Kabar5News – Dunia perfilman Indonesia saat ini tengah berada di masa keemasannya. Namun, pernahkah Anda bertanya-tanya kapan dan bagaimana tradisi layar lebar ini dimulai? Jauh sebelum teknologi CGI dan distribusi digital mendominasi, sejarah mencatat sebuah tonggak penting pada tahun 1926 melalui film berjudul “Loetoeng Kasaroeng”.
​Meskipun mengangkat cerita rakyat Sunda yang kental dengan budaya lokal, film produksi pertama di Hindia Belanda ini sebenarnya dibidani oleh dua orang berkebangsaan Belanda, yaitu G. Kruger dan L. Heuveldorp. Keduanya mendirikan perusahaan bernama Java Pacific Film yang berlokasi di Bandung.
Kala itu, ambisi mereka adalah menciptakan film layar lebar yang dapat dinikmati oleh masyarakat luas, bukan sekadar dokumentasi pendek atau film impor dari Amerika (Hollywood) yang mulai masuk ke pasar lokal.
Pemilihan cerita Loetoeng Kasaroeng bukan tanpa alasan. Legenda tentang Sanghyang Guruminda yang turun ke bumi dalam wujud kera hitam demi mencari cinta sejati adalah kisah yang sangat populer di kalangan masyarakat Jawa Barat.
​Menariknya, film ini melibatkan talenta-talenta lokal yang luar biasa. Para pemerannya merupakan kerabat dari Bupati Bandung saat itu, Wiranatakusumah V. Hal ini dilakukan untuk memberikan kesan autentik dan memastikan gerak-gerik serta tata krama yang ditampilkan sesuai dengan tradisi kaum bangsawan Sunda pada zamannya.
Produksi film ini tentu tidak semudah sekarang. Mengingat statusnya sebagai film bisu (silent movie), narasi hanya disampaikan melalui gerakan tubuh yang ekspresif dan teks penjelasan di sela-sela adegan. Film ini pertama kali diputar pada 31 Desember 1926 di bioskop Elita dan Majestic, Bandung.
Meski secara teknis masih sangat sederhana dengan kualitas gambar hitam putih yang bergetar, Loetoeng Kasaroeng berhasil menarik perhatian masyarakat. Film ini menjadi bukti bahwa Hindia Belanda memiliki potensi besar dalam industri kreatif, meskipun saat itu infrastruktur pendukungnya masih sangat minim.












