Kabar5News – Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Indonesia tidak selalu berlangsung dengan cara yang sama. Keragaman budaya di berbagai daerah membuat momen kelahiran Nabi Muhammad SAW hadir dalam bentuk tradisi yang berbeda-beda.
Tidak hanya diisi dengan pembacaan selawat dan pengajian, masyarakat di sejumlah wilayah memiliki tradisi khas yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ada telur yang diarak keliling kampung, pohon yang dihiasi uang, hingga tradisi mengayunkan bayi sambil melantunkan syair Nabi.
Melansir dari laman MetroTVNews, sejumlah tradisi tersebut menjadi contoh bagaimana unsur budaya lokal berpadu dengan peringatan keagamaan di Indonesia. Berikut lima di antaranya:
1. Endhog-Endhogan – Banyuwangi
Masyarakat Banyuwangi, khususnya Suku Osing dan sejumlah kelompok masyarakat lainnya, memiliki tradisi Endhog-Endhogan.
Tradisi ini menggunakan telur yang telah dihias dan ditancapkan pada batang pisang yang juga dihias. Batang pisang tersebut kemudian diarak berkeliling kampung sebelum telur dibagikan kepada masyarakat.
Menariknya, telur dalam tradisi ini memiliki makna tersendiri. Tiga lapisannya, yakni kulit, putih telur, dan kuning telur, dimaknai sebagai Iman, Islam, dan Ihsan.
Batang pisang yang digunakan sebagai tempat menancapkan telur juga memiliki filosofi. Sifat pohon pisang yang tetap tumbuh meski berkali-kali dipotong dimaknai sebagai simbol pantang menyerah.
2. Mulud Care – Lombok
Di Lombok, perayaan Maulid Nabi memiliki tradisi yang cukup panjang melalui Mulud Care.
Jika umumnya perayaan Maulid berlangsung dalam waktu singkat, tradisi ini digelar selama satu bulan, mulai 12 Rabiulawal hingga 12 Rabiulakhir.
Selama perayaan, masyarakat menyiapkan berbagai hidangan untuk disantap bersama keluarga dan warga sekitar. Rangkaian acara kemudian ditutup dengan roah maulud, yakni makan bersama yang dapat diikuti sanak saudara, tetangga, fakir miskin, hingga anak yatim.
Tradisi ini tidak hanya menjadi bentuk kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW, tetapi juga menjadi sarana mempererat silaturahmi dan kebersamaan masyarakat.
3. Bungo Lado – Padang Pariaman
Beranjak ke Padang Pariaman, Sumatera Barat, terdapat tradisi Bungo Lado yang secara harfiah berarti bunga cabai.
Namun, dalam perayaan Maulid Nabi, Bungo Lado bukanlah bunga cabai sungguhan. Tradisi ini berupa pohon hias yang dipenuhi uang hasil sumbangan sukarela masyarakat.
Uang tersebut kemudian dirangkai menjadi sebuah pohon dan diarak berkeliling kampung sebelum ditempatkan di masjid.
Tradisi Bungo Lado menjadi gambaran semangat gotong royong dan kemurahan hati masyarakat dalam memperingati Maulid Nabi.
4. Cokaiba – Halmahera Tengah
Ada pula tradisi yang memiliki nama cukup unik, yakni Cokaiba dari masyarakat Patani dan Weda, Halmahera Tengah, Maluku Utara.
Cokaiba berarti topeng setan. Dalam pelaksanaannya, masyarakat mengenakan topeng tersebut sembari melakukan pertunjukan tari.
Meski namanya terdengar menyeramkan, makna tradisi ini justru berkaitan dengan kegembiraan atas kelahiran Nabi Muhammad SAW. Masyarakat juga mengiringinya dengan zikir dan selawat yang dilakukan semalam suntuk.
Tradisi tersebut menjadi salah satu bentuk ekspresi budaya masyarakat dalam menyambut Maulid Nabi.
5. Baayun Maulid – Kalimantan Selatan
Sementara di Kalimantan Selatan terdapat Baayun Maulid, tradisi yang berkembang di Desa Banua Halat, Tapin.
Setiap 12 Rabiulawal, masyarakat berkumpul di Masjid Keramat Al Mukarramah untuk mengikuti prosesi tersebut. Tradisi ini memiliki sejarah yang menarik karena awalnya merupakan ritual syukuran atas kelahiran bayi.
Setelah Islam berkembang di masyarakat Kalimantan, tradisi tersebut kemudian beradaptasi menjadi kegiatan mengayunkan bayi sambil melantunkan syair Al-Barzanji atau selawat Nabi.
Baayun Maulid kemudian dimaknai sebagai simbol kasih sayang, keselamatan, serta harapan agar sang anak mendapatkan keberkahan dalam kehidupannya.
Tradisi Berbeda, Makna yang Sama
Kelima tradisi tersebut memperlihatkan betapa beragamnya cara masyarakat Indonesia memperingati Maulid Nabi. Bentuknya berbeda-beda, mulai dari telur berhias, pohon uang, penggunaan topeng, hingga mengayunkan bayi.
Namun, keberagaman tersebut memiliki benang merah yang sama, yakni mengungkapkan rasa syukur atas kelahiran Nabi Muhammad SAW sekaligus memperkuat hubungan antarmasyarakat.
Perpaduan antara nilai keagamaan dan budaya lokal inilah yang membuat peringatan Maulid Nabi di Indonesia memiliki karakter yang berbeda di setiap daerah.
Tradisi tersebut juga menjadi bagian dari kekayaan budaya Nusantara yang terus diwariskan, sekaligus menunjukkan bagaimana masyarakat menjaga nilai kebersamaan melalui momentum keagamaan.










