.
- Kritik Politik Lewat Candaan
Saat menjabat sebagai presiden, Gus Dur dikenal tetap melontarkan humor, bahkan ketika posisinya sedang disorot tajam. Ia pernah menyebut bahwa demokrasi di Indonesia itu seperti orang naik becak—jalannya pelan, kadang mundur, dan sering belok tiba-tiba.
Candaan ini menjadi refleksi tentang proses demokrasi yang tidak selalu lurus, tetapi tetap harus dijalani.
Humor Sebagai Jalan Damai
Gus Dur meyakini bahwa humor bisa menjadi alat perdamaian. Dalam banyak konflik, ia memilih melucu daripada memanaskan suasana.
Baginya, tawa adalah bahasa universal yang mampu menembus sekat agama, etnis, dan politik.
Inilah mengapa humor Gus Dur tidak pernah sekadar lucu, tetapi selalu sarat makna.
Konteksnya yang universal sebagaimana menyentuh persoalan manusia dan kekuasaan, bahasanya yang sederhana sehingga mudah dipahami lintas generasi, tidak menyakiti meski tajam tetap beretika dan penuh nilai kemanusiaan bukan sekadar ejekan, menjadikan humor Gus Dur tetap hidup sampai sekarang.
Di Haul Gus Dur ke-16 ini, mengenang humor-humornya bukan hanya soal tertawa, tetapi juga merawat ingatan kolektif tentang cara berbangsa yang santun, cerdas, dan berjiwa besar.
Gus Dur telah pergi, namun humornya terus hidup menjadi pengingat bahwa kebenaran bisa disampaikan dengan senyum, dan perbedaan bisa dirangkul dengan tawa.












