Kabar5News – Di tengah hiruk pikuk pembangunan dan laju modernisasi yang tak terhindarkan, sering kali kita lupa bahwa paru-paru bumi, hutan adalah fondasi bagi kelangsungan hidup kita. Jauh lebih dari sekadar kumpulan pohon, ekosistem hutan adalah rumah bagi jutaan spesies, penyuplai utama udara bersih yang kita hirup, dan benteng pertahanan paling vital melawan krisis iklim.
Betapa krusialnya peran hutan, dari mengatur siklus air, mencegah bencana alam, hingga menjadi gudang penyimpan karbon raksasa yang menjaga suhu planet tetap stabil. Mengabaikan keberadaan hutan sama saja dengan mengorbankan masa depan.
Ini adalah 2 warga negara Indonesia yang menyadari akan sangat pentingnya keberadaan hutan bagi kehidupan:
Kakek Suhendri
kisah Suhendri, dari Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, muncul sebagai pengingat akan pentingnya komitmen individu terhadap kelestarian lingkungan. Selama bertahun-tahun, Suhendri telah menjadi penjaga setia sebidang lahan miliknya seluas 1,5 hektar, bertekad mempertahankannya sebagai hutan yang rimbun dan alami, meskipun tekanan ekonomi dan godaan untuk menjualnya terus berdatangan.

Lahan 1,5 hektar yang dimiliki Suhendri ini terletak di daerah yang berpotensi besar untuk dikembangkan menjadi perkebunan monokultur atau area industri. Banyak tetangga telah beralih menanam komoditas ekspor yang menjanjikan keuntungan besar. Namun, bagi Suhendri yang merintis sendiri kepemilikan hutannya itu sejak tahun 1986, memandang lahannya bukan sebagai sumber daya yang harus dieksploitasi, melainkan sebagai rumah bagi keanekaragaman hayati dan paru-paru kecil bagi komunitas sekitar.
“Ini warisan untuk anak cucu, bukan sekadar uang” demikian ujar Suhendri.
Keputusan Suhendri untuk tidak mengalihfungsikan lahan menjadi perkebunan sawit atau tambang menjadikannya anomali sekaligus pahlawan konservasi lokal. Hutannya turut andil atas ketersediaan oksigen bersih di kotanya, yakni Tenggarong.
Ibu Rosita
Di tengah padatnya pembangunan vila dan resort di kawasan Puncak, Megamendung, Jawa Barat, sosok Ibu Rosita muncul sebagai mercusuar dedikasi lingkungan. Ia bukan seorang pejabat atau aktivis lingkungan profesional, melainkan seorang warga yang bertekad kuat untuk mengembalikan keseimbangan alam di daerah yang rentan bencana ekologis ini. Tekadnya terwujud dalam sebuah proyek ambisius: membangun dan melestarikan hutan seluas 30 hektar.

Lahan seluas itu, yang sebagian merupakan milik pribadi dan sebagian dikelola melalui kemitraan dengan masyarakat, kini telah bertransformasi dari lahan yang dulunya terdegradasi menjadi hutan primer buatan yang rimbun. Ibu Rosita memulai upaya ini lebih dari satu dekade lalu, didorong oleh keprihatinan akan deforestasi masif yang menyebabkan banjir dan longsor di kawasan Puncak.
“Saya melihat sendiri bagaimana air tak lagi terserap dan bukit-bukit menjadi gundul. Jika bukan kita yang memulai, siapa lagi yang akan menjaga rumah kita?“, tutur Ibu Rosita.
Berkat ketekunannya, hutan yang dibangun Ibu Rosita kini menaungi ribuan pohon dari berbagai jenis, termasuk tanaman konservasi yang berfungsi sebagai penahan air dan pencegah erosi. Aksi nyata ini menjadikannya figur sentral dalam upaya mitigasi bencana di Megamendung. Hutan seluas 30 hektar ini tidak hanya berfungsi sebagai penyerap karbon yang vital, tetapi juga telah menjadi habitat bagi kembali munculnya satwa liar lokal serta menjaga cadangan air bersih bagi masyarakat di kaki gunung.
Kisah Kakek Suhendri di Kutai Kartanegara dan Ibu Rosita di Megamendung adalah cerminan dari bentuk tanggung jawab. Mereka mengajarkan bahwa pelestarian alam adalah benteng pertahanan utama. Langkah nyata ini krusial agar tragedi bencana banjir, yang baru-baru ini melanda Sumatera, tidak terulang kembali. Hutan yang lestari adalah jaminan bagi keselamatan hidup dan masa depan kita semua.












