Kabar5News – Ibadah puasa Ramadan merupakan momen paling ditunggu seluruh umat muslim di seluruh dunia, terdapat berbagai keutamaan didalamnya, namun perlu diperhatikan asupan hidangan saat berbuka, alih-alih mengganti energi malah bisa menjadi masalah kesehatan kalau sembarangan.
Belum lama ini, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengingatkan supaya masyarakat lebih teliti dan cermat dalam memilih menu berbuka puasa.
Ia memberi sorotan tajam perihal kebiasaan konsumsi gorengan dan minuman manis yang berpotensi besar sebagai pemicu lonjakan gula darah setelah seharian menjalankan puasa.
Pada unggahan dalam akun media sosialnya, Budi Gunadi Sadikin atau BGS mengutarakan bahwa banyak orang menjadikan gorengan sebagai menu utama saat berbuka.
Kebiasaan menyantap tipe makanan tersebut setelah satu hari penuh berpuasa bisa berdampak terhadap kesehatan, khususnya terkait metabolisme tubuh.
Menurut pendapatnya, setelah puasa umumnya lambung kosong lalu kadar gula darah juga menurun. Kondisi tersebut menjadikan tubuh membutuhkan asupan energi saat waktu berbuka.
Tapi, perlu diingat bahwa Anda harus memperhatikan jenis makanan maupun minuman yang masuk. Jangan sampai gegara menyantap sesuatu gula darah langsung melonjak cepat.
Lebih lanjut, BGS menjelaskan kalau hidangan dengan karbohidrat kompleks memang dianjurkan. Karena bisa dicerna bertahap serta mampu memberi tambahan energi secara stabil.
Hal itu sangat berbeda sekali dengan minuman manis yang terkandung gula sederhana di dalamnya, bikin gula darah langsung naik drastis.
Saat tubuh mengalami peningkatan gula darah, Menteri Kesehatan mengungkapkan bahwa akan ada pembebanan kerja pankreas. Organ tersebut mau tidak mau akan bekerja ekstra dalam memproduksi insulin sebagai kadar gula tubuh.
Masyarakat disarankan untuk mengkonsumsi makanan sehat berupa jagung, kacang-kacangan, singkong sebagai hidangan pembuka.
Aneka jenis makanan tersebut bukan hanya menambah energi, tapi juga mempertahankan kestabilan gula darah.
Tidak lupa, ia kembali mengingatkan bahwa Ramadan sebaiknya dipakai sebagai momentum dalam menjaga pola makan, bukan memenuhi keinginan semata.
“Sekarang pilihannya, mau berbuka yang enak sesaat atau yang sehat untuk jangka panjang,” ungkapnya.
Rincian Risiko Buka dengan Gorengan dan Minuman Manis
Berbuka puasa dengan gorengan dan minuman manis berisiko tinggi menyebabkan lonjakan gula darah drastis, gangguan pencernaan, tenggorokan gatal, dehidrasi, serta obesitas karena tinggi kalori dan lemak trans.
Kombinasi menu tersebut membebani lambung yang kosong setelah 14 jam berpuasa.
Berikut adalah rincian risiko berbuka puasa dengan gorengan dan minuman manis berdasarkan berbagai sumber.
• Lonjakan Gula Darah & Diabetes
Minuman manis dan tepung pada gorengan adalah karbohidrat sederhana yang cepat menaikkan gula darah secara drastis, meningkatkan risiko diabetes tipe 2 jika menjadi kebiasaan.
• Masalah Pencernaan
Lemak tinggi pada gorengan lambat dicerna, memicu asam lambung naik (heartburn), perut kembung, dan sembelit.
• Risiko Kardiovaskular & Berat Badan
Lemak trans dan kolesterol tinggi dari minyak goreng (terutama yang digunakan berkali-kali) berisiko menyumbat pembuluh darah, menyebabkan penyakit jantung, stroke, dan kenaikan berat badan.
• Batuk dan Radang Tenggorokan
Senyawa akrolein pada minyak goreng dapat menyebabkan iritasi, gatal, dan batuk pada tenggorokan.
• Lemas dan Dehidrasi
Kadar natrium dan gula yang tinggi mengikat cairan tubuh, menyebabkan tubuh kekurangan cairan (dehidrasi) dan mudah lelah.
Ada alternatif menu lebih sehat, sebaiknya berbuka dengan air putih, kurma atau makanan yang dikukus untuk menambah energi tanpa memberatkan pencernaan.












