Kabar5News – Sekarang kita menuju ke wilayah Indonesia timur, yakni Provinsi Gorontalo. Memasuki fase sepuluh malam terakhir Ramadhan, suasana di Gorontalo berubah seketika.
Masyarakat di “Bumi Serambi Madinah” ini sibuk menata halaman rumah dan ruas jalan mereka. Inilah momen di mana tradisi Tumbilotohe dimulai. Sebuah festival cahaya yang bukan sekadar estetika, melainkan manifestasi spiritual dan warisan leluhur yang tak lekang oleh zaman.
Secara etimologi, Tumbilotohe berasal dari 2 kata, Tumbilo berarti memasang dan Tohe berarti lampu. Tradisi ini diperkirakan sudah ada sejak abad ke-15. Dahulu, pelita yang terbuat dari damar digunakan untuk menerangi jalan bagi masyarakat yang hendak menuju masjid untuk melaksanakan salat Lailatul Qadar dan iktikaf.
Seiring waktu, media penerangannya berevolusi dari damar ke minyak kelapa, lalu minyak tanah, hingga kini banyak yang menggunakan lampu hias listrik. Namun, esensi “terang” tersebut tetap terjaga sebagai simbol penyambutan malam seribu bulan.
Estetika Budaya yang Memukau
Festival Tumbilotohe biasanya digelar selama tiga malam terakhir menjelang Idul Fitri. Di sepanjang jalan protokol hingga gang-gang kecil, ribuan lampu minyak yang diletakkan di atas kerangka bambu (arku) menyala serentak.
Arku-arku ini sering kali dibentuk menyerupai replika masjid, kaligrafi, atau kitab suci Al-Qur’an. Pemandangan paling spektakuler biasanya terlihat di kawasan hamparan sawah atau lapangan terbuka di pinggiran kota.
Ribuan pelita yang disusun rapi menciptakan konfigurasi cahaya yang megah, memantul di permukaan air dan menciptakan atmosfer magis yang sulit ditemukan di tempat lain di Indonesia. Tak heran, momen ini selalu menjadi magnet pula bagi wisatawan.
Meskipun kini Tumbilotohe telah bertransformasi menjadi festival budaya berskala besar, masyarakat Gorontalo tidak melupakan akar religiusnya.
Cahaya lampu dianggap sebagai simbol kebersihan jiwa setelah sebulan penuh berpuasa. Ada filosofi mendalam bahwa untuk menjemput kemenangan, batin manusia harus “terang” dan bersih dari kegelapan dosa.
Selain itu, tradisi ini mempererat gotong royong. Pemasangan lampu dilakukan secara gotong-royong oleh warga, mulai dari anak-anak hingga orang tua.
Kemeriahan ini tidak lantas mengalihkan fokus dari ibadah utama; justru, cahaya pelita menjadi penyemangat bagi jamaah untuk tetap istikamah memenuhi masjid di malam-malam penentuan.
Tumbilotohe merupakan bukti bagaimana budaya Nusantara mampu menyatu secara harmonis dengan ajaran Islam. Dengan tetap melestarikan tradisi ini, Gorontalo tidak hanya menjaga identitas daerahnya, tetapi juga memperkaya identitas nasional Indonesia sebagai bangsa yang religius namun tetap menghargai estetika budaya.
Bagi Anda yang ingin merasakan syahdunya malam-malam terakhir Ramadhan dalam balutan tradisi, boleh jadi Gorontalo adalah destinasi yang tepat. Di sana, Anda akan belajar bahwa kemenangan Idul Fitri memang layak disambut dengan suka cita yang ribuan cahaya yang berpendar terang.










