Kabar5News – Belum lama ini, salah satu Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) di Indonesia mendapat sorotan tajam publik. Pasalnya, ada pejabat negara yang mengunjungi salah satu pabrik di daerah Subang. Lalu, terekam dalam kanal YouTube miliknya.
Konten yang mendadak viral tersebut bermula dari kekagetan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi atau KDM, terkait sumber air baku AMDK pada pabrik tersebut.
Dalam akun YouTube Kang Dedi Mulyadi Channel, ia bertanya pada salah satu pekerja mengenai asal bahan baku air mineral dalam kemasan yang sudah ada sejak tahun 1973 tersebut.
“Ngambil airnya dari sungai?,” tanya Dedi Mulyadi.
“Airnya dari bawah tanah pak,” ucap pekerja.
Mendengar perkataan jujur dari pekerja, sontak membuat KDM terlihat seperti ekspresi terkejut. Demi mengobati rasa penasarannya, ia kembali bertanya tentang air yang digunakan diambil dari bawah tanah, bukan permukaan.
Pekerja kembali menjelaskan bahwa air memang diambil dari dalam tanah, menggunakan teknik khusus yaitu sumur bor.
“Dikira oleh saya dari air permukaan. Dari air sungai atau mata air. Berarti kategorinya sumur pompa dalam?,” tanya Dedi Mulyadi.
Dari situlah membuat publik tercengang sekaligus kaget, karena selama ini AMDK tersebut berhasil membuat citra dalam benak konsumen berkaitan dengan kemurnian serta kealamian sumber air pegunungan.
Nah, saat istilah sumur bor muncul, publik jadi ketar-ketir hingga khawatir akan keamanan maupun kualitas air yang selama ini melekat sebagai air pegunungan.
Fakta Sumber Air Pakai Sumur Bor
Teknik sumur bor yang diterapkan oleh salah satu produk AMDK Indonesia ini, berbeda jauh dengan sumur bor rumahan.
Metode pengambilan air yang dilakukan oleh salah satu AMDK tersebut memang menggunakan pengeboran, tapi prosesnya tidak sederhana seperti rumahan.
Pihak perusahaan AMDK mengambil air yang berasal dari lapisan tanah sangat dalam, kalau menurut istilah teknis disebut akuifer dalam atau deep aquifer.
Jadi berbeda jauh antara sumur bor dalam dan air tanah dangkal.
Kalau air tanah dangkal umumnya punya kedalaman hanya belasan meter, rentan kontaminasi dari aktivitas permukaan.
Sedangkan air tanah dalam selalu berada di kedalaman ratusan meter, terlindungi lapisan batuan kedap air yang fungsinya sebagai filter alami selama bertahun-tahun.
Lapisan tersebut yang menjaga air selalu murni dan bebas polutan. Selain itu, pengambilan air dari bawah tanah ternyata memang mengikuti aturan berlaku dan menjadi standar global.
Bahkan, pengambilan air bawah tanah diperbolehkan untuk AMDK yang mendapat label “spring water” maupun air dari mata air.
Penjelasan Pihak Perusahaan Terkait
Sorotan publik yang kian memanas, membuat pihak perusahaan buka suara. Berdasarkan penelusuran, mereka mengungkapkan bahwa penggunaan metode pengeboran untuk mengakses akuifer dalam termasuk praktik standar industri untuk memperoleh air dengan kualitas tinggi.
Sumur bor bukan indikasi bahwa airnya tidak alami. Namun, ini adalah teknologi untuk mencapai sumber air murni yang terlindungi di perut bumi.
Setiap sumber dipilih melalui proses riset ketat selama minimal satu tahun oleh tim ahli geologi dan hidrogeologi, bahkan melibatkan studi dari universitas terkemuka seperti UGM dan Unpad.
Air diambil dari akuifer pada kedalaman 60 hingga 140 meter, sebuah lapisan terbukti tidak bersinggungan dengan sumber air yang dipakai masyarakat.
Setelah diambil, air melewati serangkaian proses pengawasan ketat tanpa sentuhan tangan manusia. Proses ini memastikan produk AMDK memenuhi standar mutu dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan Standar Nasional Indonesia (SNI).
Beda Kualitas Air dari Sumur Bor dan Mata Air
Sebagai tambahan informasi dan pembaca tidak gamang lagi dalam memahami kualitas air dari sumur bor beserta mata air, berikut ulasan singkat tentang perbedaannya.
1. Air Sumur Bor
Keunggulannya lebih jernih, sumbernya dari lapisan tanah lebih dalam yang terlindungi terhadap kontaminasi pada permukaan.
Kekurangannya berupa kualitas air tidak selalu terjamin, sangat bergantung pada kedalaman dan lokasi, perlu uji laboratorium untuk keamanannya, mengandung mineral tertentu seperti zat besi atau mangan tinggi, potensi tercemar bakteri E.Coli maupun logam berat.
2. Air Mata Air
Keunggulannya secara alami lebih murni dan jernih, kandungan mineral dan garam seimbang. Karena terbentuk alami dari proses alam bawah tanah.
Kekurangannya adalah perlu pemantauan rutin untuk memastikan kualitas terjaga, sumber mata air jika tidak dikelola dengan baik akan tercemar, apalagi dekat kawasan industri atau pemukiman padat.












