Kabar5News – Di tengah riuh rendah media sosial belakangan ini, publik sempat dihangatkan oleh perdebatan mengenai seorang penerima beasiswa LPDP yang dengan bangga menunjukkan momen anaknya mendapatkan kewarganegaraan Inggris.
Narasi “pindah haluan” ini memicu diskusi panjang mengenai balas budi kepada negara dan makna nasionalisme di era global. Di tengah sinisme tersebut, adalah seorang Andrew Kalaweit dapat menjadi semacam antitesis yang menyejukkan.
​Andrew adalah putra sulung dari Chanee Kalaweit, pria berkebangsaan Prancis yang telah menghabiskan puluhan tahun hidupnya untuk melindungi Owa (Gibbon) di Kalimantan melalui Yayasan Kalaweit. Ibunya, Nur Pradawati, adalah perempuan asli Kalimantan yang turut mendampingi perjuangan sang ayah.
Tumbuh besar di tengah hutan, kecintaan Chanee terhadap alam Borneo tidak hanya turun melalui genetika, tetapi juga melalui gaya hidup. Sejak kecil, Andrew sudah akrab dengan suara hutan, teknik bertahan hidup, dan misi penyelamatan satwa liar. Baginya, hutan Kalimantan bukanlah tempat yang menyeramkan, melainkan rumah yang harus dijaga dari ancaman deforestasi dan perburuan liar.
Peluang Paspor Prancis yang Dilepaskan
​Sebagai anak dari ayah berkebangsaan Prancis, Andrew memiliki privilese dan peluang yang sangat besar untuk memilih menjadi warga negara Prancis. Secara logika praktis, memiliki paspor Uni Eropa menawarkan kemudahan akses ke berbagai belahan dunia dan standar hidup yang berbeda.
Namun, Andrew justru mengambil jalan yang berbeda. Ia memilih tetap menjadi Warga Negara Indonesia (WNI). Keputusan ini bukan tanpa dasar; ia merasa memiliki tanggung jawab moral untuk melanjutkan perjuangan ayahnya di bumi Kalimantan. Baginya, masa depan konservasi Indonesia ada di tangan anak muda lokal yang peduli, bukan sekadar relawan asing yang datang dan pergi.
Setelah menyelesaikan pendidikan sekolah menengahnya, Andrew sempat menghabiskan waktu selama satu tahun di Eropa untuk belajar dan memperluas wawasan. Banyak yang mengira ia akan menetap di sana atau setidaknya mencari karier di dunia internasional. Nyatanya, panggilan hutan Kalimantan jauh lebih kuat.
Setelah masa studinya usai, ia segera kembali ke rumah kayunya di tengah hutan. Kepulangannya menegaskan bahwa pendidikan yang ia dapatkan di luar negeri hanyalah amunisi tambahan untuk memperkuat gerakan pelestarian hutan di tanah kelahirannya.
Influencer dengan 2,5 Juta Subscriber
​Andrew juga dikenal sebagai kreator konten yang visioner. Melalui kanal YouTube-nya yang kini telah mencapai lebih dari 2,5 juta subscribers, ia membagikan kehidupan uniknya: mulai dari berkemah sendirian di tengah hutan selama 24 jam hingga edukasi mengenai satwa yang dilindungi.
Kontennya tidak hanya menghibur, tetapi juga berfungsi sebagai diplomasi lingkungan. Ia menunjukkan keindahan sekaligus kerapuhan alam Indonesia kepada dunia. Dengan visual yang estetis dan narasi yang tulus, ia berhasil menarik minat generasi Z untuk kembali melirik isu lingkungan.
​Kisah Andrew Kalaweit memberikan perspektif baru di tengah polemik kewarganegaraan yang sempat viral. Di saat ada yang menganggap kemakmuran di luar negeri adalah tujuan akhir, Andrew justru melihat Indonesia, dengan segala tantangan lingkungannya, sebagai tempat pengabdian tertinggi.












