Kabar5News – Musim mudik Idul Fitri 2026 telah tiba. Jutaan pemudik kembali memadati ruas Tol Trans Jawa untuk merayakan kemenangan di kampung halaman. Adakalanya di tengah perjalanan pemudik harus berhenti sejenak di rest area untuk sekedar mengusir rasa kantuk dan lelah. Namun, citra rest area yang sekadar tempat parkir dengan toilet seadanya kini telah bergeser.
Bagi para pemudik yang melintasi Jawa Tengah, beristirahat tak lagi sekadar melepas lelah, melainkan sebuah pengalaman rekreasi. Hal itu berkat kehadiran rest area berkonsep modern dan historis yang fasilitasnya setara dengan pusat perbelanjaan di kota besar.
Dua titik yang menjadi lokasi beristirahat atau Rest Area yang dimaksud adalah Resta Pendopo KM 456 Salatiga di ruas Tol Semarang-Solo dan Heritage Banjaratma KM 260B di ruas Tol Pejagan-Pemalang.
Keduanya menawarkan lebih dari sekadar pengisian bahan bakar; mereka menawarkan destinasi wisata di tengah perjalanan panjang.
Resta Pendopo KM 456, Mal Megah di Kaki Gunung

Terletak di Salatiga, Resta Pendopo KM 456 sering dijuluki sebagai rest area tercantik di Indonesia. Arsitekturnya yang ikonik terdiri dari lima bangunan utama yang melambangkan lima gunung di Jawa Tengah. Yang paling memukau adalah keberadaan skybridge atau jembatan penghubung yang melintang di atas jalan tol, menghubungkan rest area di sisi jalur A dan jalur B.
Memasuki area ini, pemudik akan disambut dengan deretan gerai fashion ternama, gerai kopi internasional, hingga pujasera yang menyajikan kuliner lokal legendaris dengan standar kebersihan mal.
Di tengah teriknya perjalanan mudik 2026, area terbuka hijau dan pemandangan Gunung Merbabu yang asri menjadikan tempat ini lokasi favorit untuk berfoto. Fasilitas toiletnya pun dirancang eksklusif, luas, dan sangat nyaman bagi keluarga yang membawa anak kecil atau lansia.
Rest Area Heritage Banjaratma KM 260B, Sentuhan Sejarah Pabrik Gula

Bergeser ke arah barat, tepatnya di Brebes, terdapat Rest Area Heritage Banjaratma KM 260B. Berbeda dengan konsep modern di Salatiga, Banjaratma memanfaatkan bangunan cagar budaya eks Pabrik Gula (PG) Banjaratma yang didirikan pada tahun 1908.Dinding batu bata merah yang dibiarkan terekspos memberikan nuansa industrial retro yang sangat instagramable.
Meski bernuansa tua, fasilitas di dalamnya sangat modern. Pemudik bisa menemukan berbagai UMKM unggulan, mulai dari telur asin khas Brebes hingga kerajinan tangan lokal, yang ditata apik layaknya tenant di mal besar.
Salah satu daya tarik utamanya adalah keberadaan wahana permainan anak dan masjid dengan arsitektur unik yang juga menggunakan material bata merah.
Kehadiran pepohonan besar di sekitar gedung tua ini memberikan kesejukan alami bagi para pemudik yang ingin mendinginkan mesin kendaraan maupun melepas penat sebelum melanjutkan sisa perjalanan menuju arah Jakarta.
Mengingat popularitas kedua tempat ini, pastikan Anda memantau kepadatan melalui aplikasi navigasi. Jika area parkir sudah penuh, jangan memaksakan diri untuk masuk demi kelancaran arus lalu lintas dan kenyamanan perjalanan Anda.












