Kabar5News – Presiden Prabowo hari ini, 10 Desember 2025, dijadwalkan melakukan kunjungan kenegaraan ke Rusia. Ini merupakan pertemuan ke-3 selama setahun terakhir antara kedua pemimpin itu. Kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo Subianto ke Rusia kali ini, bertepatan dengan peringatan 75 tahun hubungan diplomatik kedua negara, menjadi momentum penting untuk meninjau kembali sejarah panjang dan dinamis persahabatan Indonesia dengan Federasi Rusia (sebelumnya Uni Soviet). Hubungan ini telah mengalami beberapa kali pasang surut, namun landasan kemitraan selalu berhasil ditemukan kembali.
Hubungan Indonesia dan Rusia mencapai puncaknya di era Presiden Soekarno pada periode 1956-1962. Uni Soviet, sebagai pendukung vokal kemerdekaan Indonesia sejak awal di forum PBB, memberikan bantuan yang sangat besar dan bersifat non-blok, yang saat itu sangat dibutuhkan Indonesia yang baru merdeka.
Uni Soviet memberikan dukungan kukuh dalam perjuangan pembebasan Irian Barat melalui pasokan persenjataan dan alutsista modern dalam jumlah besar, menjadikan militer Indonesia salah satu yang terkuat di Asia. Bantuan lainnya adalah dalam bentuk keuangan untuk pembangunan proyek-proyek monumental
Dilanjutkan dengan kunjungan kenegaraan Soekarno ke Moskow (1956) dan kunjungan Sekretaris Pertama Partai Komunis Uni Soviet Nikita Khrushchev ke Indonesia (1960), kian mempererat persahabatan personal antar pemimpin.
Namun demikian hubungan ini sempat meredup setelah pergantian rezim di Indonesia. Pada Era Orde Baru di bawah Presiden Soeharto, kedekatan dengan Uni Soviet sempat merenggang akibat isu komunisme, meskipun secara sosial-budaya dan di beberapa bidang (seperti pengajaran Bahasa Indonesia di Rusia) masih terjaga.
Pemulihan hubungan diplomatik mulai terjadi di akhir masa Orde Baru, ditandai dengan kunjungan Presiden Soeharto ke Moskow pada tahun 1989. Pasca bubarnya Uni Soviet pada 1991, Federasi Rusia modern terus berupaya memperkuat kembali kemitraan dengan Indonesia.
Presiden Vladimir Putin sendiri telah bertemu dengan empat Presiden Indonesia sebelumnya (Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, Susilo Bambang Yudhoyono, dan Joko Widodo), menunjukkan komitmen jangka panjang.
Kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Rusia, baik saat menjabat sebagai Menteri Pertahanan maupun sebagai Presiden, menandai babak baru dalam hubungan bilateral, yang diarahkan menuju Kemitraan Strategis yang lebih luas dan multidimensional.
Pada pertemuan dengan Presiden Vladimir Putin, beberapa fokus penting telah disepakati yakni :
- Peningkatan Kerja Sama Ekonomi: Peningkatan signifikan investasi Rusia di Indonesia (kenaikan 273% year-on-yearpada 2023) dan percepatan pembahasan Perjanjian Perdagangan Bebas (FTA) RI-Eurasian Economic Union yang ditargetkan selesai tahun ini.
- Dukungan Geopolitik: Presiden Prabowo menyampaikan apresiasi atas dukungan Rusia terhadap keinginan Indonesia untuk menjadi anggota penuh BRICS, mempertegas posisi Indonesia di panggung global.
- Kerja Sama Sektor Strategis: Selain melanjutkan kerja sama teknik militer dan alutsista, kedua negara juga menyepakati Deklarasi Kemitraan Strategis yang mencakup bidang pendidikan, ekonomi digital, investasi, dan penguatan konektivitas.
- Hubungan People-to-People: Lonjakan jumlah turis Rusia ke Indonesia (naik 117,6% pada 2023) dan peningkatan jumlah mahasiswa Indonesia di Rusia menunjukkan eratnya kontak antar-masyarakat.
Presiden Prabowo menegaskan bahwa Federasi Rusia adalah mitra penting bagi Indonesia di berbagai bidang. Kunjungan ini merupakan upaya konkret untuk memfasilitasi kerja sama strategis yang bermanfaat bagi kesejahteraan kedua bangsa, membawa Indonesia ke pentas dunia dengan mengedepankan prinsip politik bebas-aktif Indonesia.












