Kabar5News – Konflik di Papua yang melibatkan kelompok Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB), belakangan ini kian marak dan menjadi perhatian publik.
Terlebih ketika kelompok separatis bersenjata ini secara resmi menyatakan perang terhadap militer Indonesia di wilayah adat La Pago, Papua.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh juru bicara Organisasi Papua Merdeka (OPM), Sebby Sambom, melalui keterangan tertulis pada Senin (19/5/2025).
TPNPB merupakan sayap militer dari Organisasi Papua Merdeka (OPM), yang memperjuangkan kemerdekaan Papua dari Indonesia.
Di tengah memanasnya kondisi di Papua, peneliti Lembaga Kajian Geopolitik dan Bisnis (LKGB), Ferdian Kebe menyoroti peran media.
Salah satu yang mencuri perhatian Ferdian adalah sejumlah pemberitaan yang dimuat sebuah media lokal Papua yang bernama suarapapua.com.
Dalam pengamatannya, Ferdian melihat ada ketimpangan dalam pemberitaan yang dilakukan oleh media online tersebut.
Menurutnya, media suarapapua.com tidak menyajikan berita dan informasi sesuai dengan kaidah-kaidah jurnalistik.
Salah satunya adalah mengenai keberimbangan berita (cover both sides) yang merupakan kaidah jurnalistik yang paling mendasar.
“Kami melihat sejumlah pemberitaan mengenai konflik di Papua yang dimuat media suarapapua.com hanya mengutip pernyataan dari TPNPB, tanpa adanya konfirmasi ke pihak TNI atau pemerintah,” ujar Ferdian dalam pernyataannya, Minggu (25/5/2025).
Menurut Ferdian, tak adanya keberimbangan dalam pemberitaan suarapapua.com adalah sesuatu yang fatal dan bisa membahayakan ruang publik.
Ia khawatir, pemberitaan-pemberitaan tersebut akan berdanpak negatif dan dapat memperkeruh kondisi di Papua.
“Kalau pemberitaan seperti ini diteruskan, suasana di Papua akan semakin memanas dan membuat warga Papua malah berbalik membenci pemerintah Indonesia dan TNI,” tutur Ferdian.
“Padahal meminta konfirmasi pemerintah dan TNI bukanlah hal yang sulit, konfirmasi bisa dilakukan dengan menggunakan telepon selular, selain itu tiap wilayah di Papua tentu memiliki Komando Distrik Militer (Kodim),” tambahnya.
Dengan gaya pemberitaan yang demikian, Ferdian menyatakan, tidak tertutup kemungkinan suarapapua.com memiliki agenda tersembunyi karena cenderung mengakomodasi kepentingan-kepentingan TPNPB-OPM.
“Media suarapapua.com bukan suara Papua yang sebenarnya, namun terindikasi proxy asing yang ingin terus menurus menciptakan kondisi yang tidak kondusif,” ungkap Ferdian.
Ferdian juga mengatakan, dalam sejumlah pemberitaannya, media tersebut juga seakan menutup mata dari sejumlah aksi teror yang dilakukan oleh TPNPB-OPM.
Faktanya, dalam beberapa bulan terakhir, serangkaian serangan yang dilakukan oleh TPNPB telah menimbulkan korban jiwa di kalangan masyarakat Papua.
Salah satu insiden yang menjadi perhatian adalah penyerangan terhadap tenaga pendidik dan tenaga kesehatan di Distrik Anggruk, Kabupaten Yahukimo.
Selain itu, TPNPB juga terlibat dalam aksi penembakan terhadap warga sipil, termasuk tukang ojek dan pekerja tambang.
“Serangan tersebut tidak hanya menyebabkan korban jiwa tetapi juga menghambat pembangunan dan kesejahteraan masyarakat Papua, dan tentunya membuat warga takut menjalankan aktivitas sehari-hari,” ungkap Ferdian.
Selain aksi kekerasan fisik, lanjut Ferdian, TPNPB juga aktif menyebarkan propaganda melalui media sosial untuk mempengaruhi opini publik.
Dalam pengamatannya, TPNPB-OPM sering kali memutarbalikkan fakta dan menyebarkan informasi yang menyesatkan guna mendapatkan dukungan dari masyarakat internasional.
“Mereka lantas menuding TNI-Polri ada di balik serangkaian terror tersebut. Hal ini semakin memperumit upaya pemerintah dan TNI dalam menjaga stabilitas di Papua, karena itu saya imbau masyarakat lebih selektif dalam memilih media, utamakan media yang tak terindikasi proxy,” tutup Ferdian.