Kabar5News – Dunia ilmu pengetahuan pernah dibuat gempar ketika sebuah makhluk yang dianggap telah punah puluhan juta tahun lalu tiba-tiba muncul di jaring nelayan. Makhluk itu adalah Coelacanth, ikan purba yang sering dijuluki sebagai “fosil hidup”.
Menariknya, Indonesia menjadi satu dari sedikit tempat di planet ini di mana sang legenda purba tersebut masih berenang bebas.
Selama bertahun-tahun, ilmuwan meyakini bahwa Coelacanth telah punah bersama dinosaurus pada akhir periode Kapur, sekitar 66 juta tahun yang lalu. Namun, sejarah berubah pada tahun 1938 ketika spesies pertama ditemukan di Afrika Selatan.
Kejutan besar berikutnya datang dari perairan Indonesia. Pada tahun 1997, seorang peneliti bernama Mark Erdmann melihat ikan aneh di pasar ikan Manado Tua, Sulawesi Utara. Penemuan ini mengonfirmasi adanya spesies baru yang secara ilmiah dinamai Latimeria menadoensis, atau yang secara lokal dikenal oleh nelayan sebagai Ikan Raja Laut.
Apa yang membuat Coelacanth begitu istimewa berbeda dengan ikan laut modern pada umumnya? Jawabannya terletak pada anatomi tubuhnya yang tidak banyak berubah selama ratusan juta tahun. Cirinya antara lain:
• Sirip Berdaging (Lobe-finned): Coelacanth memiliki sirip yang berpasangan dan memiliki pangkal berdaging, menyerupai tungkai hewan darat. Ilmuwan menduga ikan ini adalah “sepupu dekat” dari nenek moyang hewan berkaki empat (tetrapoda).
• Sensor Listrik: Di bagian moncongnya terdapat organ rostal yang berfungsi untuk mendeteksi mangsa melalui gelombang elektrik di dalam kegelapan laut dalam.
• Masa Hidup yang Panjang: Penelitian terbaru menunjukkan bahwa ikan ini bisa hidup hingga usia 100 tahun dengan masa kehamilan yang sangat lama, mencapai 5 tahun.
Di Indonesia, Coelacanth menghuni gua-gua bawah laut di kedalaman 150 hingga 200 meter. Perairan Sulawesi Utara, terutama di sekitar Taman Nasional Bunaken dan perairan Maluku, menjadi habitat utama mereka karena struktur geologinya yang curam dan berbatu, menyediakan tempat persembunyian yang ideal dari arus kuat.
Meskipun menyandang status sebagai hewan purba, keberadaan Coelacanth saat ini terancam. Karena pertumbuhannya yang lambat dan jumlah anak yang sedikit, populasi mereka sangat rentan terhadap gangguan lingkungan maupun aktivitas penangkapan ikan yang tidak disengaja (bycatch).
Pemerintah Indonesia telah menetapkan Coelacanth sebagai satwa yang dilindungi secara penuh melalui peraturan perundang-undangan.
Kehadiran ikan ini menjadi pengingat bahwa lautan Indonesia masih menyimpan misteri besar yang belum sepenuhnya terpecahkan.












